============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================


Sebab apa yang menjadikan Deppen dibenci kehadirannya kembali coba kita
renungkan kembali;
1.Apakah Deppen adalah menjadi alat pembungkam kebebasan berpendapat,dan
berbicara?
2.Apakah Deppen menjadi tukang bungkam Penerbitan Surat Khabar/Koran
3.Apakah jadi tukang sensor di media Electronic ? seperti Radio.
4.Apakah jadi tukang sensor TV media dan lain sebagainya.
5.Apakah mempersulit masuknya berita dari luar baik melalui
TV,Majalah,Koran,dan Film.
6. Apakah memang enggak ada gunanya sehubungan dengan kemajuan Teknologie.
7. Atau ada sebab lain sehingga tidak disenangi kehadirannya.


                                                                                       
                  
                    "Hardjono. Rayner"                                                 
                  
                    <[EMAIL PROTECTED]        To:     <[EMAIL PROTECTED]>    
                  
                    ic.edu.au>                        cc:                              
                  
                    Sent by:                          Subject:     [debritto] Apakah 
Kementerian         
                    [EMAIL PROTECTED]         Penerangan masih diperlukan?     
                  
                                                                                       
                  
                                                                                       
                  
                    08/01/01 11:41 AM                                                  
                  
                    Please respond to debritto                                         
                  
                                                                                       
                  
                                                                                       
                  




===========================================Mailinglist debritto :
[EMAIL PROTECTED]
===========================================
AB:
Ini sama dengan penolakan terhadap Deppen, tidak berdasar logika ada
atau
tidak adakah manfaat dan pekerjaan yang harus diemban oleh insitusi itu.
Saya melihat penolakan itu atas dasar dendam juga. Adakah yang melihat
Deppennya Pak Yunus Yosfiah, yang melepas hampir semua kendali thd pers?
Hari Minggu jam 02.00 saya memonitor radio Elshinta yang sedang menerima
pendapat2 per telepon soal Deppen. Beberapa yang saya dengan, bapak2
yang
sedang dan pernah tinggal didaerah yang jauh dari keramaian, minta agar
soal Deppen itu dilihat secara jernih. Mereka mengalami keadaan
terisolasi
akan berita, koran bisa mereka terima seminggu-sebulan sesudah tanggal
terbitnya. Basi, kan. Apalagi koran Jakarta. Mereka perlu ada media
penyampai informasi yang cukup update dari siapa saja. Apakah koran mau
dengan rugi mengunjungi pelosok? Saya ingat tahun 60-an rombongan Gudeg
Yogya milik Deppen DIY rajin mengunjungi desa kami, memutar filem
cerita,
penerangan dlsb. Dan mereka selalu kami tunggu kehadirannya, karena
kadang
mereka membawa Basiyo, Tembong, Togen dkk.
Come on! Berpikir dengan jernih. Juga jangan lupa angka 77.

RH:
Saya suka sekali diajak berpikir jernih oleh AB! Ijinkanlah saya
mencoba...
Menolak dilahirkannya lagi Deppen tidak mesti harus atas dasar dendam
(juga). Dalam berpikir mengenai perlu atau tidaknya Deppen, tentu saja
ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, dan asalan-alasan itu harus
cukup masuk akal, bukan asal dendam thok. [Tolong ditunjukkan apakah ada
pokok pikiran saya di bawah ini yang tidak masuk akal]:
1 Kalau saya dibesarkan (misalnya, orang tua bekerja di Deppen) dan
diberi manfaat oleh lingkungan kebudayaan Deppen, maka sulit bagi saya
untuk menerima hilangnya pelayanan Deppen, habis hidup dan kenikmatan
kenangan saya bersumber dari situ. Tetapi kalau dinas/pelayanan ini
sungguh dapat dibuktikan sebagai tidak perlu, maka penghapusan pelayanan
ini tidak dapat dielakkan; memang beberapa hal di dunia ini bisa
dibuang, terutama kalau hal itu merugikan sebagian besar masyarakat,
atau terutama kalau ada masalah yang tidak 'fair' (melanggar HAM).
2 Alasan saya untuk mendukung bahwa Kementerian Penerangan sebaiknya
ditiadakan, berdasarkan atas pertimbangan, bahwa pemerintah yang
bercokol, seperti yang telah terbukti di masa yang sudah-sudah, dapat
memanipulasikan apa yang ingin dinyatakannya melalui organ resmi atau
penyalur yang dikuasainya. Pemberangusan hanya bisa terjadi karena
adanya Kempen! Para penerbit di masa lalu selalu gentar mendengar
peringatan atau perintah dari atas (Pemerintah), bahwa suatu pernayataan
atau pemberitaannya dianggap tidak fair (fair menurut siapa, hayo!)
3 Apakah masalah koran sampai ke desa-desa yang terisolasi berupa
satu-satunya sumber untuk orang biasa dapat memperoleh informasi? Saya
sangsi akan hal ini. Beraneka ragamnya pemberitaan dalam pers swasta
yang tak disensor oleh Pemerintah justru dapat membuat orang lebih
bersikap kritis, tidak semua yang dicetak di koran mesti benar. Ini
adalah pendidikan yang bagus sekali. Para juru penerangan di jaman
lampau boleh jadi hanya akan merupakan benalu/parasit yang tidak
dibutuhkan lagi di jaman ini. Fungsi radio dan televisi tidak dimasukkan
dalam pertimbangan ini, padahal peranan mereka besar sekali. Bukankah
media ini telah masuk ke desa-desa pula?
4 Semakin bebas pers dan media, semakin baik pula seharusnya sikap
toleransi semua sektor masyarakat. Ini dapat terjadi kalau Pemerintah
membiarkan orang menyampaikan berita (dengan segi pandangan yang
berbeda, atau penafsiran berbeda-beda) tanpa diharu-biru oleh Deppen.
Ada gejala represif dalam cara Pemerintah di masa lalu mengendalikan apa
yang dapat diberitakan. Di banyak bagian dunia lain pengendalian media
masa makin longgar, sensur (pemeriksaan isi) diserahkan kepada kontrol
terbuka (self-regulating). Saya kira tidak banyak lagi negara di dunia
ini yang menggunakan Kementerian Penerangan.

Mudah-mudahan pikiran saya ini tidak langsung dicap pro ini atau kontra
itu, sebagaimana lazim di dalam hidup perpolitikan di Indonesia
akhir-akhir ini!

Salam!









Kirim email ke