============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================


Kalau Pak Ray memberi disclaimer (='Mudah-mudahan pikiran saya ini tidak
langsung dicap pro ini atau kontra
itu,') diakhir tulisan, saya memberi disclaimer sekarang. Saya tidak
mempersoalkan Deppen tetap dibunuh atau dihidupkan lagi. Saya hanya
mempersoalkan alasan-alasannya atau cara menimbang Deppen harus tetap mati
atau hidup. Saya tidak memposisikan setuju atau tidak setuju.
Saya merunut item-itemnya Pak Ray saja:
1. Wah, ini bukan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sama persis
dengan alasan karena pernah disakiti oleh Deppen, maka lebih baik tetap
bubar saja.
2. Di masa-masa Deppen menjadi alat untuk memberangus dan membredel pers,
siapa yang memperalat? Topnya adalah presiden. Jadi kenapa lembaga
kepresidenan tidak dibubarkan saja. Lembaga ini yang paling bertanggung
jawab atas segala yang terjadi apakah baik apakah buruk. Polisi, tentara,
Pak Lurah, Pak Carik, semua menjadi alat penguasa untuk membredel
'kehidupan' yang tidak dikehendaki pemerintah. Dibubarkan semua? Tidak toh!
Tapi alat-alat itu diperbaiki, diganti orangnya kalau itu tergantung pada
orang.
3. Nah begini, dong. Ada pekerjaan: penyampaian informasi kepada semua
warga negara. Siapa yang bisa dan harus mengerjakan? Jangan ngomong
pelosoknya Jakarta, bohong. Jangan ngomong pelosoknya Jawa, ngapusi.
Ngomong nun jauh di luar Jawa. You name it! Harus sampai dan harus murah.
WOng ndeso mosok kon tuku koran. Jadi siapa: televisi, radio? Oke. Bisa
murah, bisa mahal. Coveragenya gimana? Pasti mereka tidak mau gratis soal
coverage ini. TV dan radionya pemerintah. Hiya, memang tugasnya pemerintah
untuk menyampaikan informasi kepada seluruh warga negara. Dan harus tanpa
distorsi baik yang merugikan maupun menguntungkan. Harus Deppen? ya belum
tentu. Poin saya adalah, pertimbangannya harus berdasar manfaat: kalau
memang tidak ada manfaatnya ya memang harus tetap tidak ada. Tapi kalau
memang ada manfaatnya ya jangan karena sakit hati lalu demo.
4. Benar Pak Ray, saya setuju pers bebas dengan gaya De Britto (= bebas
tapi bertanggung jawab). Gaya represif pemerintah masa lalu, tidak hanya
bisa dilakukan dengan Deppen. Bisa lewat Jaksa, polisi, walikota atau apa
saja yang bisa melangkahi hukum. Soalnya bukan obeng itu bisa dipakai untuk
buka sekrup atau untuk menusuk perut, tetapi siapa yang memegang obeng itu.
Kalau yang pegang saya ya cuma untuk buka sekrup, paling jelek untuk sogok
upil. Tapi kalau yang pegang Hercules, bisa keluar darah.
Saya mungkin salah menilai bahwa orang-orang yang tidak setuju Deppen
dihidupkan adalah karena dendam, tapi nuansa yang saya tangkap alasan yang
dipakai tidak/kurang berazas manfaat.

Salam,

AB/71
ps: sakjane aku ora tahan diskusi berpanjang-panjang, tapi aku kangen karo
Pak Ray. Dia itu kaya gangsir: ora gelem metu nek ora diuyuhi nganggo
diskusi ngene iki.

Kirim email ke