Matinya Hermeneutika Buddhis

Namo Buddhaya,

Tulisan ini diilhami oleh perbincangan saya dengan Sdr. Daniel Johan 
beberapa waktu yang lalu mengenai hermeneutika Buddhis. Malam ini, 
saya teringat kembali perbincangan itu dan menghubungkannya dengan 
berbagai ironi yang melanda Buddhisme.

1.Buddhisme adalah "agama" yang sangat ilmiah dan sejalan dengan 
sains. Tetapi mengapa perkembangan ilmu pengetahuan tidak dimulai di 
negara-negara Buddhis? Mengapa para ilmuwan pertama pertama seperti 
Sir Isaac Newton, Galileo Galilei, Nicolaus Copernicus, dan lain 
sebagainya tidak terlahir di negara Buddhis? Memang benar bahwa di 
Tiongkok ada ilmuwan2 yang beragama Buddha, seperti Yixing, namun ia 
tidaklah merumuskan suatu teori yang benar-benar baru.

2.Buddhisme merupakan suatu "agama" yang sarat dengan pengetahuan 
mengenai ilmu kejiwaan (psikologi), tetapi mengapa para psikolog 
tidak lahir di kalangan Buddhis. Tokoh-tokoh psikologi besar seperti: 
Wertheimer, Sigmund Freund, Jung, Eysenck, Adler, dan lain sebagainya 
tidak terlahir di kalangan Buddhis.

3.Buddhisme adalah ajaran yang sarat dengan kandungan muatan 
filosofi. Tetapi mengapa tidak ada filosof Buddhis modern yang 
disebut2? Kalau kita membaca karya-karya modern tentang filsafat, 
maka yang akan kita dapatkan adalah nama2 seperti: David Hume, 
Schopenhauer, George Santayana, dan lain sebagainya. Sementara itu 
dari kalangan Buddhis masih belum ada filsuf ternama yang mendunia.

Setelah merenungkannya sejenak, saya teringat dengan apa yang 
diucapkan oleh Sdr. Daniel Johan bahwa hermeneutika Buddhis telah 
mati semenjak zaman Nagarjuna. Sejak saat itu, para ilmuwan Buddhis 
tidak "berani" lagi membuat dobrakan dengan tafsiran-tafsiran 
barunya. Kalaupun ada, tetapi tafsiran2 itu tidak cukup "kuat" untuk 
menggoncangkan dunia Buddhis. Inilah yang nampaknya menyebabkan 
kekalahan kita dibandingkan dengan agama-agama lain yang telah 
mencapai kemajuan luar biasa dalam bidang hermeneutika.
Naskah Tipitaka/ Tripitaka cenderung disakralkan dan jarang dikaji 
serta ditafsirkan sesuai dengan kemajuan dan tuntuan zaman. Bila ini 
tidak kita lakukan maka kita akan makin banyak lagi mengalami ironi-
ironi seperti di atas.

Metta,

Tan (3.11-2005, pukul 23.15)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke