Response yang menarik Pak Hari... Benar-benar faktual....

Semoga kita bisa belajar dari masa lalu ya, Pak...
Sebenarnya Bangsa kita sendiri memang mampu, hanya butuh faktor 
tambahan--Konsisten.
Konsisten dari-waktu-ke-waktu..., Konsisten di Hati Nurani, luar-dalam...

Kalau melihat Change Management pembuatan Undang-undang dan Peraturan 
Pemerintah, sepertinya konsepnya sudah bagus. Hanya saja, mungkin yang sering 
ngga nyambung adalah Penyediaan/Penggalian Data untuk "Dasar dari Perubahan" 
itu.
Kalau Data-nya sudah salah, bagaimana-pun baiknya Algoritma Pengolahan Data, 
hasilnya tentu berbeda.

Saya sampai hari ini masih kagum dengan McDonald di Sarinah Thamrin. Sudah 
hampir 20 tahun ini, demikian bagusnya pengambilan Data, "rasanya" belum pernah 
kelihatan ada orang yang tidak kebagian tempat duduk pada saat jadwal makan 
paling sibuk sekali-pun. Diluar bulan Puasa--terutama Berbuka Puasa. 
Saya tahu mereka punya sistem untuk menentukan kombinasi jumlah meja, kursi dan 
jenis makanan yang dievaluasi dari waktu-ke-waktu.

Perbankan kita sudah memulai Change Management cukup lama, walaupun masih dalam 
"Mode Copy-Paste". Terkadang tidak punya jiwa untuk melakukan perubahan kepada 
Change Management Proses mereka sendiri.
Nuansa Top-Down masih sangat kental. Muaranya..., Profit Oriented vs 
Development Agent tidak imbang.


Namun, dari semua itu Saya yakin, kita belum terlambat melakukan persiapan 
untuk setiap transisi yang terstruktur.

Sukses ya Pak Hari dan Rekan....

Salam buat Bung Putra di Batam, semoga sukses juga. 
Ada pepatah, katanya; "Tidak Hanya Satu Jalan ke Roma" 
Tidak hanya satu jalan ke Batam, bisa Harbour Bay, Batam Centre, Sekupang, 
Punggur dan Pelabuhan Tikus... :) :D


Salam,
Sulzer Jusman








________________________________
From: "hnoe...@indonet" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 26, 2009 9:09:26 AM
Subject: Re: [eGovIndonesia] layanan single Window dalam terapan e-Gov dan      
dampaknya (1)

   
Bener pak Sulzer,
Namun kalau boleh saya koreksi, hal tersebut bukan lagi gelombang CHAOS 
atas e-Gove Indonesia dimasa yang akan datang , tetapi sudah terjadi 
puluhan tahun, namun tidak pernah di ungkap secara publik.
Kegagalan Manajemen Perubahan dapat dibuktikan bila pemerintah 
melaksanakan analisa kinerja atas seluruh aplikasi yang pernah dibeli 
oleh Pemerintah Pusat dan Daerah, minimal 5 tahun terakhir, saya yakin 
pasti jumlahnya akan sangat besar dan mengejutkan, Dan bila diusut 
penyebabnya diyakini sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan 
implementasi akibat ketidak mampuan para pejabat negara pengguna sistem 
dalam melaksanakan Change Management secara bersama-sama.

Fakta tersebut sebenarnya baru saya ketahui sejak saya terlibat dalam 
kegiatan pemerintahan di tahun 2001, sehingga akhirnya mendorong saya 
sejak 3 tahun lalu fokus membantu mendampingi beberapa kegiatan 
reformasi birokrasi berbasis TIK secara non komersial untuk beberapa 
proyek pemerintah, Semuanya diawali keprihatinan saya melihat kenyataan 
banyak uang rakyat dan hutang rakyat yang terhambur sia sia akibat 
kesalahan tersebut dan juga bukan karena faktor korupsi, dan lebih 
banyak kegagalan terjadi akibat belum memahami manajemen risiko atas 
perubahan dan tidak memahami bagaimana melaksanakan Manajemen Perubahan. 
Ketidak pahaman tersebut menyebabkan selama ini banyak Pejabat yang 
masih berpendapat bahwa manajemen perubahan bisa dilakukan oleh pihak 
lain dan Vendor banyak mengecoh mereka dengan memberikan solusi TurnKey. 
Untuk itu saya melakukan kegiatan pendampingan selama ini semata untuk 
mendorog dan menyadarkan bagaimana pentingnya Manajemen Perubahan harus 
dilakukan dalam melaksanakan reformasi birokrasi pemerintahan.

Masalahnya dalam implementasi INSW yang saya hadapi saat ini, dapat 
dinyatakan 80 % adalah masalah non teknis, dan semuanya tergantung 
solusinya kepada keberhasilan manajemen perubahan, Padahal dalam terapan 
INSW tersebut pada awalnya tidak ada perubahan proses internal pada 
masing masing Instansi peserta, yang berubah lebih kepada proses baru 
antar instansi yang belum pernah ada sebelumnya. Hal tersebut yang 
menyebabkan saya selama ini menolak pendapat konsultan asing bahwa untuk 
memenuhi standar single window dan effisiesnsi layanan maka arsitektur 
sistem harus di ubah dengan menyatukan seluruh entitas dalam kesatuan 
sistem, karena menurut mereka kurang layak bila untuk melaksanakan 
single window hanya dilaksanakan dengan membuat penghubung antar pulau 
sietem antar instansi yang sudah ada sebagaimana kita terapkan saat ini. 
Meski mereka anggap apa yang kita lakukan bertentangan dengan 
best-practice, saya bisa bayangkan kalau semua sistem layanan publik 
harus diganti, siapa yang mampu menjalankan maanjemen perubahan 
sekaligus minimal di 8 kementerian /lembaga peserta NSW.

Bila kita urai perubahan dibalaik INSW sebagai contoh, akan terlihat 
banyak sekali perubahan yang harus di Manage oleh para Pejabat, yang 
semuanya membutuhkan kewenangan dan tidak mungkin diserahkan kepada 
Vendor, dan harus berjalan baik, tidak boleh gagal karena bisa 
menyebabkan disaster dalam layanan publik meski baru dalam lingkup 
terbatas..
Mulai dari perubahan akibat standarisasi data yang digunakan bersama, 
berlanjut ke perubahan prosedur yang ujungnya bisa membutuhkan perubahan 
atas Undang Undang yang berlaku.
Mempersiapkan prosedur test dan kasus2 transaksi untuk proses user 
acceptance langsung oleh pengguna yang dianggap sangat mengetahui 
kebutuhan operasi, untuk kemudian menjadi nara sumber analisas perubahan 
dan antisipasi dampak teknis terapan..
Dilanjutkan dengan sosialisasi setelah perubahan disetujui, yang tidak 
bisa hanya dengan mengumpulkan para karyawan dan pejabat untuk diberikan 
arahan saja, tapi harus dilengkapi dengan sarana simulasi untuk bisa 
langsung hans-on bagaimana cara kerja baru mereka, sekaligus menyerap 
apa saja perubahan peraturan yang harus di ubah akibat perubahan cara 
proses tersebut,
Untuk kelayakan penggunaan, diperlukan pengujian bagi para calon 
pengguna yang sudah dilatih sebelum, sebelum mereka dapat menerima 
password yang akan menjadi indentitas pribadi secara hukum daru setiap 
pejabat dalam melaksanakan operasi, dengan kemungkinan risiko adanya 
karyawan yang tidak mampu untuk mendapat tugas dengan mempergunakan 
sistem yang baru (alhamdullilah karena rata2 pengguna terbanyak usia 
muda jadi prosentasinya sangat kecil).
Selanjutnya perencanaan proses implementasi dari proses paralel, 
disaster recovery procedure, dalam lingkup terapan terbatas, untuk 
melihat dampak perubahan dan antisipasi peraturan baru yang harus dibuat.
Dan setelah proses trial terbatas dan dapat diperkirakan dampaknya, maka 
mulai ada kebutuhan perubahan baru,  mulai dari jam kerja layanan yang 
bisa menjadi 24 jam, terapan tingkat layanan bagi setiap tahap proses 
yang harus ditaati oleh pengguna (standard service level by Task), 
terapan manajemen kinerja untuk pengukuran effisiensi berdasar data 
operasi, sebagai dasar untuk menerapkan kebijakan Reward (perubahan 
sistem renumerasi & penilaian prestasi) & terapan Penalty (dasar sanksi 
atas penyimpangan yang bisa dibuktikan dengan data) bila terjadi 
penyimpangan proses & prosedur.
Belum lagi timbul banyak kebijakan baru setelah sistem baru mulai 
diaplikasikan, yang untuk perubahannya harus bisa diselesaikan dan 
dijalankan sesuai yang tertulis dalam kebijakan tersebut.

Wah pokoknya banyak sekali perubahan yang harus di Manage, sangat 
menantang, dan merupakan sesuatu yang tidak mudah dan tidak dapat 
dijalankan oleh satu atau sekelompok kecil orang yang ditugasi, namun 
harus dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pejabat di semua lini.

Dari hasil penelitian saya atas aplikasi yang telah di buat oleh 
pemerintah, dimana banyak diantaranya telah dibeli mahal dari kontraktor 
asing dengan pinjaman luar negeri, ternyata banyak sekali yang tidak 
berhasil di implementasikan. Hal tersbeut terjadi bukan karena 
softwarenya tidak baik, tetapi karena dalam kontrak dapat diartikan 
seakan akan implementor yang harus melakukan manajemen perubahan, 
padahal mereka memang melakukan hanya sebatas wilayah teknologi saja, 
Susahnya banyak Pejabat para pemberi kerja yang masih berpikir bahwa 
dengan turnkey project keberhasilan implementasi merupakan tanggung 
jawab Vendor, Dan atas pekerjaan tersebut, bila kita periksa pada 
kontrak kerja (umumnya dengan Vendor asing), akan banyak ditemukan 
kalusula tersembunyi yang bisa melepaskan tanggung jawab Vendor atas 
keberhasilan implementasi, sehingga meski sistem tidak jalan , mereka 
bisa melenggang pulanhg ke negaranya tanpa bisa dikenakan Penalty.

Kiranya Bahasan ini bisa menjadi inspirasi bagi rekan rekan yang 
menyusun beberapa petunjuk pelaksana tata kelola TIK maupun mereka yang 
harus melaksanakan reformasi Birokrasi, agar bisa memasukkan unsur 
kewajiban melaksanakan manajemen perubahan dan protap minimal yang harus 
dilakukan dalam pelaksanaanya.

Wass,
Hari S.noegroho


Sulzer wrote:
> 
> Yup..., Gelombang Chaos berikutnya di eGov Indonesia itu -- "CHANGE 
> MANAGEMENT"
> Ini yang selalu 'coba' saya ingatkan.... :)
>
> Mudah-mudah- an Rekan-rekan di Pemerintahan sudah mulai memikirkan 
> mengenai hal ini...
> Jangan sampai terjadi Disaster...
>
> IT MATURITY MODEL di Indonesia itu tidak unik..., bahkan sangat sama 
> dan kongruen dengan yang telah ada selama ini.... Mudah-mudah- an juga, 
> dari IT Maturity Model itu, kita bisa meng-antisipasi apa yang ada di 
> depan....
>
>
> Salam,
> Sulzer Jusman
>
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> *From:* putra <pu...@batam. go.id>
> *To:* egov-indonesia@ yahoogroups. com
> *Sent:* Monday, August 24, 2009 11:49:26 PM
> *Subject:* Re: [eGovIndonesia] layanan single Window dalam terapan 
> e-Gov dan dampaknya (1)
>
> 
>
> Yth Bpk Hari S Noegroho,
>
> Kalau baca p
>
> .
>
> 
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG - www.avg.com 
> Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.65/2324 - Release Date: 08/24/09 
> 12:55:00
>
> 

   


      

Kirim email ke