Dibenak saya eKTP kok spt ATM, begitu masuk mesin, kita bisa ngapa2in. 
Teknologinya nggak tinggi2 amat alias remeh-temeh, wong banyak dr kita yg sdh 
terbiasa. meskipun demikian, saya nggak setuju kalau eKTP akan direalisasikan 
dalam waktu dekat. Masalahnya, soal budaya alias change culture.

Apa aparat yg berkecimpung dgn eKTP sdh siap? Termasuk siap mental utk tdk 
memanfaatkannya spt keproyekan yg lain, atau sdh siap utk tidak melakukan hit 
and run?

Menurutsaya, lanjutkan dulu masalah SIN dan integrasi datanya. Setelah ini 
jalan dengan baik dalam arti sistem, aparat serta masyarakat sudah siap, baru 
kita tingkatkan dengan eKTP.

BTW, saya "punya" Kartu PNS Elektronik yg dikeluarkan oleh Badan Kepegawaian 
Negara. Kartu ini ada CHIPnya, Barcode dan Foto saya. Kayaknya canggih deh. 
Namun nasib kartu ini hanya "nyempil" di Dompet saja. Wong saya nggak ngerti 
gunanya kartu ini. Saya yakin proyek ini juga menggunakan anggaran pemerintah 
yg cukup gede? Wah perlu audit TI nih.

--- Pada Sel, 29/12/09, hnoe...@indonet <[email protected]> menulis:

Yrh Rekan2,
Kunci masalah SIN adalah pada validasi pencegahan duplikasi data 
kependudukan dan relasi , dan ini semua lebih bergantung kepada 
prioritas dan strategi implementasi yang dipergunakan. Karena data 
kependudukan sebenarnya sudah ada dan data tersebut merupakan object 
utama yang harus di verifikasi. sehingga SIN bisa dilaksanakan tanpa 
harus investasi besar namun bisa dengan hasil besar. Sebagaimana 
dilaksanakan oleh TimNas INSW, kegiatan dilaksanakan mulasi dari 
harmonisasi data hingga terlaksana integrasi sistem multi entitas tanpa 
membongkar sistem yang sudah ada, investasi ada hanya unfuk tambahan 
aplikasi dan hardware yang diperlukkan. yang lain lebih banyak kepada 
beban tambahan biaya komunikasi antar goverment agency.

Dalam SIN menurut pendapat saya yang penting dilaksanakan agar data bisa 
valid adalah konsolidasi informasi, bukan membongkat semua dan 
melaksanakan terapan biometric. Terapan biometric dilaksanakan bertahap 
bila diperlukan.

Lain halnya kalau ternyata kita ikuti arahan konsultan asing, yang dari 
beberapa pengalaman sy pribadi selalu menganggap indonesia merupakan 
negara terbelakang yang sistem dan sarana ICTnya tidak layak guna, 
sehingga dalam perencanaannya di asumsikan semuanya dibuat dari awal , 
ya pasti akan terjadi belanja besar tanpa karena semua asset dan sistem 
yang sudah dibangun dan dimiliki tidak akan dipergunakan lagi.

Sudah saatnya Menkominfo melakukan uji konsep secara publik, agar tidak 
terjeblos dalam kolusi internasional untuk mendorong kebijakan yang 
salah dan akan menjerumuskan Indonesia dalam penambahan jumlah hutang 
luar negeri.

Sudah waktunya kita tidak gegabah membuat solusi yang salah, yang pasti 
kebijakan SIN tetap akan bisa jalan tanpa belanja besar dan diyakini 
bisa dilakukan tanpa membeli Hardware dan software baru. 
Saya yakin potensi nasional kita mampu melaksanakan sehingga alokasi 
anggaran lebih banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan value added dari 
jasa lokal , sehingga mendorong perekonomian dalam negeri.

Wass.
Hari S,noegroho 




      &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com&quot;

Kirim email ke