Wahduh, filosopinya tinggi banget, Pak.
Semoga ada perubahan, Pak. Meskipun sulit diharapkan cepat. Thanks

Sukses selalu,
Ibenk

On Dec 30, 2009, at 3:23 PM, Sulzer wrote:

> 
> Satu lagi, inisiatif Adi Bing Slamet sejak 30 Tahun lalu..., "e-Copot Gigi 
> Mak Copot"...
>  
> Mas Ibenk,
> Kalau sekarang merasa bakal repot, yaahhh..., semua kembali lah ke "KELAS"...
> Duduk sama-sama lagi...
> Minta "Juragan dari Juragan"-nya bercerita tentang Visi-visi-nya... 
> Lalu saling bicarakan untuk buat Arsitektur Bersama, atau Renovasi Arsitektur 
> sebelumnya....
> ...Berbicaralah pada "Pasangan Hidup"-mu....
> ...Jangan hanya selalu bilang "Punya"-ku pasti Bagus... "Punya"-ku lebih 
> Besar....
> ..."e-Ternyata"-nya selama ini, dibuka sama-sama....
>  
> Mudah-mudah-an bisa jadi se-jiwa-se-penangungan.... 
>  
> e-Terima Kasih....
>  
> e-Salam,
> Sulzer Jusman
>  
> 
> From: ibenk <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Wed, December 30, 2009 11:17:47 AM
> Subject: Re: [eGovIndonesia] Proyek e-KTP Habiskan Rp 60 Triliun! : jangan2 
> "cuma" Rp 6 Triliun :D
> 
>  
> Tenang, Pak. Sebentar lagi akan ada e-SIM A/B/C, e-KIS/M (kartu Identitas 
> Siswa/Mahasiswa) , e-NPWP, e-KIP (Kartu Identitas Pasien), e-Karpeg (Kartu 
> Pegawai PNS), e-Perpustakaan, e-Passport,  e-KK (Kartu Keluarga), e-KIeN 
> (Kartu Identitas eks Narapidana), e-KIPM (Kartu Identitas Penduduk Miskin), 
> e-TKI (Tenaga Kerja Indonesia), e-NRP (Nomor Registrasi Prajurit), dan ber e- 
> e- lainnya. 
> 
> Pendukung dari itu, akan ada belanja network e-KTP, network e-SIM, network 
> e-KIS/M, dst. Kemudian, ada belanja biometrik dari setiap sektor itu. Lalu, 
> semua departemen akan sibuk ngurusi jaringan error, verifikasi data, belanja 
> TIK, dll. Duplikasi akan selalu berulang.
> Seandainya semua itu bisa jadi satu, cukup satu team yang bekerja dan 
> sektor-sektor menjalankan operasionalnya, mungkin akan lebih efektif dan 
> efisien. Tidak seperti sekarang, Dinas P&K di daerah sibuk ngurusi tower 
> rubuh, DInas Kesehatan sibuk ngurusi server error, Bappeda sibuk ngurusi 
> database yang berbeda-beda hasil dari setiap sumber, Dinas Kependudukan dan 
> Capil sibuk "montang-manting" lantaran jaringan ke kecamatan dan kelurahan 
> putus, dll. Lupa bahwa TI merupakan pendukung dan sudah ada lembaga di pusat 
> & daerah yang mengurusinya. Setiap fungsi lembaga bisa konsen ke core 
> businessnya. 
> Sayangnya, kebijakan terintegrasi itu tidak masuk dalam program 100 hari KIB. 
> Apakah ini indikasi e-gov masih belum menjadi media populasi politis? Thanks
> 
> Sukses selalu,
> Ibenk
> 
> 
> On Dec 30, 2009, at 9:54 AM, bachrudin effendi wrote:
> 
>>  
>> Dibenak saya eKTP kok spt ATM, begitu masuk mesin, kita bisa ngapa2in. 
>> Teknologinya nggak tinggi2 amat alias remeh-temeh, wong banyak dr kita yg 
>> sdh terbiasa. meskipun demikian, saya nggak setuju kalau eKTP akan 
>> direalisasikan dalam waktu dekat. Masalahnya, soal budaya alias change 
>> culture.
>> 
>> Apa aparat yg berkecimpung dgn eKTP sdh siap? Termasuk siap mental utk tdk 
>> memanfaatkannya spt keproyekan yg lain, atau sdh siap utk tidak melakukan 
>> hit and run?
>> 
>> Menurutsaya, lanjutkan dulu masalah SIN dan integrasi datanya. Setelah ini 
>> jalan dengan baik dalam arti sistem, aparat serta masyarakat sudah siap, 
>> baru kita tingkatkan dengan eKTP.
>> 
>> BTW, saya "punya" Kartu PNS Elektronik yg dikeluarkan oleh Badan Kepegawaian 
>> Negara. Kartu ini ada CHIPnya, Barcode dan Foto saya. Kayaknya canggih deh. 
>> Namun nasib kartu ini hanya "nyempil" di Dompet saja. Wong saya nggak ngerti 
>> gunanya kartu ini. Saya yakin proyek ini juga menggunakan anggaran 
>> pemerintah yg cukup gede? Wah perlu audit TI nih.
>> 
>> --- Pada Sel, 29/12/09, hnoe...@indonet <hnoe...@indo. net.id> menulis:
>> 
>> Yrh Rekan2,
>> Kunci masalah SIN adalah pada validasi pencegahan duplikasi data 
>> kependudukan dan relasi , dan ini semua lebih bergantung kepada 
>> prioritas dan strategi implementasi yang dipergunakan. Karena data 
>> kependudukan sebenarnya sudah ada dan data tersebut merupakan object 
>> utama yang harus di verifikasi. sehingga SIN bisa dilaksanakan tanpa 
>> harus investasi besar namun bisa dengan hasil besar. Sebagaimana 
>> dilaksanakan oleh TimNas INSW, kegiatan dilaksanakan mulasi dari 
>> harmonisasi data hingga terlaksana integrasi sistem multi entitas tanpa 
>> membongkar sistem yang sudah ada, investasi ada hanya unfuk tambahan 
>> aplikasi dan hardware yang diperlukkan. yang lain lebih banyak kepada 
>> beban tambahan biaya komunikasi antar goverment agency.
>> 
>> Dalam SIN menurut pendapat saya yang penting dilaksanakan agar data bisa 
>> valid adalah konsolidasi informasi, bukan membongkat semua dan 
>> melaksanakan terapan biometric. Terapan biometric dilaksanakan bertahap 
>> bila diperlukan.
>> 
>> Lain halnya kalau ternyata kita ikuti arahan konsultan asing, yang dari 
>> beberapa pengalaman sy pribadi selalu menganggap indonesia merupakan 
>> negara terbelakang yang sistem dan sarana ICTnya tidak layak guna, 
>> sehingga dalam perencanaannya di asumsikan semuanya dibuat dari awal , 
>> ya pasti akan terjadi belanja besar tanpa karena semua asset dan sistem 
>> yang sudah dibangun dan dimiliki tidak akan dipergunakan lagi.
>> 
>> Sudah saatnya Menkominfo melakukan uji konsep secara publik, agar tidak 
>> terjeblos dalam kolusi internasional untuk mendorong kebijakan yang 
>> salah dan akan menjerumuskan Indonesia dalam penambahan jumlah hutang 
>> luar negeri.
>> 
>> Sudah waktunya kita tidak gegabah membuat solusi yang salah, yang pasti 
>> kebijakan SIN tetap akan bisa jalan tanpa belanja besar dan diyakini 
>> bisa dilakukan tanpa membeli Hardware dan software baru. 
>> Saya yakin potensi nasional kita mampu melaksanakan sehingga alokasi 
>> anggaran lebih banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan value added dari 
>> jasa lokal , sehingga mendorong perekonomian dalam negeri.
>> 
>> Wass.
>> Hari S,noegroho 
>> 
>> &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
>> http://id.mail. yahoo.com& quot;
>> 
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke