Krisis global menerpa, Indonesia pun turun terhempas. Beberapa tokoh, baik nasional maupun internasional, kembali menyuarakan bahwa sistem ekonomi syariah handal, tak mempan terhadap krisis tersebut,dst...berbagai argumen dikeluarkan, salah satunya tidak ada negative spread. Untuk nasabah lebih aman dan MENGUNTUNGKAN.
Awal November, persis pada saat para tokoh itu kembali menyuarakan kehebatan ekonomi syariah (termasuk perbankan syariah), saya mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kampanye para tokoh tersebut. Sebelumnya, sekitar bulan Juli, saya berniat untuk ambil KPR. Saya cek rate di beberapa bank, baik konvensional maupun syariah. Pada saat konvensional ratenya berkisar 9-12%, margin perbankan syariah bila diekuivalenkan dengan rate antara 14,5-18%. Bahkan ada bank, yang mematok 14,5% untuk 5 tahun pertama, 16,5% untuk 5 tahun kedua, dan 18,5% untuk 5 tahun ketiga, bila tenornya 15 tahun. Karena ada beberapa hal ajuan KPR saya tunda. Awal November berniat untuk mengajukan. Krisis telah menerpa. Saya tetap mencoba mencari informasi. Rate bank konvensional antara 14-16,5%. Dan yang mengejutkan ada perbankan syariah (tak perlu saya sebut nama) tidak memberikan pembiayaan, termasuk KPR. "Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak, kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata petugas bank tersebut. Saya tidak menanggapi hal itu. Pikiran saya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Kala saya masih menjadi jurnalis untuk desk ekonomi ekonomi syariah. Saya teringat dengan pernyataan salah satu manajemen perbankan syariah yang saya wawancarai. Ketika saya meminta penjelasan kenapa bank syariah lebih mahal ketimbang konvensional? "Bank is Bank Mas...Syariah juga Bank, harus untung, sama seperti konvensional. Kenapa lebih tinggi ya karena bank syariah di kita masih menjadikan konvensional sebagai benchmark, sebagai tolak ukur, termasuk untuk pembiayaan." begitu penjelasannya. Waktu itu saya juga mewawancarai salah satu nasabah yang mengalami keluhan yang sama. Kini saya mengalami sendiri. Kenyataannya, bukan lagi tolak ukur, tapi jauh lebih tinggi ketimbang konvensional. Kembali saya teringat lanjutan penjelasan sang top manajemen itu. "Belum ada Mas di Indonesia itu yang menjalankan perbankan secara benar, gak ada bank yang berani, resikonya terlalu besar." Bayang-bayang konvensional masih menyatu dalam praktik perbankan syariah di Indonesia. Kampanye para tokoh ekonomi syariah kok tidak terbukti ya.... Apalagi menyimak penjelasan salah satu staf perbankan syarih di atas yang mengatakan bahwa sejak Oktober banknya tidak memberikan lagi pembiayaan. Hem...apanya yang lebih tahan krisis dari perbankan syariah Indonesia atau perbankan syariah (mohon maaf, mungkin...) palsu. Ya palsu, karena tidak menjalan sistem syariah yang sebenarnya. Ya saya berharap para tokoh ini memberikan pelajaran yang sebenarnya pada publik. Idealnya seperti ini, namun praktiknya di Indonesia masih seperti ini. Kemudian yang perlu dibangun di Indonesia seperti ini. Mengenai kampanye yang sebenarnya ini, saya pernah menjumpai seorang tokoh ekonomi syariah di Indonesia. Sang doktor ini terkenal vokal mengkritik prakik perbankan syariah, BI, dan DSN. Yah, dia harus menerima resikonya (resiko yang aneh di Indonesia), dia dimusuhi oleh orang-orang berwajah syariah tapi berpraktik konvensional. Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank syariah tahan krisis? Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan tidak sopan. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata.
