Penjelasan kedua deh (yg belain Bank Syariah), 
Jika seluruh dana yang dihimpun dalam suatu kurun waktu oleh Bank Syariah dapat 
disalurkan semuanya menjadi pembiayaan produktif (ingat loh FDR Bank Syariah 
tinggi di atas Bank Konven) dan kemudian akibat krisis global, likuiditas di 
masyarakat menjadi sulit maka kemudian Bank Syariah tidak dapat memberikan 
pembiayaan lagi kepada masyarakat. Maka itu bukan berarti Bank Syariah tidak 
tahan krisis.

Sekelumit tulisan guru saya Hilmy SE akan memberikan gambaran bagaimana Bank 
Syariah lebih survive.

  Kita pastikan bahwa dikala badai krisis menimpa Indonesia maka semua bank 
terkena dampaknya, yaitu kredit kedua jenis bank akan macet. Namun dalam 
kenyataannya kedua sistem ini ada perbedaan dalam percepatan pengurasan modal 
oleh kredit macet,  sepeti terlihat dalam  simulasi  sbb
Kondisi : 
1.      kredit /pembiayaan sama – sama macet karena krisis; 
2.      bunga deposan pada Bank Konvensional (BK)12% dan 
3.      nisbah( revenue sharing) antara Bank Syariah (BS) dan deposannya 50% 
:50% atas dasar hasil nyata (cash basisi)

TAHAP I. MASA NORMAL
MODAL BK AMAN DAN MODAL BS AMAN
Didalam kondisi normal  BK dan BS sama menghasilkan net 20%  
Dalam kondisi ini maka
a.      BK melokasikan incomenya  yang 20%:     untuk bunga deposan 12% dan 
untuk BK 8%
b.      BS melokasikan incomenya yang  20% : untuk bagi hasil deposan  10% dan 
untuk BS 10%
Dalam kondisi ini kedua bank modalnya aman. Tetapi berikutnya 

TAHAPII. MASA KRISIS RINGAN
MODAL BK TERKURAS, BS AMAN 
Didalam kondisi bisnis macet  BK dan BS penghasilannya sama  menurun menjadi 
net 12%  
Dalam kondisi ini maka
a.      BK melokasikan incomenya  yang 12% : seluruh penghasilan (12%) untuk 
deposan dan untuk BK 0%
b.      BS melokasikan incomenya  yang 12% :     untuk deposan 6%  dan untuk BS 
6% 
Dalam kondisi ini MODAL BK TERKURAS, karena seluruh pengasilannya diserahkan 
kepada deposan; biaya operasional mengurasa modal  Tatapi MODAL BS MASIH AMAN 
malah  masih memperoleh hasil 6% 

TAHAP III. MASA KRISIS BERAT 
MODAL BK TERKURAS menjadi NEGATIF, BK-BI-PEMERINTAH PANIK. TETAPI MODAL BS AMAN
Didalam kondisi bisnis lebih macet   BK dan BS penghasilannya sama  menurun 
menjadi net 10% (1998 NPL bank sekitar 50%). Dalam kondisi ini maka
a.      BK melokasikan incomenya  yang 10% : untuk bunga deposan 12% dan untuk 
BK NOMBOKIN 2% karena pengasilannya tidak cukup (hanya 10% )
b.      BS melokasikan incomenya  yang 10% :     untuk bagi hasil  deposan 5%  
dan untuk BS 5% 
Dalam kondisi ini 
-       PADA BS
MODAL AMAN, karena penghasilan masih ada 
-       PADA BK
o        MODAL BK TERKURAS LEBIH BANYAK, karena seluruh pengasilannya yang 10 % 
tidak mencukupi. 
o       BK harus nombokin bunga deposan dari DANA DEPOSAN sendiri sehingga 
MODAL NEGATIF 
o       Dampaknya BANK TERANCAM MATI
       PERLU BLBI
       PERLU DIREKAP
Maka terjadilah kondisi panik pada BK-BI-Pemerintah,sehingga terjadilah bank 
rekap khusus BK. (Kondisi seperti ini dapat berulang, bila masih tetap 
menggunakan sistem bunga)


--- On Tue, 11/11/08, Meutia Inten <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Meutia Inten <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Katanya Tahan Krisis? Bank Syaraih kok Ogah 
Keluarkan Pembiayaan?
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 11, 2008, 11:13 PM











Saya pikir penjelasannya cuma satu, karena bank syariah masih berjalan di bawah 
bayang-bayang bank konvensional.

--- On Tue, 11/11/08, supersupret <supersupret@ yahoo.com> wrote:

From: supersupret <supersupret@ yahoo.com>
Subject: [ekonomi-syariah] Katanya Tahan Krisis? Bank Syaraih kok Ogah 
Keluarkan Pembiayaan?
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, November 11, 2008, 3:29 PM




Krisis global menerpa, Indonesia pun turun terhempas. Beberapa tokoh,
baik nasional maupun internasional, kembali menyuarakan bahwa sistem
ekonomi syariah handal, tak mempan terhadap krisis
tersebut,dst. ..berbagai argumen dikeluarkan, salah satunya tidak ada
negative spread. Untuk nasabah lebih aman dan MENGUNTUNGKAN.

Awal November, persis pada saat para tokoh itu kembali menyuarakan
kehebatan ekonomi syariah (termasuk perbankan syariah), saya
mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kampanye para
tokoh tersebut.

Sebelumnya, sekitar bulan Juli, saya berniat untuk ambil KPR. Saya cek
rate di beberapa bank, baik konvensional maupun syariah. Pada saat
konvensional ratenya berkisar 9-12%, margin perbankan syariah bila
diekuivalenkan dengan rate antara 14,5-18%. Bahkan ada bank, yang
mematok 14,5% untuk 5 tahun pertama, 16,5% untuk 5 tahun kedua, dan
18,5% untuk 5 tahun ketiga, bila tenornya 15 tahun.

Karena ada beberapa hal ajuan KPR saya tunda. Awal November berniat
untuk mengajukan. Krisis telah menerpa. Saya tetap mencoba mencari
informasi. Rate bank konvensional antara 14-16,5%. Dan yang
mengejutkan ada perbankan syariah (tak perlu saya sebut nama) tidak
memberikan pembiayaan, termasuk KPR. 

"Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak,
kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata
petugas bank tersebut.

Saya tidak menanggapi hal itu. Pikiran saya melayang ke beberapa tahun
yang lalu. Kala saya masih menjadi jurnalis untuk desk ekonomi ekonomi
syariah.

Saya teringat dengan pernyataan salah satu manajemen perbankan syariah
yang saya wawancarai. Ketika saya meminta penjelasan kenapa bank
syariah lebih mahal ketimbang konvensional? "Bank is Bank
Mas...Syariah juga Bank, harus untung, sama seperti konvensional.
Kenapa lebih tinggi ya karena bank syariah di kita masih menjadikan
konvensional sebagai benchmark, sebagai tolak ukur, termasuk untuk
pembiayaan." begitu penjelasannya.

Waktu itu saya juga mewawancarai salah satu nasabah yang mengalami
keluhan yang sama. Kini saya mengalami sendiri. Kenyataannya, bukan
lagi tolak ukur, tapi jauh lebih tinggi ketimbang konvensional.

Kembali saya teringat lanjutan penjelasan sang top manajemen itu.
"Belum ada Mas di Indonesia itu yang menjalankan perbankan secara
benar, gak ada bank yang berani, resikonya terlalu besar."

Bayang-bayang konvensional masih menyatu dalam praktik perbankan
syariah di Indonesia. Kampanye para tokoh ekonomi syariah kok tidak
terbukti ya....

Apalagi menyimak penjelasan salah satu staf perbankan syarih di atas
yang mengatakan bahwa sejak Oktober banknya tidak memberikan lagi
pembiayaan. Hem...apanya yang lebih tahan krisis dari perbankan
syariah Indonesia atau perbankan syariah (mohon maaf, mungkin...)
palsu. Ya palsu, karena tidak menjalan sistem syariah yang sebenarnya.

Ya saya berharap para tokoh ini memberikan pelajaran yang sebenarnya
pada publik. Idealnya seperti ini, namun praktiknya di Indonesia masih
seperti ini. Kemudian yang perlu dibangun di Indonesia seperti ini.

Mengenai kampanye yang sebenarnya ini, saya pernah menjumpai seorang
tokoh ekonomi syariah di Indonesia. Sang doktor ini terkenal vokal
mengkritik prakik perbankan syariah, BI, dan DSN. Yah, dia harus
menerima resikonya (resiko yang aneh di Indonesia), dia dimusuhi oleh
orang-orang berwajah syariah tapi berpraktik konvensional.

Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah
takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank
syariah tahan krisis?

Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan
tidak sopan. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata.



 














      

Kirim email ke