> > "Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak, > kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata > petugas bank tersebut. > > ini jawaban lucu. pasti bukan pejabat yang berwenang yang menyatakannya. > Soalnya polos dan culun banget serta ngawur. Memang BI nggak bolehin > nyalurin kredit??
Menurut saya seorang pejabat perbankan kemungkinannya kecil untuk melayani semua nasabah. Untuk itu perlu ada staf yang menjelaskan ke nasabah. Bukankah Anda mengatakan bank bukan manajemen warung? Jadi, siapapun yang menjelaskan ke nasabah ya merupakan representasi dari bank. Kalau memang jawaban dari staf itu keliru, ya berarti bank tersebut harus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan karyawannya. > Anda ini katanya sering berhubungan dengan ilmuwan serta bankir, kok > nanyanya aneh gini. > Bank itukan lembaga bisnis. bisnis itukan berhubungan dengan daya beli. Lha > kalau krisis ya daya beli pasti turun. Kalau daya beli turun ya bisnis lesu. > gitulah sederhananya. Apalagi diamanahi sama nasabahnya agar bisa memberikan > bagi hasil yang bagus, masa iya kudu maksain diri menyenangkan satu orang > lain dengan akibat nantinya mungkin bisa menyedihkan banyak orang lain. > Terimakasih atas kuliah dasar-dasar ekonominya. Dalam konteks transaksi perbankan saya pikir bukan soal senang-menyenangkan. Tokh bank bukan 'lembaga penyenang orang'. Tapi, bisnis yang diupayakan saling menguntungkan. Bank memberikan pembiayaan dengan harapan mendapatkan keuntungan kan? Jadi saya pikir ada mindset yang keliru kalau seseorang datang ke bank mengajukan pembiayaan berarti berharap akan disenangkan. Hal yang wajar lah dalam bisnis kalau salah satunya menilai tidak prospektif terus tidak terjadi akad. > Belum lagi bank juga punya bussines plan dimasing-masing cabangnya. > Katakanlah (ini contoh lho) porsi untuk pembiayaan corporate 35%, ukm 35%, > konsumtif 15% dan KPR 15%. Nah kalau sudah semua tercapai targetnya untuk > tahun tersebut, ya ngapain cabang tersebut capek-capek memproses nasabah > lagi. mending ngerawat dan sounding nasabah yang sudah ada. > > Belum lagi kalau FDRnya dah lewat 100% disebuah cabang, bisa-bisa juga ga > boleh nglempar pembiayaan juga dicabang tersebut. > atau NPLnya cabang tersebut dah melebihi ambang batas, juga bisa menyebabkan > nggak bisa melempar pembiayaan. > atau dan lain-lainlah masih banyak sebab , mengapa bank ga selalu kudu > ngasih pembiayaan. Seandainya staf perbankan itu menjelaskan seperti itu kami akan maklum. Secara bisnis sah-sah saja. Yang dipersoalkan dalam posting-an pertama saya bukan itu, tapi alasan: "Tidak lagi memberikan pembiayaan karena kondisi sedang tidak stabil". Ini yang aneh...atau bisa jadi bank itu menerapkan manajemen warung seperti yang Pak Agung katakan, ya?. Meski secara bisnis, bank yang sudah memenuhi target lantas tidak lagi memberikan pembiayaan, sah-sah saja dan mungkin hak perbankan, namun bagaimana dengan fungsi mediasi perbankan? Saya tidak bisa membayangkan bila misalnya dalam pertengahan tahun semua bank stop memberikan pembiayaan karena target telah terlampaui. Sementara DPK menumpuk, dan banyak sektor riil yang prospektif membutuhkan pembiayaan. Saya pikir bank punya perhitungannya sendiri. Sudah hal yang biasa kalau mendengar FDR bank syariah melebihi 100% kok. Silakan kalau ada anggota milist yang bisa menjelaskan. > Iya anda ini memang tidak sopan. Tidak ada salam pembuka maupun penutup, > padahal orang islam bila berbicara kepada saudaranya hendaknya ucapkan > salam. Tidak ada identitas lagi, padahal ngakunya seorang jurnalis. > Hem....1) saya pikir ini sudah masuk ke perdebatan teologis. Di milist ini bukan ruang yang tepat untuk itu, apalagi esensi masalahnya bukan disitu. 2)soal ass wr wb, saya mengasumsikan anggota milis ini tidak semuanya muslim. Bukankah ekonomi syariah milik semua umat, banyak nonmuslim yang mempraktikkan sistem ini. Saya berharap juga begitu, kalau memang sistem ini lebih handal dibanding konvensional, kenapa tidak menjadi sistem yang mengglobal? Bukankah itu yang kini jadi concern para tokoh ekonomi syariah? 3) seandainya memakai selamat pagi, siang, sore, atau malam, tentu akan lucu kalau saya posting pagi menggunakan 'selamat pagi' lantas Anda baca malam kan? Ini dunia maya Pak. 4)mengenai identitas....Sekali lagi, dunia maya berbeda dengan dunia nyata Pak Agung. Dalam dunia maya sudah lazim idenditas hanya dengan ID e-mail. Silakan mungkin ada yang mau berbagi bagaimana beretika dalam dunia maya. Sederhananya begini, Anda mengenalkan identitas dengan nama 'Agung', pertanyaannya kan Agung yang mana yah? Yang kuliah dimana yah? dan seterusnya. Ujung-ujungnya kirim CV deh. Dengan alasan kemanan dan privacy tentu hal itu tidak dimungkinkan untuk semua orang, masing-masing punya pertimbangan. Kalau mau mengenal seseorang lebih jauh, di dunia maya biasanya via japri. supersupret --- In [email protected], Agung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamualaikum Wr. Wb., > > buat bapak tanpa nama, saya akan sedikit bantu menjelaskan. > namun sebelumnya saya sampaikan bahwasanya saya bukan karyawan bank. Bila > ada karyawan bank dimilis ini mohon bantu menjelaskan. > > > "Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak, > kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata > petugas bank tersebut. > > ini jawaban lucu. pasti bukan pejabat yang berwenang yang menyatakannya. > Soalnya polos dan culun banget serta ngawur. Memang BI nggak bolehin > nyalurin kredit?? > > >Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah > takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank > syariah tahan krisis? > > Anda ini katanya sering berhubungan dengan ilmuwan serta bankir, kok > nanyanya aneh gini. > Bank itukan lembaga bisnis. bisnis itukan berhubungan dengan daya beli. Lha > kalau krisis ya daya beli pasti turun. Kalau daya beli turun ya bisnis lesu. > gitulah sederhananya. Apalagi diamanahi sama nasabahnya agar bisa memberikan > bagi hasil yang bagus, masa iya kudu maksain diri menyenangkan satu orang > lain dengan akibat nantinya mungkin bisa menyedihkan banyak orang lain. > > Bank itu manajemennya bukan manajemen warung. manajemen nya sangat komplek > dan regulasi juga sangat komplek. Manajemen pendanaannya, manajemen > resikonya, manajemen SDI dan manajemen lain-lainnya itu banyak mengikat > langkah bank. > > Belum lagi bank juga punya bussines plan dimasing-masing cabangnya. > Katakanlah (ini contoh lho) porsi untuk pembiayaan corporate 35%, ukm 35%, > konsumtif 15% dan KPR 15%. Nah kalau sudah semua tercapai targetnya untuk > tahun tersebut, ya ngapain cabang tersebut capek-capek memproses nasabah > lagi. mending ngerawat dan sounding nasabah yang sudah ada. > > Belum lagi kalau FDRnya dah lewat 100% disebuah cabang, bisa-bisa juga ga > boleh nglempar pembiayaan juga dicabang tersebut. > atau NPLnya cabang tersebut dah melebihi ambang batas, juga bisa menyebabkan > nggak bisa melempar pembiayaan. > atau dan lain-lainlah masih banyak sebab , mengapa bank ga selalu kudu > ngasih pembiayaan. > > >Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan > *tidak sopan*. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata. > > Iya anda ini memang tidak sopan. Tidak ada salam pembuka maupun penutup, > padahal orang islam bila berbicara kepada saudaranya hendaknya ucapkan > salam. Tidak ada identitas lagi, padahal ngakunya seorang jurnalis. > > Salam kenal, > > agung. > > > > 2008/11/11 supersupret [EMAIL PROTECTED] > > > Krisis global menerpa, Indonesia pun turun terhempas. Beberapa tokoh, > > baik nasional maupun internasional, kembali menyuarakan bahwa sistem > > ekonomi syariah handal, tak mempan terhadap krisis > > tersebut,dst...berbagai argumen dikeluarkan, salah satunya tidak ada > > negative spread. Untuk nasabah lebih aman dan MENGUNTUNGKAN. > > > > Awal November, persis pada saat para tokoh itu kembali menyuarakan > > kehebatan ekonomi syariah (termasuk perbankan syariah), saya > > mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kampanye para > > tokoh tersebut. > > > > Sebelumnya, sekitar bulan Juli, saya berniat untuk ambil KPR. Saya cek > > rate di beberapa bank, baik konvensional maupun syariah. Pada saat > > konvensional ratenya berkisar 9-12%, margin perbankan syariah bila > > diekuivalenkan dengan rate antara 14,5-18%. Bahkan ada bank, yang > > mematok 14,5% untuk 5 tahun pertama, 16,5% untuk 5 tahun kedua, dan > > 18,5% untuk 5 tahun ketiga, bila tenornya 15 tahun. > > > > Karena ada beberapa hal ajuan KPR saya tunda. Awal November berniat > > untuk mengajukan. Krisis telah menerpa. Saya tetap mencoba mencari > > informasi. Rate bank konvensional antara 14-16,5%. Dan yang > > mengejutkan ada perbankan syariah (tak perlu saya sebut nama) tidak > > memberikan pembiayaan, termasuk KPR. > > > > "Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak, > > kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata > > petugas bank tersebut. > > > > Saya tidak menanggapi hal itu. Pikiran saya melayang ke beberapa tahun > > yang lalu. Kala saya masih menjadi jurnalis untuk desk ekonomi ekonomi > > syariah. > > > > Saya teringat dengan pernyataan salah satu manajemen perbankan syariah > > yang saya wawancarai. Ketika saya meminta penjelasan kenapa bank > > syariah lebih mahal ketimbang konvensional? "Bank is Bank > > Mas...Syariah juga Bank, harus untung, sama seperti konvensional. > > Kenapa lebih tinggi ya karena bank syariah di kita masih menjadikan > > konvensional sebagai benchmark, sebagai tolak ukur, termasuk untuk > > pembiayaan." begitu penjelasannya. > > > > Waktu itu saya juga mewawancarai salah satu nasabah yang mengalami > > keluhan yang sama. Kini saya mengalami sendiri. Kenyataannya, bukan > > lagi tolak ukur, tapi jauh lebih tinggi ketimbang konvensional. > > > > Kembali saya teringat lanjutan penjelasan sang top manajemen itu. > > "Belum ada Mas di Indonesia itu yang menjalankan perbankan secara > > benar, gak ada bank yang berani, resikonya terlalu besar." > > > > Bayang-bayang konvensional masih menyatu dalam praktik perbankan > > syariah di Indonesia. Kampanye para tokoh ekonomi syariah kok tidak > > terbukti ya.... > > > > Apalagi menyimak penjelasan salah satu staf perbankan syarih di atas > > yang mengatakan bahwa sejak Oktober banknya tidak memberikan lagi > > pembiayaan. Hem...apanya yang lebih tahan krisis dari perbankan > > syariah Indonesia atau perbankan syariah (mohon maaf, mungkin...) > > palsu. Ya palsu, karena tidak menjalan sistem syariah yang sebenarnya. > > > > Ya saya berharap para tokoh ini memberikan pelajaran yang sebenarnya > > pada publik. Idealnya seperti ini, namun praktiknya di Indonesia masih > > seperti ini. Kemudian yang perlu dibangun di Indonesia seperti ini. > > > > Mengenai kampanye yang sebenarnya ini, saya pernah menjumpai seorang > > tokoh ekonomi syariah di Indonesia. Sang doktor ini terkenal vokal > > mengkritik prakik perbankan syariah, BI, dan DSN. Yah, dia harus > > menerima resikonya (resiko yang aneh di Indonesia), dia dimusuhi oleh > > orang-orang berwajah syariah tapi berpraktik konvensional. > > > > Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah > > takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank > > syariah tahan krisis? > > > > Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan > > tidak sopan. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata. > > > > > > > > >
