kalo boleh mengomentari...
intinya masih butuh perjuangan panjang mas...untuk mengaplikasikan islam
didalam sistem ekonomi...kuncinya perluas DAKWAH ILLALLAH ....hatta di bank
syariah sendiri saya yakin kok  dikalangan internal karyawan mereka sendiri
masih memerlukan dakwah ...semua orang butuh nasehat dakwah

kalo masalah stop droping...ya...bank syariah saat ini masih berada didalam
sistem global yg tidak berbasiskan nilai Islam...pasti dong mereka terkena
dampaknya...mau gak mau....

kalo gak salah pernah juga deh di bahas di milis ini...bank syariah dan
gemerlap berita finansial syariah di Indonesia itu kan cuma LANDMARK nya
doang mas...dari apa yg disebut sistem ekonomi Islam...berat juga
mengharapkan terlalu banyak dari bank syariah untuk saat ini..
ibaratnya kalo kita jalan2 di jakarta liat bunderan HI or MONAS sebagai
landmark di jakarta kan terlihat indah dan ' wah ' tuh...padahal kalo jalan
lebih jauh lagi banyak deh masalah tuh kota jakarta....

Pada 11 November 2008 15:29, supersupret <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Mengenai kampanye yang sebenarnya ini, saya pernah menjumpai seorang
tokoh ekonomi syariah di Indonesia. Sang doktor ini terkenal vokal
mengkritik prakik perbankan syariah, BI, dan DSN. Yah, dia harus
menerima resikonya (resiko yang aneh di Indonesia), dia dimusuhi oleh
orang-orang berwajah syariah tapi berpraktik konvensional.


he..he..he..ditengah standard hidup yang tinggi ini kan..bicaranya udah
penguasaan lapak...mata pencaharian mas....kalo yg terlalu puritan
sih..akhirnya ya jadi sendirian aja..seperti berteriak di ruang kosong
kan....
ambil positifnya aja lah mas...mudah2an pihak2 dan orang2 yg mendapat
limpahan rezeki lebih banyak akibat 'naik daun'nya era ekonomi Islam ...bisa
lebih banyak berzakat dan berdakwah menyebarkan nilai2 Islam







  Krisis global menerpa, Indonesia pun turun terhempas. Beberapa tokoh,
> baik nasional maupun internasional, kembali menyuarakan bahwa sistem
> ekonomi syariah handal, tak mempan terhadap krisis
> tersebut,dst...berbagai argumen dikeluarkan, salah satunya tidak ada
> negative spread. Untuk nasabah lebih aman dan MENGUNTUNGKAN.
>
> Awal November, persis pada saat para tokoh itu kembali menyuarakan
> kehebatan ekonomi syariah (termasuk perbankan syariah), saya
> mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kampanye para
> tokoh tersebut.
>
> Sebelumnya, sekitar bulan Juli, saya berniat untuk ambil KPR. Saya cek
> rate di beberapa bank, baik konvensional maupun syariah. Pada saat
> konvensional ratenya berkisar 9-12%, margin perbankan syariah bila
> diekuivalenkan dengan rate antara 14,5-18%. Bahkan ada bank, yang
> mematok 14,5% untuk 5 tahun pertama, 16,5% untuk 5 tahun kedua, dan
> 18,5% untuk 5 tahun ketiga, bila tenornya 15 tahun.
>
> Karena ada beberapa hal ajuan KPR saya tunda. Awal November berniat
> untuk mengajukan. Krisis telah menerpa. Saya tetap mencoba mencari
> informasi. Rate bank konvensional antara 14-16,5%. Dan yang
> mengejutkan ada perbankan syariah (tak perlu saya sebut nama) tidak
> memberikan pembiayaan, termasuk KPR.
>
> "Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak,
> kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata
> petugas bank tersebut.
>
> Saya tidak menanggapi hal itu. Pikiran saya melayang ke beberapa tahun
> yang lalu. Kala saya masih menjadi jurnalis untuk desk ekonomi ekonomi
> syariah.
>
> Saya teringat dengan pernyataan salah satu manajemen perbankan syariah
> yang saya wawancarai. Ketika saya meminta penjelasan kenapa bank
> syariah lebih mahal ketimbang konvensional? "Bank is Bank
> Mas...Syariah juga Bank, harus untung, sama seperti konvensional.
> Kenapa lebih tinggi ya karena bank syariah di kita masih menjadikan
> konvensional sebagai benchmark, sebagai tolak ukur, termasuk untuk
> pembiayaan." begitu penjelasannya.
>
> Waktu itu saya juga mewawancarai salah satu nasabah yang mengalami
> keluhan yang sama. Kini saya mengalami sendiri. Kenyataannya, bukan
> lagi tolak ukur, tapi jauh lebih tinggi ketimbang konvensional.
>
> Kembali saya teringat lanjutan penjelasan sang top manajemen itu.
> "Belum ada Mas di Indonesia itu yang menjalankan perbankan secara
> benar, gak ada bank yang berani, resikonya terlalu besar."
>
> Bayang-bayang konvensional masih menyatu dalam praktik perbankan
> syariah di Indonesia. Kampanye para tokoh ekonomi syariah kok tidak
> terbukti ya....
>
> Apalagi menyimak penjelasan salah satu staf perbankan syarih di atas
> yang mengatakan bahwa sejak Oktober banknya tidak memberikan lagi
> pembiayaan. Hem...apanya yang lebih tahan krisis dari perbankan
> syariah Indonesia atau perbankan syariah (mohon maaf, mungkin...)
> palsu. Ya palsu, karena tidak menjalan sistem syariah yang sebenarnya.
>
> Ya saya berharap para tokoh ini memberikan pelajaran yang sebenarnya
> pada publik. Idealnya seperti ini, namun praktiknya di Indonesia masih
> seperti ini. Kemudian yang perlu dibangun di Indonesia seperti ini.
>
> Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah
> takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank
> syariah tahan krisis?
>
> Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan
> tidak sopan. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata.
>
>

Kirim email ke