Saya pikir penjelasannya cuma satu, karena bank syariah masih berjalan di bawah 
bayang-bayang bank konvensional.

--- On Tue, 11/11/08, supersupret <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: supersupret <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-syariah] Katanya Tahan Krisis? Bank Syaraih kok Ogah 
Keluarkan Pembiayaan?
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 11, 2008, 3:29 PM










    
            Krisis global menerpa, Indonesia pun turun terhempas. Beberapa 
tokoh,

baik nasional maupun internasional, kembali menyuarakan bahwa sistem

ekonomi syariah handal, tak mempan terhadap krisis

tersebut,dst. ..berbagai argumen dikeluarkan, salah satunya tidak ada

negative spread. Untuk nasabah lebih aman dan MENGUNTUNGKAN.



Awal November, persis pada saat para tokoh itu kembali menyuarakan

kehebatan ekonomi syariah (termasuk perbankan syariah), saya

mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kampanye para

tokoh tersebut.



Sebelumnya, sekitar bulan Juli, saya berniat untuk ambil KPR. Saya cek

rate di beberapa bank, baik konvensional maupun syariah. Pada saat

konvensional ratenya berkisar 9-12%, margin perbankan syariah bila

diekuivalenkan dengan rate antara 14,5-18%. Bahkan ada bank, yang

mematok 14,5% untuk 5 tahun pertama, 16,5% untuk 5 tahun kedua, dan

18,5% untuk 5 tahun ketiga, bila tenornya 15 tahun.



Karena ada beberapa hal ajuan KPR saya tunda. Awal November berniat

untuk mengajukan. Krisis telah menerpa. Saya tetap mencoba mencari

informasi. Rate bank konvensional antara 14-16,5%. Dan yang

mengejutkan ada perbankan syariah (tak perlu saya sebut nama) tidak

memberikan pembiayaan, termasuk KPR. 



"Sejak Awal Oktober bank kami tidak memberikan pembiayaan pak,

kondisinya sedang tidak stabil. Itu instruksi BI juga kok," kata

petugas bank tersebut.



Saya tidak menanggapi hal itu. Pikiran saya melayang ke beberapa tahun

yang lalu. Kala saya masih menjadi jurnalis untuk desk ekonomi ekonomi

syariah.



Saya teringat dengan pernyataan salah satu manajemen perbankan syariah

yang saya wawancarai. Ketika saya meminta penjelasan kenapa bank

syariah lebih mahal ketimbang konvensional? "Bank is Bank

Mas...Syariah juga Bank, harus untung, sama seperti konvensional.

Kenapa lebih tinggi ya karena bank syariah di kita masih menjadikan

konvensional sebagai benchmark, sebagai tolak ukur, termasuk untuk

pembiayaan." begitu penjelasannya.



Waktu itu saya juga mewawancarai salah satu nasabah yang mengalami

keluhan yang sama. Kini saya mengalami sendiri. Kenyataannya, bukan

lagi tolak ukur, tapi jauh lebih tinggi ketimbang konvensional.



Kembali saya teringat lanjutan penjelasan sang top manajemen itu.

"Belum ada Mas di Indonesia itu yang menjalankan perbankan secara

benar, gak ada bank yang berani, resikonya terlalu besar."



Bayang-bayang konvensional masih menyatu dalam praktik perbankan

syariah di Indonesia. Kampanye para tokoh ekonomi syariah kok tidak

terbukti ya....



Apalagi menyimak penjelasan salah satu staf perbankan syarih di atas

yang mengatakan bahwa sejak Oktober banknya tidak memberikan lagi

pembiayaan. Hem...apanya yang lebih tahan krisis dari perbankan

syariah Indonesia atau perbankan syariah (mohon maaf, mungkin...)

palsu. Ya palsu, karena tidak menjalan sistem syariah yang sebenarnya.



Ya saya berharap para tokoh ini memberikan pelajaran yang sebenarnya

pada publik. Idealnya seperti ini, namun praktiknya di Indonesia masih

seperti ini. Kemudian yang perlu dibangun di Indonesia seperti ini.



Mengenai kampanye yang sebenarnya ini, saya pernah menjumpai seorang

tokoh ekonomi syariah di Indonesia. Sang doktor ini terkenal vokal

mengkritik prakik perbankan syariah, BI, dan DSN. Yah, dia harus

menerima resikonya (resiko yang aneh di Indonesia), dia dimusuhi oleh

orang-orang berwajah syariah tapi berpraktik konvensional.



Mohon adakah yang membantu menjelaskan kok bisa ya, perbankan syariah

takut mengeluarkan pembiayaan di saat krisis global? Katanya bank

syariah tahan krisis?



Terimakasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang terkesan vulgar dan

tidak sopan. Itu semata karena ketidakmampuan saya memperhalus kata-kata.

 




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke