Kejatuhan ekonomi kapitalis membuat beberapa pakar ekonomi syariah mengusulkan penggunaan Dinar (baca :emas) sebagai alat pembayaran. Tapi benarkah harga emas stabil ..?
Berdasarkan pengalaman saya, ketika 4 tahun yang lalu menghadiahi emas kepada seorang wanita (yang kemudian menjadi istri, ^_^)saya mesti merogok kocek untuk 3 gram emas 24 K sekitar Rp.550.000,- (maklum baru mampunya segitu, he he he ) Nah, beberapa hari yang lalu di ulang tahun yang keempat pernikahan kami, saya mesti merogoh kocek Rp.950.000 untuk 3 gram emas 24 K sebagai hadiah (suprise !) kepada istri saya tercinta. Artinya terjadi peningkatan hampir 2 kali lipat untuk jangka waktu 4 tahun. So.. Masihkah harga emas relatif stabil ?! Saya jadi ragu.. Belum dijadikan alat tukar saja sudah begitu rawan terhadap gejolak kecil ekonomi,apalagi nanti sudah menjadi alat pembayaran yang sah dan berlaku umum. Solusi saya untuk mengatasi krisis finansial ini tetap sama dengan email saya beberapa bulan yang lalu : 1. Memimpikan dunia tanpa uang secara fisik. Uang diganti dengan digit angka digital yang tersimpan di Bank Indonesia/Bank Dunia. Cukup dengan gesek kartu, anda sudah bisa belanja dan tidak butuh uang lagi secara fisik . ( Mungkin ide ini terealisasi 100 tahun lagi ya..kalau zaman digital sudah sampai kekampung-kampung). Tapi ini lah masa depan uang, InsyaAllah. 2. Untuk Jangka pendeknya : Satu kesatuan mata uang untuk seluruh negara. Bisa saja uang masih dipakai secara fisik, namanya bisa saja dollar, euro, rupe atau mungkin rupiah, namun mata uang yang beredar di suatu negara sama dengan yang beredar di negara lainnya tentunya dengan pengaturan oleh lembaga keuangan internasional. Dengan ini , uang tidak bisa lagi dijadikan sebagai komoditas. !! (Mungkin ide ini terelisasi 50 tahun lagi, tapi ini lah masa depan uang, Insya Allah). Setuju ?? Wallahualam Bishawab...
