Assalamu'alaikum wr. Wb. Mas Adhi benar, tetapi yg menjadi persoalan adalah 
apakah emas/perak itu kita jadikan sbg mata uang/pendukung mata uang atau sbg 
komoditas yg diperjual belikan, baik utk keperluan investasi atau 'profit 
taking' jk.pendek. Suatu bahan diskusi yg menarik. Wassalam, rizqullah  
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Adhi Ariea <[email protected]>

Date: Sun, 21 Dec 2008 09:07:08 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Penggunaan Mata Uang Emas dan Perak - Re: John 
Nash praised the gold standard


assalamu'alaikum wr wbJika tak salah di masa Rasulullah saw dan para khulafaur 
rasyidin ada badan yang dinamakan al hisbah dimana badan ini bertugas untuk 
menjaga dan menegakan nilai-nilai syariah di dalam masyarakat.
Dan dalam sebuah siroh/sejarah Rasulullah sendiri pernah mengadakan sidak ke 
pasar dan berdialog dg penjual kurma dan memasukan tangannya untuk memeriksa 
kualitas kurma yg dijual tsb.Jadi selain pribadi yg memiliki integritas yg 
tinggi dan baik tetap saja ada sebuah badan yg dibuat khusus untuk memantau dan 
menegakan prinsip2 syariat salah satunya dipasar atau muamalah bidang 
ekonomiWassalam
--- On Sat, 12/20/08, dody gere <[email protected]> wrote:
From: dody gere <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Penggunaan Mata Uang Emas dan Perak - Re: John 
Nash praised the gold standard
To: [email protected]
Date: Saturday, December 20, 2008, 8:50 AM










 






    
            



> 

> --- In ekonomi-syariah@ yahoogroups. com, A Nizami

> <nizam...@.. .> wrote:



> >

> > Kalau ekonom pemenang Nobel sudah memuji uang dengan

> > standar emas, tentu ini cukup menggembirakan.

> > 

> > Mata uang kertas yang tidak dipatok sama sekali

> > akhirnya cenderung tidak stabil dan selalu dimakan

> > inflasi sekitar 10-20%/tahun. Kalau gaji/UMR pakai

> > uang kertas tsb, maka rakyat mengalami proses

> > pemiskinan massal jika besar gaji/UMR tidak naik

> > melebihi nilai inflasi.

> > 

> > Mata uang kertas yang dipatok emas lebih baik. Tapi

> > bisa terjadi "penipuan" ketika satu negara

> memproduksi

> > lebih banyak uang kertas daripada emas yang jadi

> > jaminannya. Ini sulit diawasi, dikontrol, atau

> > diperiksa.



Nah itu dia ....

Yang salah bukan systemnya tetapi orangnya, the man behind the gun.

Perjanjian Bretton Woods gagal karena ada yang tidak konsisten ....

Sistem ekonomi sosialis di era Uni Sovyet juga gagal karena, para elite partai 
komunis hidup bermewah-mewah sementara kebijakan sama rata sama rasa hanya 
diterapkan pada rakyat kecil.Begitu juga dengan kegagalan sistem ekonomi 
kapitalis.



Kita sering bernostalgia tentang zaman keemasan islam dalam hal politik, 
sosial, dan  ekonomi di era kekhalifahan ur rasyidin dengan puncak kejayaan dan 
pencapaian dizaman Khalifah Umar ibnu Al Khattab Radiallahu anhu. Dan sering 
juga diantara kita banyak yang lupa bahwa zaman kekhalifahan ur rasyidin lemah 
secara sistem dibandingkan dengan zaman sekarang. Waktu itu tidak ada kontrol 
dan umpan balik dari pers, tidak ada inspektorat jenderal ditiap tiap 
departemen, tidak ada LSM pemantau sepak terjang birokrat sejenis ICW, dst.



Akan tetapi roda pemerintahan pada masa itu bisa berjalan secara good 
governance,bersih, dan transparan. Itu semua disebabkan oleh pribadi-pribadi 
yang memegang kendali pemerintahan benar-benar sudah teruji integritasnya. 
Mereka adalah orang-orang yang memandang dan sangat yakin bahwa kehidupan dunia 
ini sangat fana dan sementara, sedangkan akhirat itu jauh lebih baik dari 
segalanya.



Poin yang ingin disampaikan adalah bahwa sistem apapun yang akan dipakai ( 
termasuk ekonomi syariah ) tidak akan berjalan dengan baik, efektif dan efesien 
, jika manusianya masih amburadul.Alangkah lebih bijaksana jika pembangunan 
manusianya diprioritaskan dulu dibanding membangun dan menetapkan pilihan 
sistem yang akan diterapkan.



wassalam




      

    
    
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      

Kirim email ke