Tulisan pak Rudi merupakan terobosan yang mengagetkan.
Meski terkesan debat-kusir, tapi justru sebetulnya ini inti masalahnya.

Kita senang sekali dengan "Investor" datang membawa dollar. Padahal itu tak 
lebih dari kertas yang dicetak the Fed yang belum tentu dibackup oleh kekayaan 
negara tsb. Hebatnya lagi tiap area di luar AS, dollar itu ditandai dengan kode 
sehingga ketahuan dari Timteng apa bukan. JIka ada masalah, AS dgn gampang 
membekukannya hingga tidak ada nilainya.

Untuk kertas yang nilainya tak jelas itu kita serahkan emas, perak, minyak, 
gas, bahkan tanah kita. Padahal apa bedanya dollar dengan rupiah?

Kemudian agar rupiah stabil dan tidak diintervensi pemerintah bahkan DPR, atas 
desakan IMF dibuat UU BI yang membuat BI "Independen" lepas dari kontrol 
pemerintah.

Kenapa tidak pakai uang emas Dinar dan perak Dirham saja sehingga tidak ada 
satu pun yang dapat mengintervensi termasuk IMF? Ada emas, berarti Dinar bisa 
dicetak. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Paling mencetak uang perak jika ada 
perak.

Jadi siapa pun tidak bisa semena-mena mencetak uang kertas.

Mungkin OOT, tapi inilah akar masalahnya...:)

===

Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

Milis Ekonomi Nasional: [email protected]

Belajar Islam via SMS:

http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone

--- Pada Rab, 21/4/10, risnandar <[email protected]> menulis:

Dari: risnandar <[email protected]>
Judul: Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 21 April, 2010, 3:41 AM







 



  


    
      
      
      

Setuju Pak... ad ide/terobosan untuk memisahkan perbankan syariah terhadap hal 
itu...?

--- Pada Sel, 20/4/10, rudi hidayat <rudihidayat@ gmail.com> menulis:

Dari: rudi hidayat <rudihidayat@ gmail.com>
Judul: Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?
Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 April, 2010, 1:06 AM















 
 



    
      
      
      maksud saya uang konvensional adalah uang kertas yang kita pake sekarang 
ini, yang tidak ada backup harta nya sama sekali or tidak sebanding dengan 
harta yang ada.
jadi misalnya Bank Indonesia mengeluarkan rupiah apakah bank indonesia punya 
harta yang harganya sebanding dengan jumlah rupiah yang beredar


demikian juga jika bank sentral nya USA (Fed) mengeluarkan USD, apakah mereka 
punya kekayaan yang sebanding dengan jumlah USD yang beredar ?

karena klo sekarang kita pegang uang USD 100, itu ngk beda dengan kertas toilet 
yang dituliskan tulisan USD 100, cuma bedanya, krn yang mencetak USD 100 itu 
The Fed, kita percaya aja


beda dengan jika kita pake dinar dirham, nilai uang dinar dirham itu ya emang 
ada di dinar dirham itu, bukan keputusan sepihak dari bank sentral yang 
mengeluarkan 

jadi yang saya maksudkan
klo bank syariah masih beroperasi dengan menggunakan uang konvensional (bukan 
dinar dirham), selamanya akan direpotkan dengan behaviour uang konvensional 
yang nilainya sering di'goreng' oleh para spekulan, sehingga ujung2nya bank 
syariah harus pasang harga tinggi utk pembiayaan agar dpt mengantisipasi ulah 
para spekulan tsb


CMIIW :)

2010/4/16 Achmad Khalil <achmad.khalil@ gmail.com>








        


























Maksud anda bagaimana? Diatas uang konvensional?


- Achmad Khalil -From:  rudi hidayat <rudihidayat@ gmail.com>
Date: Thu, 15 Apr 2010 17:17:55 +0700To: <ekonomi-syariah@ yahoogroups. 
com>Subject: Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?


 



    
      
      
      IMHO,
karena bank syariah menjalankan praktek syariah diatas dasar uang konvensional 
yang non syariah, dimana uang itu rawan dipermainkan spekulan
akhirnya customer yg dibebankan :(







    
     



 








    
     

    
    


 



  





Kirim email ke