Salam,
Apa yang ditulis oleh bu Leni Hartati adalah sebuah realita yang menyakitkan
jika dibaca oleh orang miskin. Hal itu semakin membuktikan bahwa
1. Orang miskin tidak boleh mendapatkan pendidikan (kalau mau ke desa
saja sono, sekolah di madurasa eh salah, madrasah)
2. Orang miskin tidak boleh sehat (kalau mau juga usahakan jangan
sampai sakit lalu masuk rumah sakit)
3. Orang miskin tidak boleh memimpin (kalau mau juga siapkan uang
milyaran untuk menjadi sekedar bupati atau gubernur)
4. Orang miskin tidak boleh berusaha (toh yang diuber-uber satpol
selalu mereka)Intinya, "sistem ini" melarang orang miskin untuk hidup di bumi
Indonesia. Mari kita hancurkan orang miskin!
Lalu kita bicara hingga berbuih berbicara tentang sebuah teori ekonomi islam
yang -secara filosofis- konon membebaskan dan menjunjung tinggi kemanusiaan,
memanusiakan manusia dan menempatkan mereka dalam sebuah nilai kesetaraan.
Faktanya kita lebih ribut di sisi kulit daripada implementasi "nilai".
Bahkan fatwa pun harus berpihak kepada pemilik modal.
Siapa yang mau menggali lebih dalam, merenungi lebih dalam kisah orang buta
yang diceritakan secara eksplisit dalam awal surat 'abasa wa tawallaa?
Atas nama dakwah, Rasul pun nyaris bersikap sama jika tidak ditegur. Sebuah
kisah yang "menyadarkan".
Padahal wajar, jika hari ini saya bisa happy karena dapat berkenalan dengan
pemilik modal dan pemilik jabatan yang menguasai modal.
Wajar juga jika saya merasa "happy dan berbeda" jika bisa bergaul dalam satu
komunitas yang berada di ruangan ber-ac, penuh aroma harum, kostum yang serba
"terpelajar" di bawah terang benderang lampu ruang.
Wajar juga jika saya hari ini saya mengatakan "maaf ya bu" kepada pengemis yang
mengetuk rumah saya (Ah ganggau aja, bisik hati saya!)
Kalaupun saya ingin memberinya, maka saya harus "mengabadikan"nya dalam gambar
dan dimasukkan dalam kolom seremonia sebuah surat kabar, plus (jangan lupa
sertakan juga) "bendera saya".
Prinsip "memberi tanpa diketahui oleh tangan kiri" sungguh amat merugikan
dilihat dari sisi marketing dan pencitraan.
Sebaliknya adalah tidak realistis.
Mau apa lagi, zamane wis koyo ngene, gak "edan" gak keduman.
Kemiskinan adalah kesialan dalam segala hal.
Pertanyaanya, akankah sikap ini berubah ketika -dalam detik ini juga- sistem
kita bah menjadi "sistem syariati"? i dont think so. Hay`ata, hay`aata.
Salam hangat
Fasihol
________________________________
From: LENI HARTATI <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, June 11, 2010 10:51:41 PM
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?
Assalamu'alaikum,wr.wb
Biaya pelatihan bank syariah sekarang, malah tergolong murah Pak Faishol.
Pernah lihat gak tarif training bank di konvensional atau lembaga keuangan
konvensional, bisa mencapai 3,5 jutaan. Kuliah S2 di MM UI harganya 92 juta
Pak. Jadi harga-harga training bank syariah masih tergolong murah.Pelatihan
tentang BMT,tentu lebih murah lagi. . Biaya kuliah untuk dapet ilmu di Fakultas
Ekonomi atau Sekolah perbankan juga tidak murah Pak. Untuk 1 Semester di
Perbanas aja , lebih 10 jutaan, berarti 1 tahun 20 jutaan, Kalikan 4 tahun Pak.
Berapaan tuh? Belum S2nya Pak. Jadi Biaya yang ada sekarang masih sedang,
bahkan murah. Namun jika dibandingkan dengan biaya pendidikan madrasah di desa,
ya, jelas, biaya training tersebut kemahalan.
Sekian sekedar perbandingan
Pada 8 Juni 2010 15:16, AYeeP <fais1...@yahoo. com> menulis:
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>
>>
>
>>
>
>Salam,
>
>Mengapa pelatihan, seminar dan sejenisnya yang berkaitan dengan perbankan
>islam atau ekonomis islam begitu mahal?
>>Hingga sekarang saya tak habis pikir, variable apa yang membuatnya bernilai
>>juta-jutaan?
>Apakah karena varibel fee dan transoprtasi pemakalah atau pembicara yang
>tinggi? Sewa gedung? harga kopi dan soft drink? variable harga trend?
>Atau ini semua bisnis sebagaimana biasanya? Atau mungkin
>saya saja yang berpikiran cekak, kuno, gak maju, ndeso?
>Apakah ini indikasi bahwa geliat aktifitas ekonomi bernafaskan islam adalah
>geliat ekonomi biaya tinggi?
>
>Kalau mau jujur, tidak sedikit yang hanya berlomba mengumpulkan sertifikat.
>Tentu bukan sekedar "kertas itu ukuran A4" itu yang penting, tetapi implikasi
>eksistensi sertifikat yang berakhir pada harga jual "personal".
>
>Sentillah saya jika apa yang menggangu pikiran saya ini dinilai "mengganggu".
>
>Salam hangat,
>Faishol
>
>
>
>>
>
>
>