Hmmm.... mahal DIBANDINGKAN apa ya? mahal DIBANDINGKAN dengan MANFAAT??
hehehehe

2010/6/14 AYeeP <[email protected]>

>
>
> Salam,
>
> Apa yang ditulis oleh bu Leni Hartati adalah sebuah realita yang
> menyakitkan jika dibaca oleh orang miskin. Hal itu semakin membuktikan bahwa
>
>
>    1. Orang miskin tidak boleh mendapatkan pendidikan (kalau mau ke desa
>    saja sono, sekolah di madurasa eh salah, madrasah)
>    2. Orang miskin tidak boleh sehat (kalau mau juga usahakan jangan
>    sampai sakit lalu masuk rumah sakit)
>    3. Orang miskin tidak boleh memimpin (kalau mau juga siapkan uang
>    milyaran untuk menjadi sekedar bupati atau gubernur)
>    4. Orang miskin tidak boleh berusaha (toh yang diuber-uber satpol
>    selalu mereka)
>
> Intinya, "sistem ini" melarang orang miskin untuk hidup di bumi Indonesia.
> Mari kita hancurkan orang miskin!
>
> Lalu kita bicara hingga berbuih berbicara tentang sebuah teori ekonomi
> islam yang -secara filosofis- konon membebaskan dan menjunjung tinggi
> kemanusiaan, memanusiakan manusia dan menempatkan mereka dalam sebuah nilai
> kesetaraan.
> Faktanya kita lebih ribut di sisi kulit daripada implementasi "nilai".
>
> Bahkan fatwa pun harus berpihak kepada pemilik modal.
>
> Siapa yang mau menggali lebih dalam, merenungi lebih dalam kisah orang buta
> yang diceritakan secara eksplisit dalam awal surat 'abasa wa tawallaa?
> Atas nama dakwah, Rasul pun nyaris bersikap sama jika tidak ditegur. Sebuah
> kisah yang "menyadarkan".
> Padahal wajar, jika hari ini saya bisa happy karena dapat berkenalan dengan
> pemilik modal dan pemilik jabatan yang menguasai modal.
> Wajar juga jika saya merasa "happy dan berbeda" jika bisa bergaul dalam
> satu komunitas yang berada di ruangan ber-ac, penuh aroma harum, kostum yang
> serba "terpelajar" di bawah terang benderang lampu ruang.
> Wajar juga jika saya hari ini saya mengatakan "maaf ya bu" kepada pengemis
> yang mengetuk rumah saya (Ah ganggau aja, bisik hati saya!)
> Kalaupun saya ingin memberinya, maka saya harus "mengabadikan"nya dalam
> gambar dan dimasukkan dalam kolom seremonia sebuah surat kabar, plus (jangan
> lupa sertakan juga) "bendera saya".
> Prinsip "memberi tanpa diketahui oleh tangan kiri" sungguh amat merugikan
> dilihat dari sisi marketing dan pencitraan.
>
> Sebaliknya adalah tidak realistis.
>
> Mau apa lagi, zamane wis koyo ngene, gak "edan" gak keduman.
>
> Kemiskinan adalah kesialan dalam segala hal.
>
> Pertanyaanya, akankah sikap ini berubah ketika -dalam detik ini juga-
> sistem kita bah menjadi "sistem syariati"? i dont think so. Hay`ata,
> hay`aata.
>
> Salam hangat
> Fasihol
>
> ------------------------------
> *From:* LENI HARTATI <[email protected]>
>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Fri, June 11, 2010 10:51:41 PM
> *Subject:* Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?
>
>
>
> Assalamu'alaikum,wr.wb
> Biaya pelatihan bank syariah sekarang, malah  tergolong murah Pak Faishol.
> Pernah lihat gak tarif training bank di konvensional atau lembaga keuangan
> konvensional, bisa mencapai 3,5 jutaan. Kuliah S2 di MM UI harganya 92 juta
> Pak. Jadi harga-harga training bank syariah masih tergolong murah.Pelatihan
> tentang BMT,tentu lebih murah lagi. . Biaya kuliah untuk dapet ilmu di
> Fakultas Ekonomi atau Sekolah perbankan juga tidak murah Pak. Untuk 1
> Semester di Perbanas aja , lebih 10 jutaan, berarti 1 tahun 20 jutaan,
> Kalikan 4 tahun Pak. Berapaan tuh?  Belum S2nya Pak. Jadi Biaya yang ada
> sekarang masih sedang, bahkan murah. Namun jika dibandingkan dengan biaya
> pendidikan madrasah di desa, ya, jelas, biaya training tersebut kemahalan.
>
> Sekian sekedar perbandingan
>
> Pada 8 Juni 2010 15:16, AYeeP <fais1...@yahoo. com 
> <[email protected]>>menulis:
>
>>
>>
>> Salam,
>>
>> Mengapa pelatihan, seminar dan sejenisnya yang berkaitan dengan perbankan
>> islam atau ekonomis islam begitu mahal?
>> Hingga sekarang saya tak habis pikir, variable apa yang membuatnya
>> bernilai juta-jutaan?
>> Apakah karena varibel fee dan transoprtasi pemakalah atau pembicara yang
>> tinggi? Sewa gedung? harga kopi dan soft drink? variable harga trend?
>> Atau ini semua bisnis sebagaimana biasanya? Atau mungkin saya saja yang
>> berpikiran cekak, kuno, gak maju, ndeso?
>> Apakah ini indikasi bahwa geliat aktifitas ekonomi bernafaskan islam
>> adalah geliat ekonomi biaya tinggi?
>>
>> Kalau mau jujur, tidak sedikit yang hanya berlomba mengumpulkan
>> sertifikat. Tentu bukan sekedar "kertas itu ukuran A4" itu yang penting,
>> tetapi implikasi eksistensi sertifikat yang berakhir pada harga jual
>> "personal".
>>
>> Sentillah saya jika apa yang menggangu pikiran saya ini dinilai
>> "mengganggu".
>>
>> Salam hangat,
>> Faishol
>>
>>
>>
>>
>
>  
>

Kirim email ke