2010/6/14 AYeeP <[email protected]>
>
>
>
> Salam,
>
> Apa yang ditulis oleh bu Leni Hartati adalah sebuah realita yang menyakitkan 
> jika dibaca oleh orang miskin. Hal itu semakin membuktikan bahwa
>
> Orang miskin tidak boleh mendapatkan pendidikan (kalau mau ke desa saja sono, 
> sekolah di madurasa eh salah, madrasah)
> Orang miskin tidak boleh sehat (kalau mau juga usahakan jangan sampai sakit 
> lalu masuk rumah sakit)
> Orang miskin tidak boleh memimpin (kalau mau juga siapkan uang milyaran untuk 
> menjadi sekedar bupati atau gubernur)
> Orang miskin tidak boleh berusaha (toh yang diuber-uber satpol selalu mereka)
>
> Intinya, "sistem ini" melarang orang miskin untuk hidup di bumi Indonesia. 
> Mari kita hancurkan orang miskin!
>


Walaupun miskin, gak boleh putus asa Pak.
Sebenarnya ilmu itu ada dan bisa didapat dengan mudah.
Mengenai mahal dan murah itu hanya pilihan aja.

Saya sering berkunjung ke perpustakaan umum daerah.
Di sana mau belajar apa aja bukunya ada, padahal hanya kelas kabupaten.
Apalagi yang di Salemba, tingkat nasional.
Masuknya gratis, ruangan ber-AC, pinjam buku gak bayar.
Asal kita punya cukup keteguhan hati dan disiplin diri,
setiap hari datang, belajar sendiri, saya yakin 3 bulan sudah ngerti
ekonomi syariah.

Atau kalo mau lebih mahal sedikit, pergi ke warnet, 3000/jam.
Jaman sekarang pelajaran apa sih yang gak ada di internet.
Asal kesungguhan hati itu ada, tidak lebih dari 6 bulan harusnya sudah ngerti.

Tapi banyak dari kita tidak punya cukup disiplin diri untuk belajar otodidak.
No problem, tetap bisa mendapat ilmu, tentunya dengan membayar jasa
orang untuk 'memaksa' kita hadir di kelas dan mengajari kita.
Karena orang yang mengajari tentu juga harus menafkahi keluarganya.

Nah sekarang, pilihan ada di diri sendiri.
Mau berusaha atau mau terus merasa menjadi korban.

Wishful thinking? Ngga kok, cara di atas itu berdasarkan pengalaman pribadi.
Saya dulu gak tau apa-apa tentang komputer, lalu nebeng belajar
komputer di perpustakaan kampus, sampe akhirnya jadi dosen ngajar
komputer di kampus tsb.


Miskin uang itu sementara, tapi miskin semangat itu permanen.

--
Endy Muhardin
http://endy.artivisi.com
Y! : endymuhardin
-- life learn contribute --

Kirim email ke