saya menyesal sekali tidak punya kemampuan mengakses reference terkait
kesahehan sebuah hadis. tapi secara logika saya menolaknya. masa agama yg
sangat menganjurkan persatuan (wa`tashimuuuuuuuuu bihablillahi walaaa
tafarraquuuuuuuu) justru malah mengkampanyekan slogan berlawanan bahwa
ikhtilafu ummati rahmah (perselisihan/perbedaan adalah rahmat). logikax -tentu
logika bahlul-bahlulan- kalau kita ingin banyak mendapatkan rahmat maka
perbanyak saja perselisihan diantara kita. kalau redaksix ikhtilafu ummat
laknah (bahwa perselisihan umat adalah tercela) kayanya lebih pas.
Thanks Ust. Qalam atas pencerahannya, saya ingin mengucapkan salam kenal
qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Baik saya ingin menjawab pandangan saudara hasan
Pertama-tama tentang hadist "Ikhtilafu Ummati rahmat" itu adah hadist
yang rendah derajat, yakni dhoif bahkan maudu' saya mendapati hal itu
dari buku Sifat Sholat Nabi karya Shaikh M. Nassirudin Al-Bani
(seorang ahli hadits) semoga alloh merahmatinya dalam mukaddimah
pada catatan kaki. Dan silahkan anda lacak juga tentang derajat
hadits tersebut dalam buku Silsilah Hadist dhoif dan maudu' karya
shaikh
Al-bani Gema Insani Pers.
Ya itulah yang terjadi dimasyarakat dimana banyak tersebar luas hadits
-hadits yang derajat sanadnya lemah bahkan maudu sebagai pegangan
agama, padahal kita tidak boleh mengamalkan dan meyakini
hadist-hadist tersebut karena itu bukan perkataan dari Rasulluloh.
Anda bisa lacak kata-kata yang shahihnya
Ijma atau kebulatan pendapat memang ada dalam islam dan ada
banyak jenis nya
1. Ijma qauli (Ijma dalam perkataan)
2. Ijma sukuti (yakni diamnya sebagiaan para ahli ijtihad dalam
seuatu pernyataan yang disepakati oleh sebagian ahli ijtihad) dan
diamnya mereka menunjukkan persetujuan kepada para ahli ijtihad yang
berbicara
Selain itu Macam-macam Ijma itu banyak
1. Ijma para sahabat
2. Ijmat khalifah yang empat
3. Ijma abu bakar RA dan Umar RA
4. Ijma ulama madinah
5. Ijma ulama Kuffah dll
Ijma itu ada contohnya kesepakatan dari para sahabat dalam membukukan
Al-qu'ran dalam satu mushaf pada zaman kahlifah Abu Bakar RA, yang di
masa nabi hal tersebut tidak pernah ada.
Kesepakatan dari para sahabat itu yang mak'sum karena telah ada
jaminan dari Sabda Nabi SAW bahwa "umatku ini tidak bersepakat dalam
kesesatan" tentu yang dimaksud adalah para sahabat bukan generasi
setelahnya...
Maaf anda dari syi'i bukan menyinggung tapi memang
tidak akan pernah bersepakat kita memang dalam benyak hal
karena perbedaan prinsip yang mendasar...
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.