sdikit sharing brdasarkan pngalaman dari orang2 trdekat saya yang menjadi guru (guru bagi anak orang lain dan anaknya sndiri). suatu pekerjaan yang tidak gampang karena dia brhadapan dg pekerjaan 'mendidik' anak yang notabene penerus bangsa. karena gaji yang kecil itu, maka mereka dituntut untuk hidup sderhana. dulu mungkin hal semacam ini tidak menajdi masalah. tapi sekarang mereeka dituntut untuk lebih cerdas membuat strategi survive baik untuk dirinya dan keluarganya. belum lagi sekarang ini guru dituntut profesionalitasnya seiring dengan kemajuan teknologi mereka harus mampu menggunakan teknologi dan berkreatifitas dalam mengajar. tentunya ini akan menambah waktu bagi mereka untuk memikirkan metode pengajaran dan lainnya. Bukannya memang pekerjaan seperti proses belajar juga? dimana tidak hanya berhenti pada jam kerja, tapi juga prosesnya...yang tentunya itu hanya bisa dilakukan di luar jam mengajar. hmmm dijaman sekarang ini memang tuntutan terhadap guru semakin banyak, apalagi jika kemudian dikaitkan dengan tugas guru yang salah satunya membangun akhlak dan mental anak didiknya, bertambah berat bukan karena berarti dia harus menempatkan anak didiknya sebagai anaknya sndiri juga dalam artian siap membantu anak didik tersebut kapan saja jika ada masalah, perlu membangun kedekatan personal pada anak didiknya, dll. (tolong koreksi kalau salah). Tapi saya merasakan kedekatan guru dan murid membantu relasi mereka ke arah yang lebih baik asal tidak ada penyalahgunaan kekuasaan disini. belum lagi jika guru tersebut di pedalaman atau di daerah yang sulit transportasi. wah, akan bertambah runyam lagi hidupnya karena mereka bisa menerima gaji secara rapel 3 bulan sekali atau bahkan 6 bulan sekali. bagaimana mereka hidup? itu pintar2nya mereka surviive, bisa dengan hutang sana-sini atau hutang ke sekolah, bisa dari tabungan, bisa dari kerja sampingan, dll. itu yang mestinya dipikirkan juga. sedangkan tuntutan mereka semakin banyak termasuk dalam pekerjaan dan dalam hidupnya. belum lagi status mereka, apakah masih PTT atau dah PNS. akan berbeda dampaknya jika di daerah. guru PNS, meskipun tidak semuanya, mereka menjadi tidak produktif karena sudah merasa mempunyai gaji tetap. mereka hanya mengambil jam mengajar sedikit saja, dengan asumsi dia bisa kerja sampingan. mereka (PNS) mengandalkan guru honorer (PTT) yang relatif masih muda-muda dan semangat inovatifnya tinggi dan mempunyai skill yang lebih maju di banding guru yang sudah tua (PNS). di beberapa sekolah mungkin bisa dilihat yang nyantai2 justru guru PNS dan yang sibuk kesana kemari guru PTT. Ini yang prlu dirubah. meski tidak dipungkiri juga guru PNS yang sudah tua masih semangat untuk memajukan kemampuan mengajarnya dengan mengejar ketertinggalan dan berinovasi dalam mengajar. Salut buat mereka.
regards, estoe ----- Original Message ----- From: ddinasty_a04 To: [email protected] Sent: Tuesday, March 06, 2007 4:29 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Jam Kerja Guru Rata-rata 15,5 Jam Perhari Mengikuti diskusi antara rekan Manneke dan rekan Satria, mengingatkan saya akan diskusi antara rekan Manneke dan Daskopilental beberapa waktu soal "budaya". . [Non-text portions of this message have been removed]
