Buku/Tulisan ini akan bagus kalau mengulas secara khusus, kenapa pemikiran 
Widjojo produk akhirnya adalah Indonesia yang hancur lebur, ketergantungan 
utang yang akut, dan kemiskinan yang bertambah-tambah. Mestinya Widjojo jujur 
saja mengakui hal itu. Baru orang cerdas bener. Kadang jujur pada diri sendiri 
memang berat dan nyinyir...
 
 guntoro soewarno
 media indonesia

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Oleh ST SULARTO
 http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/10/utama/3372790.htm
 ===========================
 
 Nama Prof Dr Widjojo Nitisastro (79) tak bisa dipisahkan dari 
 pembangunan ekonomi Indonesia periode 1966-1997. Dialah arsitek 
 ekonomi atau pemikir ekonomi Orde Baru. Dialah satu-satunya konseptor 
 dan arsitek ekonomi Orde Baru, tulis Ali Wardhana. 
 
 Sosok kepribadiannya, menurut Emil Salim, secara simbolis tergambar 
 dalam beberapa patung kecil di ruang kerja Widjojo saat berkantor di 
 Gedung Bappenas, Jalan Suropati, Jakarta. Satu patung seorang dirigen 
 sedang memimpin orkes, lainnya patung tiga monyet duduk berdampingan, 
 yang satu menutup mulut, satu lagi menutup mata, satu lagi menutup 
 telinga. 
 
 Menurut Emil Salim, berkecimpung dalam pemerintahan selama 45 tahun, 
 Widjojo dalam posisi memimpin ibarat "seorang dirigen". Mulai dari 
 asisten dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam usia 25 
 tahun hingga memimpin dan merintis perombakan ekonomi Indonesia 
 selaku Ketua Tim Ahli Ekonomi Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet 
 Jenderal Soeharto yang dimulainya dalam usia 38 tahun. 
 
 Dalam posisi itu Widjojo banyak mengetahui, mendengar, melihat, dan 
 mengalami. Namun, dia pun mengambil posisi diam, lebih banyak berada 
 di belakang panggung, tidak mau populer di bawah lampu sorot dan 
 tepuk tangan. 
 
 Terbitnya dua buku kumpulan tulisan para sahabatnya—keduanya 
 diterbitkan Penerbit Buku Kompas—menurut Ketua LPEM UI Muhammad 
 Chatib Basri (Kompas, 26/2) barangkali sedikit mengobati kerinduan 
 itu. Buku pertama ditulis 55 sahabatnya di Indonesia berjudul Kesan 
 Para Sahabat tentang Widjojo Nitisastro; buku kedua ditulis 71 
 sahabat orang asing berjudul Tributes for Widjojo Nitisastro by 
 Friends from 27 Foreign Countries. Naskah kedua buku itu dipersiapkan 
 sebagai festschript 70 tahun usia Widjojo, 23 November 1997, hampir 
 sepuluh tahun lalu. Dieditori Moh Arsyad Anwar, Aris Ananta, dan Ari 
 Kuncoro. Mereka bertiga yang merencanakan, mengirimkan permintaan 
 kepada penyumbang tulisan, dan mengedit. 
 
 Hampir 10 tahun naskah itu mengendap. Baru pada akhir 2006 mulai 
 diproses untuk diterbitkan. "Saya maju mundur untuk menerbitkan 
 kumpulan tulisan itu. Tetapi ketika beberapa kontributornya 
 meninggal, saya tidak enak untuk tidak menerbitkannya segera," kata 
 Widjojo kepada Jakob Oetama, salah satu rekan dekatnya. Dari 55 
 kontributor sahabat Indonesia, hingga November 2006—saat naskah 
 ditangani untuk diterbitkan—14 di antaranya sudah meninggal, dari 71 
 kontributor sahabat asing 12 di antaranya sudah meninggal. "Saya 
 merasa tak enak. Belum lagi setiap kali ada pertanyaan dari beberapa 
 rekan kapan buku itu terbit," katanya. 
 
 Memang, akhirnya kedua buku itu terbit pertengahan Januari 2007. Dan 
 pada Selasa (13/3) pukul 13.00, buku tersebut akan didiskusikan di 
 Hotel Santika dengan pembahas Emil Salim, M Sadli, Muhammad Chatib 
 Basri, dan Ari Kuncoro. 
 
 Menko Perekonomian Boediono, salah satu kontributor, menggambarkan 
 sosok Widjojo sekaliber Mohamad Hatta dan Sumitro 
 Djojohadikusumo. "Beliau-beliau adalah men of letters dan sekaligus 
 men of affairs. Beliau-beliau telah memberikan bentuk dan warna 
 terhadap perkembangan pemikiran ilmu ekonomi di Indonesia dan 
 pelaksanaan kebijakan ekonomi di Tanah Air." 
 
 Emil Salim, rekan sekolega dalam kelompok kerja yang diberi 
 label "Mafia Berkeley" itu, menunjukkan tiga ciri pokok Widjojo. 
 
 Pertama, Widjojo seorang intelektual yang pada asasnya bertindak 
 sebagai hati nurani masyarakat. Kedua, seorang pekerja keras, nyaris 
 gila kerja (workaholic), teguh memegang sasaran yang ingin dicapai. 
 Ketiga, sikap berjuang tanpa pamrih. Bagi Widjojo, terwujudnya cita-
 cita jauh lebih penting ketimbang pamrih yang melekat dengan 
 pelaksanaan pekerjaan itu. 
 
 Dalam konteks ketiga pokok di atas—dengan istilah masing-masing, 
 seperti pekerja keras menurut Astrid S Susanto, perfectionist menurut 
 BS Muljana, Adrianus Mooy, dan Kunarjo, sepi ing pamrih rame ing gawe 
 menurut Jakob Oetama, hari kerja bukan 6 hari, tetapi kalau bisa 8 
 hari menurut Ali Wardhana, sosok luar biasa menurut istilah John 
 Bresnan, penemu sejumlah kebijakan yang berpihak kepada rakyat 
 seperti konsep trilogi pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, 
 pemerataan) menurut Saleh Affif—Widjojo tidak bisa lepas dari sebutan 
 arsitek atau pemikir ekonomi Orde Baru satu-satunya menurut Ali 
 Wardhana. Dialah "dirigen" sebuah pertunjukan orkes, "lurah" atau 
 digelari sinis "Don Mafia Berkeley". Tulis Emil Salim, "… bisa 
 dibayangkan kejengkelannya ketika orang mengungkapkan istilah 
 Widjojonomics yang memberi pengakuan pada diri Widjojo atas 
 perkembangan ekonomi Indonesia". 
 
 Dalam hubungan dengan media massa, Jakob Oetama menilai Widjojo 
 menjalin akrab dengan pers, memberikan penjelasan setiap awal tahun 
 anggaran baru, berdialog langsung dengan pemimpin redaksi mengenai 
 latar belakang, tujuan, dan implikasi kebijakan-kebijakan strategis 
 ekonomi. Pengalaman Jakob tentang hubungan akrabnya dengan pers 
 digambarkan juga oleh Sumadi bahwa "dalam pandangan pers dan 
 masyarakat, Pak Widjojo adalah juru bisa ekonomi Indonesia". 
 
 Kebiasaan pertemuan para menteri bidang ekuin termasuk Widjojo dengan 
 media membangun suasana saling menghargai dan memercayai. 
 
 Mengambil manfaat pengalaman itu, Jakob menulis "adakalanya saya 
 berpikir, seberapa jauh dialog teratur itu ikut menjadi faktor yang 
 menyebabkan peralihan strategi pembangunan ekonomi di negeri ini 
 tidak disertai ketegangan dan gejolak yang mengganggu". 
 
 Dalam konteks ausdauer, ada humor yang beredar antara Widjojo dan Ali 
 Wardhana. Kalau usulan pemikiran Ali Wardhana ditolak, ia pulang dan 
 bermain golf. Sebaliknya Widjojo akan kembali ke kantor dan 
 memikirkan pola dan cara lain sampai akhirnya pemikiran dan usulan 
 itu diterima. Tulis Jakob, "warisan yang ditinggalkan oleh Prof 
 Widjojo yang ulet, sabar, cerdas, pintar, kreatif, dan inovatif 
 mencari jalan dan menjual gagasannya, menghadapi aneka macam hambatan 
 dan rintangan". 
 
 Kebiasaan kerja ulet, tidak kenal waktu, menjadi bagian integral 
 Widjojo. Lampu ruang kerjanya dengan jendela tetap terbuka di Gedung 
 Bappenas hingga larut malam adalah pemandangan biasa. Sampai-sampai 
 karyawan dan stafnya rikuh untuk pulang lebih dulu. 
 
 Bagi Widjojo, otak dan kaki sama-sama perlu sport. Dikisahkan oleh 
 Budhi Paramita, staf Ketua Bappenas (1967-1970), kegigihan Widjojo 
 yang suka berpikir terlihat ketika dokter menganjurkan jalan kaki 
 pada pagi hari. Kebetulan rumah Widjojo bersebelahan dengan Prof 
 Sadli di Jalan Brawijaya. Dia ajak Sadli jalan kaki bersama. Sadli 
 mengajukan syarat, "Setiap pagi kita keluar dari rumah masing-masing. 
 Saya ke kiri, you ke kanan. Atau kalau you mau ke kiri, saya yang ke 
 kanan." 
 
 "Lho kok gitu," sergah Widjojo. Jawab Sadli, "Saya tidak mau jalan 
 beriringan." Mengapa? "Nanti disuruh mikir terus, bukan jalan-jalan." 
 
 Senada itu, Emil pernah mengeluh. Dalam kesempatan senggang setelah 
 suatu pertemuan serius di Paris, Emil dan Widjojo berencana window 
 shopping dan belanja. Yang terjadi sebaliknya, mereka berdiskusi 
 tanpa henti di pusat perbelanjaan, rencana belanja pun berantakan. 
 
 Kedua buku yang bertema "kesan para sahabat" itu tidak memaparkan 
 kebijakan-kebijakan ekonomi dan dalil-dalil ekonomi yang dibangun 
 Widjojo bersama timnya. Hampir sebagian besar tulisan tidak banyak 
 bergeser dari sosok Widjojo. Lantas ada yang berpikir, untuk masa 
 depan bangsa ini, perlu ditulis pemikiran kritis positif secara 
 menyeluruh dan komprehensif. Kepentingan data yang mendetail seperti 
 diingatkan Lawrenge H Summers dan Nathan Keyfitz di buku itu, salah 
 satu ciri khas cara kerja Widjojo, niscaya menjadi tantangan. Memang, 
 menjelang usia 80 tahun, 23 September 2007, Widjojo tengah 
 mengumpulkan tulisan dan uraian tentang berbagai masalah "krusial" 
 yang pernah dia sampaikan dalam berbagai forum. 
 
 Lahir di Malang, lulus FEUI tahun 1955, lulus doktor ilmu ekonomi 
 dari Universitas California tahun 1961, guru besar dalam usia 34 
 tahun, Widjojo dalam usia 39 tahun diangkat sebagai Ketua Bappenas 
 sekaligus Ketua Tim Ahli Ekonomi Presiden sejak 1967, menteri dan 
 menko, penasihat presiden. Sosok Widjojo juga dikenal luas di luar, 
 sampai-sampai, katanya kepada Kompas, Kamis (8/3) lalu, "Kita pun 
 pernah membantu negara-negara berkembang seperti Afrika Selatan dalam 
 mengentaskan keterbelakangan dan kemiskinan." 
 
 Sekarang sebaliknya? Dia tak berkomentar, dijawab dengan tertawa 
 terbahak-bahak…; ciri khas Prof Widjojo Nitisastro. 
 
 
     
                       

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke