Indonesia hujan bencana. Sejak Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Tsunami Pangandaran, Gempa Manado, Gempa Sumbar, Tanah Longsor, Banjir Jakarta, KA Anjlog, Kecelakaan Pesawat, Kecelakaan Kapal Laut, dan lain-lain yang datangnya tidak lama berselang ...
Setidaknya ada sebuah hikmah, yaitu bahwa pada akhirnya orang menyadari, bahwa bencana demi bencana tidak semata2 fenomena alam, namun erat kaitannya dengan tingkah-laku manusianya. Lalu muncullah istighotsah nasional, Zikir nasional, tobat nasional dan semacamnya yg seolah2 sebuah kesadaran untuk introspeksi dan tobat, namun pada hakekatnya 'kering'. Saya pernah mendengar ceramah seorang ustadz yg mengatakan "BUKAN ITU JAWABANNYA!" Ada benarnya. Karena sebuah tobat harus SPESIFIK, bertobat dari perbuatan apa saja? Lalu akan melakukan perbaikan apa saja? Lihatlah perilaku yang muncul atau masih muncul meskipun telah dilakukan tobat nasional : - KEMUSYRIKAN justru menjadi2. dengan niat untuk menangkal bencana yg mungkin terjadi berikutnya, maka budaya LARUNG SAMUDRA dihidupkan lagi, NYADRAN dsb, SESEMBAHAN untuk RATU LAUT KIDUL, dsb. Apakah ini jawabannya? Bukankah ini justru salah satu pengundang bencana yl? - KEMAKSIATAN mengemuka. Kita menyaksikan kemaksiatan dan DOSA BESAR semakin mengemuka tanpa RASA MALU. Perzinahan merajalela di semua tingkatan, dari pejabat sampai generasi belia, bahkan RAKYAT KECIL pun tidak segan lagi melakukannya. Dan kita beserta ulama dan para pendeta kita membiarkannya ... Apakah ini jawabannya? Bukankah ini justru salah satu pengundang bencana2 itu??? - KORUPSI semakin terbuka. Dalam Islam (sebagai keyakinan saya) KORUPSI adalah DOSA BESAR. Namun pasca reformasi korupsi semakin menjadi dan terang2an, tanpa rasa rikuh dan malu lagi seperti dulu. Di semua bidang, di semua kalangan, seolah2 kalau gak ikut korupsi ya gak kebagian. Apakah ini jawabannya? Bukankah inilah yg telah mengundang bencana2 yl? - DEMOKRASI telah kebablasan dan MERUSAK segalanya. Lihatlah akibat 'demokrasi' semua orang jadi liar. Pilkada hampir selalu menimbulkan bentrokan. Setiap orang merasa HARUS DIDENGAR tanpa harus MENDENGARKAN ORG LAIN. Rasa SALING MENGHORMATI dan SALING MENYAYANGI saudara sebangsa jadi HILANG, sehingga saling FITNAH di muka umum, Tuntutan berubah menjadi PEMAKSAAN KEHENDAK. Rakyat merasa 'lebih pintar' shg aturan apa pun dibuat komentar untuk dilanggar. Demokrasi kita melahirkan PREMANISME di batin kita ... Apakah ini jawabannya? Bukankah ini pula yg telah mengundang bencana di tengah kita? - HARTA dan MODAL menjadi TUHAN BARU. Saat ini dengan sangat LIBERAL perekonomian kita banyak dikuasai PEMODAL yg TIDAK PEDULI dengan kondisi bangsa kita. Akhirnya arus kas kita mengalir ke negeri mereka. Dan bangsa kita tetap nestapa, nggak kebagian lagi fasilitas dasar hidup berupa pendidikan, kesehatan dan bahkan ... BERAS!!! Tidak lagi dilihat HALAL-HARAM. Dan kita telah berbuat apa? Apakah ini jawabannya? Bukankah ini yg telah mendatangkan bencana? - KEMEROSOTAN AKIDAH, AKHLAK dan ETIKA. Tidak ada lagi perasaan : KITA DIAWASI OLEH-NYA, Tidak ada TAKUT NERAKA, Tidak ada kerinduan terhadap SURGA, sehingga tidak ada rasa salah berbuat DOSA atau MENYAKITI ORANG LAIN ... Apakah ini jawabannya? Apakah arti Tobat Nasional kita dengan kondisi demikian??? Apakah itu jawabannya? Maspri
