Untuk kita renungkan…….

Amos, meskipun ia sendiri tidak mau disebut sebagai nabi, namun ia
tercatat sebagai salah satu Nabi yang paling berani mengkritik
kejahatan penguasa di jamannya. Ia berani dengan lantang mengutuk raja
dan bangsa Israel dengan berbagai bencana, karena berbagai
kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan. Ia mengingatkan bangsa
itu, kalau mereka tidak mau bertobat dan berbuat baik, mereka akan
menanggung banyak malapetaka.

Meskipun kita ini bukan bangsa Israel, ada baiknya paparan Nabi Amos
tersebut dijadikan sebagai bahan renungan pribadi dan bersama. Apakah
kita bersih dari dosa-dosa sebagaimana yang dipaparkan Amos itu?
Ataukah kita termasuk orang yang perlu bertobat?

Demikian kejahatan-kejahatan itu disebutkan:
1. mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena
sepasang kasut; 
2. mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan
membelokkan jalan orang sengsara; 
3. anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, 
4. mereka merebahkan diri ...di atas pakaian gadaian orang, 
5. dan minum anggur orang-orang yang kena denda...
6. mereka melakukan pemerasan 
7. mereka tidak tahu berbuat jujur,
8. mereka menimbun kekerasan dan aniaya di dalam purinya.
9. mereka memeras orang lemah, 
10. mereka menginjak orang miskin, 
11. mereka suka pergi ke villa-vila dan melakukan perbuatan jahat, 
12. mereka suka ke luar negeri untuk berbuat jahat
13. mereka suka memberikan sumbangan-sumbangan sukarela untuk mencari
muka dan demi politik
14. mereka tidak bisa mensyukuri rahmat Tuhan atas negeri mereka yang
kaya raya; 
15. mereka tidak sadar-sadar dan bertobat/berbalik pada Tuhan juga,
meskipun sudah ada berbagai bencana (kemarau, hama, penyakit sampar,
gempa) 
16. mereka mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan
kebenaran ke tanah
17. mereka benci kepada yang memberi teguran 
18. mereka keji kepada orang yang berkata dengan tulus ikhlas
19. mereka menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak
penghasilan dari padanya,
20. mereka menjadikan orang benar terjepit, menerima uang suap dan
mengesampingkan orang miskin
21. mereka menganggap jauh hari malapetaka, tetapi mendekatkan
pemerintahan kekerasan; 
22. mereka mengubah keadilan menjadi racun dan hasil kebenaran menjadi
ipuh,
23. mereka menginjak-injak orang miskin, dan membinasakan orang
sengsara di negeri ini
24. mereka menawarkan beras dengan mengecilkan takaran, berbuat curang
dengan timbangan palsu,
25. mereka membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin
karena sepasang kasut; 
26. mereka menjual beras rosokan.....

Demikian antara lain kejahatan bangsa itu. Dan atas kejahatan itu
bangsa Israel harus mendapat hukuman. 

Mengharukan bahwa para pemimpin kita mengajak kita untuk bertobat dan
berzikir. Bertobat artinya, kita semua, yang merasa diri berdosa,
diajak untuk menghentikan perbuatan jahat kita dan kembali pada Allah.
Kembali pada Allah berarti memulai untuk mengubah pikiran, perkataan
dan perbuatan (kelakuan diri) kita agar sejalan dengan kehendak Allah. 

Mengubah pikiran, perkataan dan perbuatan (kalakuan) ini bukanlah
sekedar kata-kata atau keinginan saja. „Mengubah" adalah kata kerja,
maka mengubah baru berarti ketika orang berbuat. Maka sepantasnya,
para pemimpin/penguasa dan kita semua, tidak hanya mengajak orang lain
untuk mengubah perilaku hidup dengan kata-kata ajakan, „marilah kita
bertobat," melainkan orang lain bisa melihat dari perbuatan kita,
bahwa „kita sudah bertobat." 

Lalu apa yang harus kita lakukan dalam pertobatan itu? 26 point diatas
dapat dijadikan acuan refleksi dan bahan untuk bermawas diri. Bahasa
dan konteksnya mungkin berbeda dengan kehidupan keseharian kita saat
ini, namun intinya toh tetap relevan.

Bagi saya dan saudara-saudara yang beragama Katolik, ajakan para
pemimpin untuk bertobat saat ini sangat relvan, karena saat ini kita
sedang menjalani masa puasa. Dalam masa puasa ini tobat adalah salah
satu inti perjuangan kita. Bertobat bagi kita tidak hanya tidak
melakukan kejahatan, melainkan proaktif untuk berbuat baik, berbuat
amal, berbuat kasih.

Salam
Mulyadi





--- In [email protected], "suprijodio"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Indonesia hujan bencana. Sejak Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Tsunami 
> Pangandaran, Gempa Manado, Gempa Sumbar, Tanah Longsor, Banjir 
> Jakarta, KA Anjlog, Kecelakaan Pesawat, Kecelakaan Kapal Laut, dan 
> lain-lain yang datangnya tidak lama berselang ...
> 
> Setidaknya ada sebuah hikmah, yaitu bahwa pada akhirnya orang 
> menyadari, bahwa bencana demi bencana tidak semata2 fenomena alam, 
> namun erat kaitannya dengan tingkah-laku manusianya.
> 
> Lalu muncullah istighotsah nasional, Zikir nasional, tobat nasional 
> dan semacamnya yg seolah2 sebuah kesadaran untuk introspeksi dan 
> tobat, namun pada hakekatnya 'kering'.
> 
> Saya pernah mendengar ceramah seorang ustadz yg mengatakan "BUKAN ITU 
> JAWABANNYA!"
> 
> Ada benarnya. Karena sebuah tobat harus SPESIFIK, bertobat dari 
> perbuatan apa saja? Lalu akan melakukan perbaikan apa saja?
> 
> Lihatlah perilaku yang muncul atau masih muncul meskipun telah 
> dilakukan tobat nasional :
> 
> - KEMUSYRIKAN justru menjadi2. dengan niat untuk menangkal bencana yg 
> mungkin terjadi berikutnya, maka budaya LARUNG SAMUDRA dihidupkan 
> lagi, NYADRAN dsb, SESEMBAHAN untuk RATU LAUT KIDUL, dsb. Apakah ini 
> jawabannya? Bukankah ini justru salah satu pengundang bencana yl?
> 
> - KEMAKSIATAN mengemuka. Kita menyaksikan kemaksiatan dan DOSA BESAR 
> semakin mengemuka tanpa RASA MALU. Perzinahan merajalela di semua 
> tingkatan, dari pejabat sampai generasi belia, bahkan RAKYAT KECIL 
> pun tidak segan lagi melakukannya. Dan kita beserta ulama dan para 
> pendeta kita membiarkannya ... Apakah ini jawabannya? Bukankah ini 
> justru salah satu pengundang bencana2 itu???
> 
> - KORUPSI semakin terbuka. Dalam Islam (sebagai keyakinan saya) 
> KORUPSI adalah DOSA BESAR. Namun pasca reformasi korupsi semakin 
> menjadi dan terang2an, tanpa rasa rikuh dan malu lagi seperti dulu. 
> Di semua bidang, di semua kalangan, seolah2 kalau gak ikut korupsi ya 
> gak kebagian. Apakah ini jawabannya? Bukankah inilah yg telah 
> mengundang bencana2 yl?
> 
> - DEMOKRASI telah kebablasan dan MERUSAK segalanya. Lihatlah 
> akibat 'demokrasi' semua orang jadi liar. Pilkada hampir selalu 
> menimbulkan bentrokan. Setiap orang merasa HARUS DIDENGAR tanpa harus 
> MENDENGARKAN ORG LAIN. Rasa SALING MENGHORMATI dan SALING MENYAYANGI 
> saudara sebangsa jadi HILANG, sehingga saling FITNAH di muka umum, 
> Tuntutan berubah menjadi PEMAKSAAN KEHENDAK. Rakyat merasa 'lebih 
> pintar' shg aturan apa pun dibuat komentar untuk dilanggar. Demokrasi 
> kita melahirkan PREMANISME di batin kita ...
> Apakah ini jawabannya? Bukankah ini pula yg telah mengundang bencana 
> di tengah kita?
> 
> - HARTA dan MODAL menjadi TUHAN BARU. Saat ini dengan sangat LIBERAL 
> perekonomian kita banyak dikuasai PEMODAL yg TIDAK PEDULI dengan 
> kondisi bangsa kita. Akhirnya arus kas kita mengalir ke negeri 
> mereka. Dan bangsa kita tetap nestapa, nggak kebagian lagi fasilitas 
> dasar hidup berupa pendidikan, kesehatan dan bahkan ... BERAS!!! 
> Tidak lagi dilihat HALAL-HARAM. Dan kita telah berbuat apa? Apakah 
> ini jawabannya? Bukankah ini yg telah mendatangkan bencana?
> 
> - KEMEROSOTAN AKIDAH, AKHLAK dan ETIKA. Tidak ada lagi perasaan : 
> KITA DIAWASI OLEH-NYA, Tidak ada TAKUT NERAKA, Tidak ada kerinduan 
> terhadap SURGA, sehingga tidak ada rasa salah berbuat DOSA atau 
> MENYAKITI ORANG LAIN ... Apakah ini jawabannya?
> 
> Apakah arti Tobat Nasional kita dengan kondisi demikian???
> Apakah itu jawabannya?
> 
> Maspri
>


Kirim email ke