Salam, Saya bukan orang emosi. Yang saya fikirkan adalah bahwa PENGHARGAAN dan PENGHORMATAN kepada tokoh besar dan mulya seperti Gus Dur, harus sepadan dengan INDAHNYA dan terutama PEMELIHARAAN dari jalan sendiri yang di kota besar lebih terjamin..Di Indonesia yang namanya JALAN hanya adalah satu nama, sedangkan dalam bahasa Eropa lebih dari 5 tergantung dari tingkatannya.Dan tingkat tertinggi adalah BOULEVART yang hanya ada dioibukota provinsi. Mau saya jl.Abdulrachman Wahid ataupun Gus Dur harus setingkat boulevart dan tidak rela jika penuh sampah atau jalannya berlobang dsb.Dengan bermacam alasan Pemda karena anggarannya belum turun dsb.. Semoga dapat dimngerti. Wasalam, Wal Suparmo
--- Pada Jum, 8/1/10, Erwinthon P. Napitupulu <[email protected]> menulis: Pak Wal, Apakah itu ukuran kepantasan penghargaan penuh? Kota itu selalu lebih dari desa (termasuk lebih arif, lebih inklusif, lebih demokratis)? Kalau begitu, menurut Anda, di Jombang yang bukan ibukota provinsi kurang pantas ada Jalan Gus Dur. Menurut saya, di kota baik (kalau di kota nama jalannya Jl. K. H. Abdurrahman Wahid, kalau bisa jalan protokol juga bagus. Boleh juga untuk nama kawasan yg sering dijadikan tempat berdemokrasi), di desa juga bagus (namanya Jl. Gus Dur). Salah satu pokoknya adalah itu merupakan prakarsa masyarakat. Dari bawah, bukan sekadar perintah dari atas. Orang desa juga perlu "diingatkan" tentang kebesaran Gus Dur (salah satunya dng nama jalan). Bukan tidak mungkin dari desa akan muncul orang2 yg berjiwa besar. Horas! erwin
