Pak Manneke, moral itu apa sih? Sederhananya moral itu adalah sistem 
untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. 

Sekarang coba saya urut lagi cara berpikir Anda yang kemana-mana itu:

1. Okelah menurut Anda (menurut Anda nih, karena statement Anda tidak 
ada referensinya) manusia itu dikarunai yang namanya "moral sense". 
Artinya menurut Anda dari lahir dia "diberi potensi" bisa mengenali 
mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan diplesetin lagi.

2. Terus argumen Anda lagi, nilai moral macam apa yang dipegang 
manusia tergantung interaksi dengan lingkungannya. Yang diturunkan 
kan cuma potensi toh?

3. Karena itu "semua orang tau" dong nilai-nilai moral itu relatif 
sifatnya. Yang baik di San Diego belum tentu baik di Santiago. 
Kecuali kalau Anda mau berkelit lagi bilang baik dan buruk itu 
absolut sifatnya.

4. Argumen saya bahwa perempuan itu dari sononya (tidak peduli dia di 
Oslo atau di Solo) suka laki-laki yang dominan. Dasar saya adalah 
evolusi.

5. Pemahaman saya (dan ini saya garis bawahi) Anda berargumen bahwa 
karena interaksi dengan lingkungannya (yang mempropagandakan hidup 
monogamis) si "moral sense" ini menekan kecenderungan untuk mencari 
pria dominan sebagai partner.

6. Jadi pada dasarnya Anda cuma mau bilang kalau kemauan perempuan 
mencari partner "setara" itu cuma konstruksi sosial? Ya monggo, Pak. 
Dengan demikian Anda tidak jadi berseberangan dengan saya toh?

Gitu kok saya yang dituduh mbulet. Anda sih Prozac disangka Rujac, 
jadi main sendok saja...

Andi

--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 1) Yang penting bukan pelan atau cepat, Bung. Yang penting logis 
dan tak muter-muter. 
>    
>   2) soal moral sense: makin terlihat betapa tak nyampainya 
kapasitas berpikir Anda dalam memahami perdebatan soal moral ini. Dan 
juga makin nyata bahwa Anda berpegang pada Darwinian ortodoks yang 
sudah ketinggalan zaman. Tentu saja, tindakan atau nilai seorang 
individu berhenti dengan matinya orang tersebut. Emang, yang 
mempersoalkan hal ini siapa sih? rajin amat sih Anda buka arena baru 
untuk mengalihkan perdebatan? He he he. Yang bilang bahwa anak jadi 
tukang tepu karena gen bapaknya itu siapa? Kali ini Anda betul-betul 
bodor asli! Nggak mudeng juga ya puluhan kali dikatakan bahwa gen 
cuma pembawa potensi, dan potensi yang dibawa pun adalah hasil proses 
evolusi panjang, bukan cuma satu dua keturunan? Kok ngeyel terus 
menuduh seolah saya bilang gen Bapak diturunkan ke anak? Saya belum 
separah Anda kok korsleting logikanya. 
>    
>   3) Saya kasih tau lagi yang supaya Anda jadi rada pinter dikit: 
Saya tak bicara soal evolusi NILAI moral. Saya bicara soal moral 
SENSE, yaitu kemampuan/potens manusia yang dihasilkan oleh evolusi 
untuk mengenal moral (bedanya dengan hewan). Bukan soal apa kata 
budaya A tentang perilaku B. Lha kok Anda ini maksa saya untuk 
mengakui suatu kebodohan yang Anda buat sendiri? Sori ya, tak sudi. 
Rupanya Anda sudah menthok cuma sampai sini ya, udah nggak bisa maju 
lagi mikirnya?
>    
>   4) "Alam" itu opo bukan "lingkungan", Boss? Yang namanya 
lingkungan itu ya mencakupi lingkungan sosial maupun lingkungan alam. 
Makanya jangan suka berbelit-belit dan menjejal-jejalkan fantasi yang 
ada di otak Anda ke dalam mulut saya. Yang mikir dengan cara aneh-
aneh situ, tapi lalu saya yang dibilang sebagai pembuat pernyataan. 
Nggak malu ya ama miliser FPK lainnya?
>    
>   5) Sekarang, saya kutipkan langsung paragraf buatan Anda, yang 
jelas-jelas memperlihatkan betapa tak koherennya jalan pikiran Anda, 
dan betapa muter-muternya debat kusir Anda ini. Ini paragraf Anda 
(letaknya persis di atas point 3 Anda di bawah ini): "Saya baru 
terima kalo Anda bilang nilai moral itu sebagai hasil evolusi 
(biologis) kalo premis Anda adalah: manusia jujur punah, sehingga 
hanya manusia yang dari sononya tukang tipu yang berketurunan. Ngerti 
tidak Anda sekarang bedanya evolusi secara biologis dan evolusi 
secara budaya? Hasil interaksi dengan lingkungan itu TIDAK 
DITURUNKAN. Maka saya bawa-bawa Lamarck karena Anda sepertinya 
percaya bahwa pengaruh lingkungan terhadap individu itu hereditary 
alias bisa diturunkan ke anak cucu. Pandangan seperti itu yang 
ketinggalan 200 tahun."
>    
>   Ini semua hasil impian dan bualan Anda sendiri yang Anda coba 
jejalkan ke mulut saya. Yang diturunkan itu GEN. Susah banget sih 
ngertinya? Dan gen itu CUMA pembawa potensi. Apakah potensi itu 
terwujud atau enggak, itu tergantung interaksi dengan lingkungan. 
Jadi, bukan interaksi dengan lingkungannya yang diturunkan. Jangan 
kebanyakan ngeboat ah! Sakau kok nggak abis-abis. jadi, koreksi, Bung 
Ngelindur: Saya tak pernah bilang bahwa pengaruh lingkungan terhadap 
individu bisa diturunkan ke anak cucu. Ini fiksi ciptaan Anda. Saya 
jangan dibawa-bawa.
>    
>   6) Oh, jadi menurut kita suci Anda, kalau manusia tidak ikut 
ajaran moral kitab suci itu, maka dia diturunkan lagi ke bumi jadi 
kodok bangkong, ya? Pantes contohnya selalu pakai hewan padahal 
subjek pembicaraan adalah manusia. Ngomong-ngomong, kitab suci apaan 
sih itu kok antik betul? Baru dengar sekarang saya. He he he. Bikin 
agama baru ya, Mas?
>    
>   Saya juga gak peduli omongan Sartre, Bung. So what gitu lho kalo 
Sartre yang ngomong? Tapi, demi menuruti kengawuran Anda sedikit, 
coba jelaskan relevansi pernyataan Sartre ini apa sih? Atau paling 
enggak, artinya dalam bahasa Indonesia apa sih? Soalnya, saya sudah 
kenal banget dengan pola Anda yang hobi kutip tapi ternyata nggak 
ngerti arti kutipan itu. Jangan-jangan, asal nemu di Google aja lalu 
di copy paste. Buat keren-kerenan, maksudnya.
>    
>   7) Prozac-nya udah saya minum, Pak. Ada yang lebih keras lagi, 
enggak? Kan Anda dealer-nya. Ada enggak yang bisa bkin teler total 
seperti Anda hingga pikiran lumpuh? Mungkin saya mesti minum yang 
jenis itu bar bisa ngikutin lanturan Anda yang tak berujung pangkal 
ini.
>    
>   8) Contoh saya tak salah, Pak. Itu sekadar contoh konsekuensi 
langsung dari pernyataan Anda bahwa jika seorang bermoral dipindahkan 
ke tempat lain, maka moralnya langsung bubar. Jadi, kalo contoh itu 
dinilai salah. Berarti sumber kesalahan terletak pada premis dasar 
yang dibuat oleh Anda. Ngeliat kan sekarang? He he he. Ayo, ngeboat 
lagi yang banyak, biar makin seru.
>    
>   manneke
> 


Kirim email ke