Mbak Wenny, 

terima kasih atas apresiasi Mbak. Senang rasanya mengetahui, bahwa ada
seseorang seperti Mbak Wenny yang juga memiliki pandangan yang 
mengarah ke depan. 
Benar Mbak, bahwa sebetulnya kita sudah cukup "diajari" oleh berbagai
peristiwa yang menjadi sejarah bangsa kita. Berbagai peristiwa itu
cukup memberikan dasar pijakan akan apa yang harus kita buat saat ini,
agar masa depan kita dan anak cucu kita bisa lebih baik, atau minimal
bencana yang hari ini terjadi bisa dikurangi di masa depan.
Saya rasa di indonesia ini cukup banyak orang mengetahui adanya
kata-kata bijak yang mengatakan, "Pengalaman adalah guru yang terbaik." 
Sejarah sebetulnya tidak lain dari catatn pengalaman di masa lalu.
Sejarah mestinya berguna sebagai pengetahuan belaka, melainkan lebih
sebagai pengingat (sesuatu yang mengingatkan kita) agar kesalahan
jangan diulangi, keagungan dilanjutkan dan kualitas hidup ditingkatkan.
Selain dari sejarah para leluhur, kita sendiri sudah cukup mengalami
berbagai hal, dan itu menjadi pengalaman buat kita. Dan dari
pengalaman itu kita bisa belajar sesuatu. 
Kita jauh lebih beruntung dari para leluhur kita. Karena berkat
pengalaman mereka kita jadi tahu, bagaimana semestinya kita menata
laku hidup dan tindakan kita agar kehidupan kita kini dan kehidupan
anak cucu kita kelak bisa lebih baik dari kemarin.
Kita perlu tahu sejarah bukan untuk kebanggaan bahwa kita adalah orang
yang tahu banyak, namun kita perlu tahu sejarah lebih untuk memiliki
pegangan dalam mengambil keputusan bagaimana kita akan menata
kehidupan kita kini-sini.
Salam
Mulyadi

--- In [email protected], "bentala2002"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Mas Stephanus or Mulyadi....
> Uraian Mas mengenai "holocust" ini adalah uraian yang "terindah"dan 
> paling mengena buat saya. Sementara yang lain sibuk melihat 
> kebelakang, uraian ini mampu melihat sisi yang lain untuk kedepannya.
> Buat saya pribadi bukan mengecilkan apa yang telah terjadi ke 
> belakang bukan sama sekali bukan...kita tidak akan pernah ada tanpa 
> sejarah, itu saya yakini betul. Hanya saja yang perlu kita ingat, 
> kita tidak akan pernah bisa merubah sejarah, baik itu kita percaya 
> atau tidak atas kejadian tersebut. Dan point yang paling penting, 
> seperti yang Mas sebutkan adalah sejarah itu sebuah cermin agar hal 
> yang buruk tidak akan terjadi lagi di masa yang akan datang, bagi 
> yang percaya. Bagi yang tidak percaya, semoga hal buruk tersebut 
> juga menjadi tolak ukur untuk bertindak kedepannya.
> Yang penting sekarang adalah, apa yang akan kita berikan kepada anak 
> cucu kita?? Apa yang masih bisa kita perbaiki minimal kita perkecil 
> kemungkinan terburuk yang akan diterima anak cucu kita....
> Tindakan apa yang sudah kita lakukan sekarang, baik itu terhadap 
> tanah, air dan udara yang selama ini kita terima dengan cuma-cuma, 
> yang seharusnya kita wariskan secara cuma-cuma pula kepada anak cucu 
> kita. Maaf kalau ada yang tidak berkenan.
> 
> --wenny--
> 
> 

Kirim email ke