Mas Motul, Kalau secara umum dari 28 juta sekian penonton itu mayoritas bekerja dari pagi sampai sore, terus sampai rumah sekitar jam 7 atau jam 8 malam seperti masyarakat urban Jabotabek, maka logis saja kalau mereka butuh hiburan yang ringan-lucu-tidak ruwet, seperti sinetron, infotainment dll. Masak sudah lelah physically and mentally masih disuguhi "Diskusi Ilmiah" atau "Perkembangan Flora & Fauna" ala National Geographic (misalnya), Mas Motul? Jangan-jangan baru 5 menit saja penontonnya sudah...kelenger atau ketiduran!
Idealnya nonton TV tidak perlu berjam-jam, sehingga timbul berbagai dampak sampingan seperti kegendutan (karena nonton TV sambil ngemil) atau gampangnya aja tagihan PLN melonjak. Sharing saja Mas Motul, saya membatasi diri nonton TV maksimal 2 jam per hari (kecuali hari libur). Itupun juga selektif, misalnya nonton berita 1/2 jam (CNN, BBC), 1/2 jam siaran bola (ESPN), sisanya hiburan. Kalau ada berita heboh/bencana Dalam Negri, ya sudah pasti saya beralih channel ke Metro TV. Salam. ----- Original Message ---- From: /\/\ o + u |_ z <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, March 21, 2007 11:05:19 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Acara film telivisi sangat membosankan Saya ingin mencoba realistis melihat karakter penonton (pemirsa) TV. Dalam hal ini saya gak ingin kita semua terjebak pandangan sempit atas jumlah pemirsa TV kabel versus TV terrestrial (TV lokal) Menurut data nationmaster, tahun 2003 penonton TV Indonesia itu berjumlah 13,750,000. Sementara tahun 2006, menurut Warta Ekonomi jumlah TV di Indonesia sudah mencapai 30.000.000 unit! Sangat fantastis! Dari 200.000.000 penduduk Indonesia, hanya 30.000.000 penonton TV, dari 30.000.000 itu ternyata pelanggan TV kabel HANYA 1.500.000 pelanggan!! Ini peningkatan yang baik mengingat pada tahun 2002 cuma 100.000 pelanggan, kemudian 2005 sebanyak 400.000 pelanggan. (Data dari Ade Armando - KPI di Warta Ekonomi) Bayangkan jika 1,5jt dilawan dengan 28,5jt penonton TV non-kabel. Walaupun pertumbuhan hingga 100% pun (3 - 4 juta) tetap saja masih tidak berbanding. Dari 28juta penonton TV tersebut, saya yakin sekitar 90% adalah penonton kelas C dan D. Yang mana selera programnya masih sekitar : sinertron, infotainment, religi-mistik, dan kriminal. AC Nielsen (lembaga resmi angka rating) jelas menghitung rating program TV berdasarkan penonton aktif TV nasional, ya.. TV terrestrial lah yang jadi samplingnya. Jadi, harapan kita semua ttg program TV nasional yang bermutu nampaknya masih jauh. Semoga saya tidak pesimis tapi inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Salah satu solusi yang mungkin bisa memberikan warna baru adalah dengan membuat TV program atas dana pemerintah yang ditayangkan di TV swasta (non-kabel). Jika dulu kita berfikir TVRI merupakan corong pemerintah, maka sudah saatnya pemerintah expand membuat production house yang cuma bikin program. Konsep ini sudah banyak contohnya, misalnya History Channel, PBS, Discovery Channel, National Geographic dlsb. Ya mereka memang bukan program TV pemerintah akan tetapi milik yayasan yang konsepnya membuat program tanpa perlu membuat station pemancar. Program bermutu yang banyak dibuat untuk ditayangkan di TV manapun. Salam Nonton TV Motulz
