Jadi pengin ikutan nih.

Judul beritanya memang bikin gemes: "bagi-bagi laptop". Duh. uenaknya .....

Maka, wajar saja kalo muncul aneka pertanyaan:
1. SIAPA yang bikin rancangan dan keputusan pembelian dan pembagian ini?
2. Apa sudah ada penelitian tentang kinerja dan programasi DPR yang membuat
pembelian dan pembagian ini memang PERLU?
3. Adakah target yang konkret?
4. Bagaimana 'status barang ini'? Diberikan cuma2 (hadiah?) atau untuk
kerja? Bagaimana mau dipantau bahwa memang untuk kerja?
5. Bagaimana dengan sarana-sarana pendukung lainnya? printer, pda, koneksi
internet, .... apakah disuruh cari sendiri? (jangan-jangan malah jadinya ada
yang merasa 'diperas' karena terpaksa merogoh kocek buat sarana2 itu....
hehehehe....)
6. Kalau ada kerusakan atau kesulitan dengannya, bagaimana diatasi? Kan
kalau sungguh untuk kerja, pas macet ato mogok, kerja juga jadi susah. Apa
akan ada biaya perawatan atau malah penggantian laptopnya?
7. dll .....

Semoga ada yg dapat membantu menemukan jawabannya ....

On 22 Mar 2007 07:52:48 -0700, Bambang Soetedjo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>   Laptop di Eropa mah tergantung pemakai. Memang sih yang termahal bisa
> sampai kalau di rupiahkan bisa 20 jutaan, tapi yang sedeng2 aja sih nggak
> sampai 10 juta juga ada dan bisa bayar cicilan lagi. Ah malu dong kalau
> anggota DPR dapat bagian kok bukan beli sendiri.
> Taukah anda? kalau beli sendiri lebih puas makainya dan bisa kita pamerkan
> kepada kawans bahwa Laptopnya beli sendiri walaupun dengan cicilan, tapi
> puaaaaas puaaaaas pakainya.
>
> Salam
> BS
>

Kirim email ke