At 10:24 PM 3/31/2007, you wrote: >--- In ><mailto:Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>[email protected], >Haniwar Syarif ><[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Soal larangan/anjuran Mas Luky dan bbrp rekan lain agar diskusi >jangan > > mengaitkan agama, telah juga di tanggapi oleh Mas Amrie dan bbrp >teman > > termasuk saya, bhw hal itu tak mungkin. > >L: Benar sekali kita tak mungkin bisa menghindari diskusi menyangkut >agama, hal ini sudah pernah saya tulis (lamaa sekali, ketika pak >Sartono Mukadis menyatakan ingin mundur dari FPK). > >Pengkaitan agama yang saya maksud dan yang sangat saya kritik adalah >dalam hal menjadikan ajaran agama SEBAGAI DASAR PEMBENARAN TINDAKAN- >TINDAKAN (pengatas-namaan agama untuk tindakan tersebut) atau >sebagai pembenaran PANDANGAN-PANDANGAN NEGATIF (mis. pandangan >rasis, diskriminasi, dsb).
Seorang muslim akan berusaha terus beritjtihad.., menggali kebenaran Islam sejati.. kalau ada pemahaman yang salah , ya diperbaiki pemahamannya. tapi itu tidak berarti bhw apa yang belum dipahaminya sebagai salah..., bisa saja belum disadari hikmahnya ... bisa saja belum datang hidayah dari Nya...sehingga belum paham.. Kita tidak sehebat itu.. sehingga bisa mengerti semua makna yang tertulis di kitab Suci.. Kita bukan apa apa... .. Bgeitulah pastor hidup selibat, begitulah Islam muslim tidak makan babi, sedang Kristen memakannya, walau dalam Taurat kalau nggak salah larangan makan babi itu juga ada, Dalam Islam , sejatinya tidak akan ada hal negatip yang diperintahkan agama..., tidak mungkin ada perintah yang bisa digolongkan rasis atau diskriminasi dalam pengertian buruk ( harus disatukan dulu def. rasis dan diskriminatip , kalau mau bahas hal ini., karena prinsipnya orang hanya di bedakan menurut derajat ketakwaannya) Titik pandang ini akan dianut dan dipercaya oleh agama manapun..., masa sih Allah... atau apapyn sebutan untuk Tuhan bisa salah...? No Way... Jika permasalahannya adalah toleransi.... .. saya yakin ... tanpa urusan agamapun ... bisa bentur... ada yang karena suku.. ada yang karena ras.. Saya sendiri yakin... sebagian besar yang ada di FPK,, manusia penuh toleransi.. dan saya harap toleransi dan pengertian anda... kalau ada diantara kami yang berpendapat menyatunya agama dalam hidup kami sbg keniscayaan.. Dan setahu saya dalam batas tertentu di Amrik pun ada aturan yang mengatur soal agama, misalnya nggak gampang juga tuh mendirikan mesjid disana.. , artinya .. nggak bisa dibangun di sembarang tempat...Semboyan crusade pun diteriakkan Bush,,, Soal toleransi itu aslinya justru bisa ditingkatkan dengan membicarakan dengan baik dr sisi agama, bukan sebaliknya... orang yang mengerti Islam dengan benar pastilah dia akan sangat toleran..., begitu keyakinan saya dan sebagian besar teman teman muslim saya Jangan dibalik... dengan terus menghindari bicara agama.. yang akan membuat kita menyempitkan wawasan kita disatu pihak,, dan punya pra anggapan buruk thd agama dilain pihak .. kira2 Islam itu pasti pemarah dan intoleran... Ingat pembakaran mesjid di Kupang yang konon melibatkan Theo Syafei dulu ??? ..ternyata semua bisa jadi intoleran... Dan mohon jangan ingatkan lagi pd saya , soal mulai dri diri sendiri.., krn sy bosan.. dan kalau semua bisa terjadi dgn mulai dr diri sendiri.. buat apa... ada moderator.. buat apa ada polisi... dstnya... nyatanya kita ada dalam tahap... bhw perbaikan diri sendiri mungkin bagus buat kita.. tapi ada orang lain yg perlu moderator, polisi.. bahkan Presiden yg baik... ekstrimnya jika mrk pikir mrk ( moderator,polisi,pendidik, ulama) dll) nggak perlu kerja.. krn semua orang sudah patuh memperbaiki diri sendiri... maka kita perlu pensiunkan mrk itu.. Saya sadar bhw ada yg tampaknya toleransinya kurang seperti beberapa ormas yg menggunakan nama Islam, tetapi sy percaya ini terjadi antara lain spt kata Mas Wal Suparmo.. ada yg memanfaatkan utk kepentingan politik... Dan itu tidak boleh menyebabkan kami dilarang bicara dgn landasan agama.. bahkan juga tidak boleh melarang Papernas bicara... sekalipun... mrk punya pikiran aliran kiri.. Sekali lagi.. semua ajaran yg berasal dr Tuhan... pasti benar adanya... walau kita bisa beda bahkan salah mentafsirkannya, tetapi tentu benar bhw kita tidak bisa merasa menjadi diri sendiri bertindak sebagai hakim atas nama Tuhan.., sebab begitulah sejatinya ajaran agama Islam sekalipun.. Tentu bertindak atas nama Tuhan pun harus di definisikan dgn baik.. saya yakin Pastor yg menyelenggarakan sakramen Pengakuan dosa, tidak mau disalahkan bhw dia mengambil wewenang Tuhan..., walau sesungguhnya banyak pihak percaya hanya Tuhan yang punya wewenang mengampuni..dosa.. itu.. Ada satu prinsip yang saya anut dalam berdiskusi di milis... yaitu kita berargumen, tanpa berharap mendapat persamaan pendapat... , tapi hanya untuk menguji argumen argumen kita..., kalau ada argumen lawan bicara lebih baik.. ya saya ganti argumen lama saya, dan saya harap jika ada yg menemukan kebenaran dalam argumen saya.. ya mrk pakailah argumen itu. Kalau tidak biar maisng masing membawa argumen maisng sebagai kebenaran yang akan di pertanggungjawabkan sendiri sendiri tanpa menjadi tidak toleran.., atau nggak cocok dgn pendpaat mayoritas di sebuah milis.. ya tinggalkan milis itu.. Nggak repot kok., kalau misalnya ada larangan dr moderator utk membawa pandangan hidup saya di dalam milis ini, sy pasti akan keluar.. tetapi sy yakin Mas Agus jauh lebih bijaksana..dan tidak akan mengambil sikap sia sia spt itu.. Saya percaya bbrp contoh yang saya ambil dr khazanah Kristen atau katolik.. tidak membawa pertenatngan disini.. krn sy justru ingin lebih menciptakan toleransi, yang salah tentu kebodohan pemahaman saya. dan mohon dimaafkan.. dan mohon diluruskan Salam Haniwar Salam Haniwar >Jika pengkaitan (ajaran) agama sebagai dasar pembenaran semacam ini >dibiarkan saja, kelak (bahkan saya kira sudah terjadi) ada orang >yang mengatas-namakan (ajaran) agama untuk membenarkan tindakan >pengrusakan, bahkan mengatas-namakan (ajaran) agama untuk pembenaran >tindakan membunuh, dst. > > > Agama itu kan juga pandangan hidup, setidaknya begitulah Islam. > >L: Cara pandang seperti inilah yang saya sebut berpotensi memicu >konflik sektarian. Mengapa? Seandainya (hanya pengandaian) terdapat >pandangan serupa dengan anda, misalnya (sebagai contoh dari saya) >pandangan satu agama lain "bahwa karena memakan daging sapi adalah >larangan atau berdosa dan merupakan pandangan hidup agama", maka >bisa terjadi seorang pemimpin agama tersebut memiliki tafsiran bahwa >penjualan daging sapi di publik harus dilarang sehingga pemimpin >agama tsb akan membenarkan tindakan-tindakan perampasan daging sapi >secara paksa di pasar2. > >Jelas contoh anda dan contoh saya ini adalah dua contoh PENAFSIRAN >SEPIHAK (= penafsiran oleh satu ajaran agama) yang berpotensi memicu >konflik sektarian sebab penafsiran ini mungkin tidak dimiliki, >bahkan mungkin BERLAWANAN, dengan penafsiran ajaran agama lain atau >berlawanan dengan penafsiran orang lain, walaupun orang lain ini >masih seumat/ seagama. > > > Bahkan bisa juga ber samina wa athona.. aku dengar dan aku taat.. >suatu > > filosofi yg juga dikenal dalam agama Kristen.. > >L: Mungkin anda benar, bahkan mungkin 99% orang Indonesia menganut >filosofi semacam yang anda tulis, tetapi saya percaya bahwa di >antara 99% orang yang percaya filosofi ini, cuma 1% saja yang akan >memaksakan atau menerapkan filosofi ini sebagai pembenaran tindakan- >tindakannya ke orang lain atas nama keyakinannya. > > > Kalo soal jangan sampai ada konflik sektarian.itu kita semua >setuju... .. > > caranya , yang pertama ya santai aja berdiskusi.danbetrbeda >pendapat... > > yang kedua .. kalau jd panas juga ( namanya manusia) ya di potong >aja sama > > moderator... gampang kan... dan kita bicara lagi hal lain... > >L: Menghindari potensi konflik sektarian itu idealnya merupakan >usaha bersama masyarakat dan prilaku toleransi terhadap perbedaan >pendapat/ keyakinan idealnya dimiliki oleh setiap orang, bukan hanya >dimiliki oleh segelintir orang (para moderator dan para nabi saja :- >)). > >Hanya pola pikir pengkultusan-individu dan mental hamba sahaya lah >yang terlalu menggantungkan diri pada peran pimpinan (mis. >menggantungkan diri pada peran moderator dan para nabi) untuk >mengatur prilaku diri sendiri (sebab jika tak diatur oleh para >pemimpin yang dikultus-individukan, mereka tak mampu mengatur diri >sendiri) > > > Saya bukan penganut sekularisme yg harus memisahkan segala galanya >dari > > agama.. , tapi sy sekularis juga dalam pengertian pokoknya tidak >merasa ada > > agama yang boleh mendapat keistimewaan dr pemerintahnya.. jad sama >sajalah > > jaraknya pemerintah dgn semua agama, > >L: Masalah negara dengan masalah agama bukan berjarak sama, tetapi >SALING BEBAS/ INDEPENDEN satu sama lain, mis. perkembangan (atau >kemunduran) agama bebas dari dan tak terkait dengan campur tangan >pemerintah. Di negara2 sekuler, pemerintah bersikap TIDAK MEMBANTU >dan juga TIDAK MENGHALANGI siar/ perkembangan agama2 sebab jika >bersikap lain, pemerintah tsb melanggar hukum (bahkan biasanya >dianggap melanggar konstitusi). > > > sementara kita sbg penganut agama tertentu .. boleh boleh aja >nggak mau > > poligami dilarang... > > Begitupun boleh kalau ada yg mau mensyahkan perkawinan sejenis.dan >ad > > apihak yg nggak setuju krn keyakinan agamanya . , ... kalau di >ranah > > negara.. biarlah perjuangkan aturan itu secara konstitutional.. > >L: kalimat anda harus lengkap "dilarang (OLEH SIAPA/APA?)". > >Saya sudah berkali-kali menulis bahwa: > >1.Negara BERHAK melarang poligami yang berdasarkan hukum negara >2.Negara TIDAK BERHAK melarang poligami berdasarkan hukum >agama. > >Lengkapi dulu kalimat anda, barulah saya bisa berkomentar. > >Untuk perkawinan sejenis, sebelum berkomentar saya ingin bertanya: >"Apakah suatu perkawinan merupakan ikatan hukum negara atau ikatan >hukum agama?" >Jika kedua macam perkawinan sebagai ikatan hukum negara dan sebagai >ikatan agama sudah bisa dibedakan dengan JELAS, barulah saya bisa >memberi jawaban/pendapat yang JELAS. > >Jika aspek hukum negara dan aspek agama dalam suatu perkawinan masih >campur aduk dan tak jelas (seperti halnya tak jelasnya peran KUA >sebagai lembaga negara atau sebagai lembaga keagamaan), maka >jawaban2 terhadap polemik2 berbagai kasus perkawinan tetap tak >pernah jelas dan selalu mencampur adukkan kedua aspek tersebut. > > > Dalam kasus perkawinan sejenis... kalo nggal salah cerita ttg >sodom gomorah > > itu kata kitab suci Islam dan Kristen.. memang hukuman Tuhan >akibat > > perilaku sex sejenis ya.. CMIIW.. > >L: Banyak umat beragama berpendapat seperti anda bahwa lesbian dan >gay adalah pendosa, tetapi saya yakin hanya sedikit umat yang ingin >mewakili Tuhan untuk ikut2-an mengutuk dan menghakimi orang2 yang >DIANGGAP BERSALAH sebagai lesbian atau gay atau . > >Saya yakin asas praduga tak bersalah bersifat universal sebab jika >tak berlaku universal, maka pasti ada yang memberlakukan asas >sebaliknya (praduga bersalah) dengan memvonis bersalah lesbian, gay, >dsb, sebelum para tersangka lesbian, gay, dsb, mengikuti pengadilan >Tuhan (Tuhan bagi siapa pun) kelak. > >IMO mereka2 yang dg jagonya sudah lebih dulu memvonis bersalah para >tersangka lesbian, gay, dsb, adalah mereka2 yang berprilaku sebagai >wakil Tuhan (kalau tak bisa dibilang berprilaku sebagai Tuhan >sendiri). > >Salam
