Pada kerusuhan Mei 1998, saya sekeluarga dan juga sekelompok kecil 
keluarga keturunan Tionghoa selamat dari gangguan, penjarahan maupun 
hal hal lain yang menakutkan .

Saya  selalu ingat, saat itu bersama sama tetangga saya yang memang 
berasal dari berbagai daerah di Indonesia, beramai ramai
menjaga tempat tinggal kami. Saat puncak kerusuhan, kami beramai-ramai 
juga merasa takut dan cemas apalagi didaerah kami di Bekasi Selatan 
sempat terjadi penjarahan dan pembakaran terhadap Agung Shop ( sekarang 
Superindo) serta ruko ruko di kali malang.

Kebersamaan saat itu yang membuat kami selalu berhubungan baik sampai 
sekarang.

Saya berharap masalah benar tidaknya soal perkosaan masal tidak menjadi 
polemik yang pada akhirnya dapat memecah belah  hubungan
baik serta solidaritas yang sudah pernah dan masih berjalan dengan baik 
antara kelompok di Indonesia.

Saya  lebih merasa kalau tulisan tersebut bersifat provokasi untuk 
menimbulkan rasa benci kepada kelompok Tionghoa .
Ulah memalsukan cerita untuk keuntungan bisnis imigran, tidaklah 
berbeda dengan ulah penggelapan dana BLBI .
Dilakukan segelintir orang Tionghoa yang hanya perduli dirinya sendiri, 
yang berakibat fatal untuk yang lain yang tetap/memang tinggal di
Indonesia.

Mudah-mudahan informasi ini dapat ditanggapi dengan kepala dingin dan 
tetap dengan solidaritas persatuan untuk semua

Terima kasih

Gregorius Suharsono

Kirim email ke