Thanks, Rahadian. Saya tak bisa tidak jadi mikir negatif. Beberapa waktu lalu,
holcaust mau disangkali. Kini, tragedi Mei 1998 juga diupayakan mau disangkali.
Sebentar lagi, pembantaian setengah juta orang lebih oleh Orde Baru pasca-1965
pun akan bernasib sama.
Tampaknya, ada orang-orang yang seumur hidupnya demen menyibukkan diri untuk
menyangkali berbagai kejahatan kemanusiaan. Shame on them!
manneke
rahadian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ketika saya melihat posting tersebut, dugaan saya pasti akan banyak
tanggapan. Ternyata betul. Saya juga menduga bahwa Manneke akan berteriak
menanggapi persoalan ini dan memang ia bersuara seperti yang saya harapkan.
Isu ini sudah pernah diangkat di milis lain dan diskusi
terjadi selama dua bulan lebih. Saya, Manneke serta seorang kawan lainnya
meladeni orang-orang yang menyanggah bahwa perkosaan massal itu pernah
terjadi.
5 poin yang diangkat Manneke sudah bisa dikatakan sebagai respon yang cukup
memadai atas persoalan ini.
Sebagai tambahan, Tim Relawan untuk Kemanusiaan yang dianggap paling getol
memperjuangkan persoalan ini pernah memberikan tanggapan atas isu tentang
Vivian. Kalau tak salah, Tim Relawan melakukan klarifikasi atas kasus Vivian
dalam bulletin gratisnya, Pos Relawan.
Satu hal yang paling sering diangkat dalam kasus perkosaan (dan juga kasus
kekerasan lainnya) adalah jumlah korban. Ini mungkin dianggap oleh mereka
(termasuk juga pemerintah dan terutama pelaku kekerasan) adalah titik
terlemah yang bisa dijadikan alasan untuk melakukan kejahatan selanjutnya:
penyangkalan. Bagi saya silahkan saja semua mempertanyakan jumlah pasti
korban dan mengambil kesimpulan bahwa dengan tidak dapat dipastikannya
jumlah korban berarti peristiwa kekerasan patut disangsikan. Namun saya
menantang untuk mengambil satu contoh atrocity yang berskala massive, dan
sistematis namun memiliki jumlah korban yang pasti. Dalam diskusi terakhir
tentang holocaust, paparan saya tidak ditanggapi lagi oleh mereka yang
berkutat pada pertanyaan apakah memang benar 6 juta atau 1 juta Yahudi
terbunuh. Entah apakah karena tidak mampu memberikan contoh peristiwa
kekerasan yang memiliki jumlah korban yang akurat atau menyadari kesalahan
cara pandangnya.
Mengenai data, para miliser tentunya mudah mengakses internet melihat begitu
seringnya posting. Silahkan saja cari di google atau bahkan masuk ke dalam
milis untuk cari berita-berita lama. Saya sudah pernah memuntahkan data-data
di mediacare ketika isu perkosaan massal muncul. Nampaknya ini yang tidak
dilakukan oleh si penulis berita tersebut. Ia begitu saja menelan satu
berita tanpa melakukan uji-silang dan dosa terbesarnya adalah mengabaikan
fakta lain (berita koran, press rilis LSM pendamping, kejelian menempatkan
konteks, laporan TGPF, laporan LSM pendamping dan sebagainya). Abu Zahra
menggunakan fakta sejarah untuk memberikan kesan intelektual pada
tulisannya. Sayang, dengan menyisipkan Goebels tidak berarti ia tengah
menulis sesuatu yang berkualitas secara intelektual. Luasnya jangkauan
penelitian yang memberikan bobot bukan kutipan. Apa yang ia lakukan persis
sama seperti yang pernah dilakukan oleh David Irving yang secara selektif
menggunakan bukti-bukti sejarah, dengan mengabaikan bukti lainnya, untuk
membangun argumentasinya.
Jika memang niat utamanya adalah hendak membuat laporan investigasi,
tentunya semua sumber dikejar, termasuk juga sumber-sumber yang mengatakan
bahwa terjadi perkosaan. Apa layak disebut sebuah laporan jurnalistik jika
bahan-bahan yang diambil cuma untuk mendukung sebuah kesimpulan yang sudah
jadi: perkosaan etnis Cina adalah bualan belaka.
Rahadian