Dengan di tetapkannya tersangka baru dan Polycarpus dalam kasus Alm Munir,
terlalu mudah dan cepat mengatakan bahwa kasus Munir mulai terungkap dengan
jelas dan gamblang.
Sampai lebaran monyet pun kasus ini tidak akan terungkap menurut kejadian
sebenarnya, Masyarakat perlu kejelasan soal kasus ini, masyarakat perlu si
tersangka dan terdakwa lalu di huklum, maka dicari lah kambing hitan jadi
korban. Inilah yg akan yg terjadi.
Hanya REVOLUSI yg bisa menyelesaikan semua kasus anomali politik di republik
ini.
Sayangnya saya dan mungkin rekans adalah ternasuk anti revolusi, karena
mungkin sudah hidup mapan dan punya pekerjaan.
Jadi kalau belum ada revolusi percuma berbicara di republik ini soal keadilan
hukum, pemerataan kesejahteraan, adil makmur, dll. Termasuk kasus Munir ini
secara adil.
Membawa kasus ini ke PBB, hanya akan menjadi alat pemerasan negara lain
kepada pemerintah Indonesia. Bargaining!
Ibarat seorang tersangka koruptor tawar menawar uang sogok dengan petugas
hukum. Pembayaran awal bisa di atur menjadi tahanan luar. Setelah babak sidang.
Bayar tinggi bisa hukumannya sedikit malah bisa bebas samasekali.
tabik
Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mungkin saja Poly executor...mungkin saja. Namun adakah motif Poly
untuk mebunuh Munir ? Apalagi dengan perencanaan yang vegitu rumit, rapi dan
matang. Motif...sekali lagi motif, ini yang paling dilupakan dari seluruh
pembuktian kasus Munir. Begitu juga dengan pramugari dan crew pesawat yang
lain. Selama ini tidak pernah berinteraksi, tidak ada dendam atau motif apapun
sehingga jelas mereka tidak punya kepentingan secuilpun dengan wafatnya Munir.
Jadi, KALAUPUN Poly adalah sang Executor, mustahil dia sekaligus otak
perencana. Soalnya sebenarnya simpel, beranikah SBY membongkar seluruh
......ehm ehm...keanehan ini ?
Kita disuruh percaya yang beginian ? Kita disuruh mencatat berbagai kepalsuan
ini sebagai sejarah bangsa dan tanah air kita ? Bung karno mengatakan Jangan
melupakan Sejarah. Para pemimpin saat ini menyuruh kita. Mari Memalsukan
Sejarah dan Belajar dari Kepalsuan itu.
Irry