----------------------------------------------------------
"Para feminis" itu tidak monolitik, Bu Cornelia. Gerakan feminisme sangat
kaya dan majemuk, dan tak semua aktivis feminis sepaham dalam segala hal.
Masing-masing punya prioritas sendiri: ada yang concern pada trafficking, ada
yang berfokus pada pornografi, ada yang komitmennya ditujukan pada hak
perempuan pekerja, ada yang khusus mengabdikan diri pada soal-soal perempuan
Dunia Ketiga, dan masih banyak lagi. Jadi, mengharapkan adanya "titik pijak"
yang sama pada semua aktivis perempuan bukan hanya mustahil, tapi juga
mendangkalkan kemajemukan gerakan mereka.
-CI-
ooo..begitu ya, maksudnya mereka bergerak di pluralistik kah...sori nih..saya
kan ndak mudeng gerakan awal feminis..jadi sebenarnya bukan hanya kesetaraan
dong kalo begitu? (sori nih jadi nanya lagi..). Maksudku tuh Pak Manneke kenapa
pertanyaanku stereotip jender berdasarkan apa..lha emang ternyata banyak kan
�area� nya dan kemungkinan dari sudut pandang stereotip yang berbeda juga
kan, yang waktu itu saya sebutkan tipologi, dimensi, trait, atau yang lain.
Mengenai monolitik..apakah iya para feminis bebas dari itu...mereka kan juga
hidup dalam masyarakat yang monolitik--kalo tidak bagaimana mereka khususnya
yang sudah berkeluarga dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan pada
keturunannya? Bukankah anak pertama kali belajar mengenal apa itu aturan, norma
semenjak dia menyusu pada ibunya yang notabene adalah anggota keluarganya
sendiri. Masyarakat monolitik �tidak jelek� dan di ngendonesia ini masih
banyak masyarakat yang bersifat monolitik. Contoh positif yang berhasil
mengadaptasi pluralitas tapi tetap dengan kekhasan mereka sendiri ya Jepang,
meski menjadi negara maju masyarakatnya masih kuat tradisi dan
monolitiknya..tapi ternyata tidak menghalangi kemajuan dan kemandirian para
perempuan disana.
------------------------------------------------------------------------
Namun, saya kira semua yang mengaku feminis sepakat bahwa saat ini masih
banyak perempuan yang mengalami peminggiran, dan bahwa perempuan masih perlu
untuk terus diberdayakan agar tidak tergantung pada laki-laki. Karena,
ketergantungan dan peminggiran inilah akar dari ketidaksetaraan antara
perempuan dan laki-laki.
-CI-
ok...kesepakatan itu darimana Pak?? Dari asumsi, hasil penelitian atau apa?
Jangan-jangan itu hanya asumsi saja dengan kaca mata sepihak..padahal mereka
para wanita yang dianggap terpinggirkan itu tidak merasakan hal yang
sama..sering lho kejadian seperti itu. Waktu tim kami datang ke Pulau 1000
untuk studi awal/eksplorasi, dalam pikiran kami mereka adalah penduduk miskin,
nelayan tangkap dst...tapi salah besar karena ternyata miskin itu konsep yang
kami bawa dan itu konsep orang kota...bukan mereka. Artinya meteran yang
dipakai tidak tepat..wong nimbang beras kok pakai timbangan emas...ya ndak
cocok tho..Mungkin secara keseluruhan memang bener bahwa mereka itu miskin
dengan indikator sosial yang ditetapkan oleh internasional...tapi pengertian
miskin di mereka itu berbeda..
Begitu juga dengan kata �peminggiran� apakah ada kesamaan pemahaman
antara yang dibilang terpinggirkan dengan yang mengatakan itu.
Mengenai ketergantungan..ok. saya setuju bahwa perempuan itu mesti mandiri.,
sehingga mempunyai percaya diri yang cukup dan itu menyehatkan jiwanya, yang
akhirnya menyehatkan keluarganya juga, meski gaji lebih kecil dari suami...tapi
semua tergantung komitmen dan BUKAN hanya kemandirian dalam arti Ekonomi saja
kan..
----------------------------------------------------------------
Masih kerap bukan kita dengar komentar-komentar miring tentang perempuan
dalam berbagai bidang? Buktinya, lihat saja posting-posting di milis ini.
Rata-rata, pengirim posting-nya ngaku nggak bias gender, tapi dalam setiap
posting mereka kita bisa melihat konsistensi pola pandang yang negatif terhadap
perempuan. Jika Anda gagal melihat ini semua, itu karena Anda tidak memakai
perspektif perempuan dalam memandang persoalan (meski Anda sendiri perempuan).
-CI-
Pak...kondisi ngindonesia tercinta ini tuh masih monolitik (dan ya memang
begitu tidak akan hilang tapi punya nuansa yang beda..) kecuali di kota-kota
besar metropolitan seperti Jakarta�lha para feminis dengan langkahnya yang
pluralistik...ya jelas tho gap nya terlalu lebar. Apakah mereka juga tidak
terkontaminasi monolitik?? Ibaratnya orang jalan..yang feminis jalan sudah
sampai titik P..nah yang non-feminis masih di titik B.....jaka sembung kan.
Sebagai wacana ok saja toh, buat saya pribadi mo negatif atau positif tentang
perempuan yang muncul di posting atau dimanapun ga masalah, kalo itu memang
realitas..(boro-boro bicara post realitas)..malah bisa buat maping dan akhirnya
bisa buat strategi intervensi untuk �memberdayakan� perempuan dan merubah
pola pikir masyarakat terutama laki-laki dan akhirnya pergeseran norma terjadi
dan monolitik akan punya makna baru dan lebih bisa melakukan adaptasi
perubahan..karena mau tidak mau pluralistik dah dateng...
----------------------------------------------------------
Tapi, ngomong-ngomong, karena Anda sudah bilang punya pemahaman sendiri
tentang feminisme, tolong dong dibagi ke kita-kita ini. Biar bisa dilihat
sumbangan apa yang dapat diberikan oleh pemahaman Anda itu pada kemajuan
gerakan perempuan.
-CI-
Menurut saya sih (sambil nyengir)..kalau kurang tepat jangan dimarahi ya...
Semua kembali pada pemposisian laki-laki dan perempuan itu sendiri sebagai
MANUSIA.
Kalau kita amati hukum-hukum alam, misalnya gaya gravitasi yang menarik
segala sesuatu kebawah, begitu konsisten, teratur, dan dapat di prediksi
sebab-akibatnya. Dengan pemahaman terhadap hukum-hukum alam tersebut kita dapat
memnafatkannya untuk kehidupan sehari-hari. Hukum gravitasi dan aerodinamika
dapat digunakan untuk merancang pesawat terbang, yang sebenarnya adalah
�wahana� yang bisa digunakan untuk melawan hukum alam tersebut. Jadi dengan
yang diperoleh adalah �kemenangan� dengan memahami seluk beluk terhadap
hukum alam tersebut.
Kehidupan sosial begitu juga..mengandung serangkaian keteraturan meski tidak
memiliki kekuatan �memaksa� kan yang setara dengan hukum alam tersebut
seperti gravitasi misalnya. Meski kekuatan hukum atau tradisi memaksa kita
untuk mematuhinya (atau melanggarnya). Selain itu tidak berbeda dengan dunia
fisik..kehidupan sosial memerlukan serangkaian aturan-aturan yang menjadi
harapan bersama untuk berlangsungnya kehidupan dengan "baik", meski begitu
sangat dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan di kelompoknya...termasuk harapan
bersama atas peran dan fungsi yang terbedakan misalkan salahsatunya berdasarkan
jenis kelamin..dan ini REALITAS yang DINAMIS bahwa laki-perempuan itu berbeda
dan mempunyai peran/fungsi yang berbeda juga, ada yang laki-laki tidak bisa
lakukan tapi perempuan bisa begitu juga sebaliknya...Misalnya dalam sebuah
keluarga--peran/fungsi sebagai bapak, ibu dan anak berbeda-beda�maka yang
bisa kita bicarakan adalah peran/fungsi masing-masing dalam frame bhinneka
tunggal ika satu keluarga. Permasalahan akan muncul misalnya ketika orang
bingung dengan perannya sendiri..misalnya seorang polisi yang harus �keras�
di jalanan dan ketika kembali ke rumah harus lembut, sabar terhadap anggota
keluarganya...dan ini potensi menimbulkan konflik dalam kehidupan pribadinya...
Jadi buat saya KESADARAN akan peran/fungsi masing-masing itu perlu dan sangat
diperlukan..
Masalah kemandirian..itu bukan problem milik perempuan doang...tapi juga
laki-laki�sama-sama sebagai manusia (dan tidak saja kemandirian dalam arti
ekonomi lho..) dan problem sebagaian besar dari orang ngendonesia tercinta ini
adalah ketergantungan alias ketidak mandirian�sumbernya adalah masalah
pengambilan keputusan...pangambilan keputusan dengan kesadaran yang perlu di
latihkan sejak anak-anak.
------------------------------------------------
Catatan tambahan untuk matrilineal di Minangkabau: power tetap ada di tangan
laki-laki. Ninik Mamak itu laki-laki lho, bukan perempuan.
-CI-
mengenai Minangkaubau..iye emang bener matrilineal bukan matriatki..ini aja
persepsinya bisa keliru kan..he..he..
manneke____ -CI-