Nah, perasaan saya rupanya tak meleset. Sebetulnya si Ibu ini sudah punya 
segudang pengetahuan, tapi mungkin memang masih 'sungkan' buat dibagi-bagi. 
Nunggu disentil dulu baru keluar semua (dtambah lagi yang dikirim japri ke saya 
karena tak muncul di FPK--sangat panjang dan rinci, tak mungkin saya rangkum di 
sini).
   
  Ini tanggapan saya atas point-point Bu Cornelia: 
   
  Point 1, soal mono vs plural: Nggak nyambung. Kalau ruang gerak feminisme 
melingkupi banyak aspek, ini tak berarti bahwa tak semuanya memperjuangkan 
kesetaraan. Simpulan Anda rada simplistis. Apakah soalnya di trafficking, atau 
KDRT, atau nasib buruh perempuan, atau poligami, titik tolaknya sama, yakni 
peminggiran perempuan. Problem ini menjelma dalam berbagai bentuk pada 
aspek-aspek kehidupan yang berbeda. Jika tak terjadi peminggiran, perempuan 
akan punya kekuatan tawar lebih besar dalam berhadapan dengan isu-isu tersebut.
   
  Point 2, tentang pengaruh monolitisme pada feminis: Tidak, feminis pun harus 
berjuang membebaskan diri dari wawasan monolitik. Itu sebabnya, maka Kajian 
Wanita adalah sebuah studi yang bersifat reflektif: peneliti/pengaji tidak 
diposisikan berada di luar masalah yang ia kaji. Ia tak hanya mengkritisi 
patriarki tetapi juga kritis terhadap manifestasi nilai-nilai patriarki dalam 
praktik-praktik feminis sendiri. Maka itu, dalam feminisme dikenal adanya 
feminisme gelombang pertama, kedua dan ketiga. Ini merefleksikan perubahan dan 
perkembangan konsep/wawasan/teori feminis dalam menyoroti dan memosisikan 
dirinya sendiri ketika mengaji perempuan.
   
  Tentang contoh masyaraat Jepang yang Anda nilai monolitik tapi berhasil 
mengadopsi pluralitas sembari mempertahankan kekhasan tradisinya: ya berarti 
nggak monolitik lagi dong, Mbak'e? Mereka udah jadi masyarakat plural (kalau 
sinyalemen Anda benar). Tapi apa iya? Pernah liat pronografi Jepang nggak, 
serta gimana perempuan diperlakukan di situ? Pernah dengar fenomena laki-laki 
Jepang yang nyaris tak pernah di rumah karena lebih suka nongkrong di karaoke 
(sambil ditemani perempuan penghibur), dan baru pulang dalam keadaan mabuk 
berat, lalu main tangan terhadap istri? Jadi, asumsi kemandirian perempuan di 
Jepang juga masih terbuka untuk perdebatan tampaknya, ya?
   
  Point 3, soal : Anda bertanya, kesepakatan  bahwa para feminis di berbagai 
penjuru dunia atas peminggiran perempuan dari mana asalnya? Tinggal baca saja 
berbagai literatur feminis, entah itu yang terbit di Barat, di kalangan 
masyarakat indigenous, di Timur Tengah, di Asia Timur, ataupun di Indonesia. 
Lagian, Bu Cornelia, jika ada perempuan mengaku aktivis feminis tapi berkata 
bahwa ia tak sepakat bahwa perempuan masih terpinggirkan, maka logikanya ia 
bukan feminis lagi dong? Ngapain jadi feminis atau aktivis feminis kalau raison 
d'etre bagi perjuangannya sendiri taklagi ia sepakati alias tak lagi ia anggap 
sebagai masalah feminisme atau perempuan? Yang ini terdengar lucu...hi hi hi.
   
  Point 4, soal ketergantungan dan kemandirian: Lha, memang yang bilang bahwa 
ketergantungannya/kemandiriannya cuma soal ekonomi juga siapa, Bu? persoalan 
perempuan memang tak mungkin bisa direduksi jadi persoalan ekonomi semata. Cuma 
butuh common sense yang biasa untuk mengerti hal ini.
   
  Point 5, bahwa Indonesia masih monolitik: Inipun tak akan saya perdebatkan. 
Dalam posting terdahulu, saya tak mempersoalkan apakah Indonesia masih 
monolitik atau ndak. Yang saya katakan, feminisme tidak monolitik (bukan 
Indonesia!). Lha kok beloknya ke Indonesia, saya jadi kaga ngerti. Gerakan 
feminis cuma di kota-kota besar? He he he. Coba Anda ikuti Jurnal Perempuan 
Srinthil yang diterbitkan Desantara. Dengar suara para peronggeng, penayub, dan 
para janda di desa-desa di Lombok sana. Namun, bahkan Jurnal Perempuan pun yang 
konon bercorak urban juga memberi ruang yang sangat luas bagi perempuan 
non-urban untuk bersuara: perempuan di wilayah konflik, misalnya. Feminisme 
gelombang ketiga justru didominasi oleh suara perempuan Dunia Ketiga: mereka 
yang dipaksa menjalani mutilasi, mereka yang pernah mengalami jadi korban 
trafficking, mereka yang jadi buruh berupah tak layak, dll. Makanya, pelajari 
dulu, baru menilai. 
   
  Point 6, soal peran dan fungsi: Sungguh lucu Anda ini. Peran perempuan yang 
kini dominan (domestik) itu Anda sebut realitas? Realitas ciptaan siapa? bahwa 
perempuan punya vagina, punya rahim, punya potensi menyusui, itu realitas. 
tapi, bahwa itu lalu dijadikan dasar membagi peran (domestik vs publik), ini 
yang konyol. Ini bukan realitas tapi konstruksi sosial. Dan inilah yang hendak 
dilawan oleh feminisme. Mengapa? Sebab konstruksi peran berbasis gender ini 
banyak merugikan perempuan dan selalu dijadikan justifikasi peminggiran 
perempuan ke wilayah domestik. Nah, kalo Anda sebagai perempuan hepi dengan 
itu, ya monggo. Go ahead, enjoy it. Tapi, para feminis adalah perempuan yang 
tidak hepi dengan situasi itu, berupaya membangun kesadaran tentang betapa tak 
menguntungkan posisi tsb bagi perempuan, dan meruntuhkan konstruksi gender yang 
berat sebelah itu. Mungkin di situ letak perbedaan mereka dengan Anda.
   
  Point 7, tentang perjuangan untuk kemanusiaan: Setuju! Dan ini tak 
bertentangan dengan cita-cita feminis. Tapi, nggak usah bicara soal kemanusiaan 
secara universal kalo di mana-mana makhluk manusia berkelamin perempuan masih 
dikungkung oleh norma-norma maskulin. Sama aja bo'ong. Jika kesetaraan yang 
diperjuangkan feminisme tercapai, maka perjuangan menyetarakan manusia di 
seluruh dunia sudah selangkah maki dekat dengan perwujudannya.
   
  Point 8, soal bahwa laki-laki juga da yang menalami ketidaksetaraan: Setuju 
juga. Inilah sebabnya mengapa feminisme gelombang ketiga juga menekankan 
perlunya aliansi strategis dan solidaritas dengan kelompok-kelompok 
terpinggirkan lainnya: bisa buruh, bisa tani, bisa nelayan, bisa anak-anak, 
bisa kaum kulit hitam dalam mayoritas kulit putih, bis aindigenous people, dll. 
Aliansi ini tak kenal gender, warna kulit, kelas sosial, atau wilayah 
geografis. Sekali lagi saya sarankan, baca dulu, pelajari, baru menilai (boleh 
sambil nyengir, boleh juga sambil serius).
   
  manneke

Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
----------------------------------------------------------
"Para feminis" itu tidak monolitik, Bu Cornelia. Gerakan feminisme sangat kaya 
dan majemuk, dan tak semua aktivis feminis sepaham dalam segala hal. 
Masing-masing punya prioritas sendiri: ada yang concern pada trafficking, ada 
yang berfokus pada pornografi, ada yang komitmennya ditujukan pada hak 
perempuan pekerja, ada yang khusus mengabdikan diri pada soal-soal perempuan 
Dunia Ketiga, dan masih banyak lagi. Jadi, mengharapkan adanya "titik pijak" 
yang sama pada semua aktivis perempuan bukan hanya mustahil, tapi juga 
mendangkalkan kemajemukan gerakan mereka.

-CI-
ooo..begitu ya, maksudnya mereka bergerak di pluralistik kah...sori nih..saya 
kan ndak mudeng gerakan awal feminis..jadi sebenarnya bukan hanya kesetaraan 
dong kalo begitu? (sori nih jadi nanya lagi..). Maksudku tuh Pak Manneke kenapa 
pertanyaanku stereotip jender berdasarkan apa..lha emang ternyata banyak kan 
�area� nya dan kemungkinan dari sudut pandang stereotip yang berbeda juga 
kan, yang waktu itu saya sebutkan tipologi, dimensi, trait, atau yang lain.

Mengenai monolitik..apakah iya para feminis bebas dari itu...mereka kan juga 
hidup dalam masyarakat yang monolitik--kalo tidak bagaimana mereka khususnya 
yang sudah berkeluarga dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan pada 
keturunannya? Bukankah anak pertama kali belajar mengenal apa itu aturan, norma 
semenjak dia menyusu pada ibunya yang notabene adalah anggota keluarganya 
sendiri. Masyarakat monolitik �tidak jelek� dan di ngendonesia ini masih 
banyak masyarakat yang bersifat monolitik. Contoh positif yang berhasil 
mengadaptasi pluralitas tapi tetap dengan kekhasan mereka sendiri ya Jepang, 
meski menjadi negara maju masyarakatnya masih kuat tradisi dan 
monolitiknya..tapi ternyata tidak menghalangi kemajuan dan kemandirian para 
perempuan disana.
---------------------------------------------------------- 
Namun, saya kira semua yang mengaku feminis sepakat bahwa saat ini masih banyak 
perempuan yang mengalami peminggiran, dan bahwa perempuan masih perlu untuk 
terus diberdayakan agar tidak tergantung pada laki-laki. Karena, ketergantungan 
dan peminggiran inilah akar dari ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki.

-CI-
ok...kesepakatan itu darimana Pak?? Dari asumsi, hasil penelitian atau apa? 
Jangan-jangan itu hanya asumsi saja dengan kaca mata sepihak..padahal mereka 
para wanita yang dianggap terpinggirkan itu tidak merasakan hal yang 
sama..sering lho kejadian seperti itu. Waktu tim kami datang ke Pulau 1000 
untuk studi awal/eksplorasi, dalam pikiran kami mereka adalah penduduk miskin, 
nelayan tangkap dst...tapi salah besar karena ternyata miskin itu konsep yang 
kami bawa dan itu konsep orang kota...bukan mereka. Artinya meteran yang 
dipakai tidak tepat..wong nimbang beras kok pakai timbangan emas...ya ndak 
cocok tho..Mungkin secara keseluruhan memang bener bahwa mereka itu miskin 
dengan indikator sosial yang ditetapkan oleh internasional...tapi pengertian 
miskin di mereka itu berbeda..
Begitu juga dengan kata �peminggiran� apakah ada kesamaan pemahaman antara 
yang dibilang terpinggirkan dengan yang mengatakan itu.

Mengenai ketergantungan..ok. saya setuju bahwa perempuan itu mesti mandiri., 
sehingga mempunyai percaya diri yang cukup dan itu menyehatkan jiwanya, yang 
akhirnya menyehatkan keluarganya juga, meski gaji lebih kecil dari suami...tapi 
semua tergantung komitmen dan BUKAN hanya kemandirian dalam arti Ekonomi saja 
kan..

----------------------------------------------------------
Masih kerap bukan kita dengar komentar-komentar miring tentang perempuan dalam 
berbagai bidang? Buktinya, lihat saja posting-posting di milis ini. Rata-rata, 
pengirim posting-nya ngaku nggak bias gender, tapi dalam setiap posting mereka 
kita bisa melihat konsistensi pola pandang yang negatif terhadap perempuan. 
Jika Anda gagal melihat ini semua, itu karena Anda tidak memakai perspektif 
perempuan dalam memandang persoalan (meski Anda sendiri perempuan).

-CI-
Pak...kondisi ngindonesia tercinta ini tuh masih monolitik (dan ya memang 
begitu tidak akan hilang tapi punya nuansa yang beda..) kecuali di kota-kota 
besar metropolitan seperti Jakarta�lha para feminis dengan langkahnya yang 
pluralistik...ya jelas tho gap nya terlalu lebar. Apakah mereka juga tidak 
terkontaminasi monolitik?? Ibaratnya orang jalan..yang feminis jalan sudah 
sampai titik P..nah yang non-feminis masih di titik B.....jaka sembung kan.
Sebagai wacana ok saja toh, buat saya pribadi mo negatif atau positif tentang 
perempuan yang muncul di posting atau dimanapun ga masalah, kalo itu memang 
realitas..(boro-boro bicara post realitas)..malah bisa buat maping dan akhirnya 
bisa buat strategi intervensi untuk �memberdayakan� perempuan dan merubah 
pola pikir masyarakat terutama laki-laki dan akhirnya pergeseran norma terjadi 
dan monolitik akan punya makna baru dan lebih bisa melakukan adaptasi 
perubahan..karena mau tidak mau pluralistik dah dateng...
---------------------------------------------------------- 
Tapi, ngomong-ngomong, karena Anda sudah bilang punya pemahaman sendiri tentang 
feminisme, tolong dong dibagi ke kita-kita ini. Biar bisa dilihat sumbangan apa 
yang dapat diberikan oleh pemahaman Anda itu pada kemajuan gerakan perempuan.

-CI-
Menurut saya sih (sambil nyengir)..kalau kurang tepat jangan dimarahi ya...
Semua kembali pada pemposisian laki-laki dan perempuan itu sendiri sebagai 
MANUSIA. 
Kalau kita amati hukum-hukum alam, misalnya gaya gravitasi yang menarik segala 
sesuatu kebawah, begitu konsisten, teratur, dan dapat di prediksi 
sebab-akibatnya. Dengan pemahaman terhadap hukum-hukum alam tersebut kita dapat 
memnafatkannya untuk kehidupan sehari-hari. Hukum gravitasi dan aerodinamika 
dapat digunakan untuk merancang pesawat terbang, yang sebenarnya adalah 
�wahana� yang bisa digunakan untuk melawan hukum alam tersebut. Jadi dengan 
yang diperoleh adalah �kemenangan� dengan memahami seluk beluk terhadap 
hukum alam tersebut. 
Kehidupan sosial begitu juga..mengandung serangkaian keteraturan meski tidak 
memiliki kekuatan �memaksa� kan yang setara dengan hukum alam tersebut 
seperti gravitasi misalnya. Meski kekuatan hukum atau tradisi memaksa kita 
untuk mematuhinya (atau melanggarnya). Selain itu tidak berbeda dengan dunia 
fisik..kehidupan sosial memerlukan serangkaian aturan-aturan yang menjadi 
harapan bersama untuk berlangsungnya kehidupan dengan "baik", meski begitu 
sangat dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan di kelompoknya...termasuk harapan 
bersama atas peran dan fungsi yang terbedakan misalkan salahsatunya berdasarkan 
jenis kelamin..dan ini REALITAS yang DINAMIS bahwa laki-perempuan itu berbeda 
dan mempunyai peran/fungsi yang berbeda juga, ada yang laki-laki tidak bisa 
lakukan tapi perempuan bisa begitu juga sebaliknya...Misalnya dalam sebuah 
keluarga--peran/fungsi sebagai bapak, ibu dan anak berbeda-beda�maka yang 
bisa kita bicarakan adalah peran/fungsi masing-masing dalam frame
 bhinneka
tunggal ika satu keluarga. Permasalahan akan muncul misalnya ketika orang 
bingung dengan perannya sendiri..misalnya seorang polisi yang harus �keras� 
di jalanan dan ketika kembali ke rumah harus lembut, sabar terhadap anggota 
keluarganya...dan ini potensi menimbulkan konflik dalam kehidupan pribadinya...
Jadi buat saya KESADARAN akan peran/fungsi masing-masing itu perlu dan sangat 
diperlukan..
Masalah kemandirian..itu bukan problem milik perempuan doang...tapi juga 
laki-laki�sama-sama sebagai manusia (dan tidak saja kemandirian dalam arti 
ekonomi lho..) dan problem sebagaian besar dari orang ngendonesia tercinta ini 
adalah ketergantungan alias ketidak mandirian�sumbernya adalah masalah 
pengambilan keputusan...pangambilan keputusan dengan kesadaran yang perlu di 
latihkan sejak anak-anak.

------------------------------------------------
Catatan tambahan untuk matrilineal di Minangkabau: power tetap ada di tangan 
laki-laki. Ninik Mamak itu laki-laki lho, bukan perempuan.

-CI-
mengenai Minangkaubau..iye emang bener matrilineal bukan matriatki..ini aja 
persepsinya bisa keliru kan..he..he..

manneke____ -CI-



         

       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke