Bu Yuli,

Saya sudah lama ikut milis ini, sejak 2002. Alhamdulillah diberi 
kehormatan oleh Lae Agus boleh posting tanpa lewat moderator; entah 
mengapa, beliau sajalah yang punya jawabannya. 

Saya menghormati Pak Manneke dan saya menduga Pak Manneke juga punya 
respek yang sama kepada siapapun lawan diskusinya.

Kalau tidak setuju dengan satu pendapat saya biasanya membantah 
dengan fakta atau diam saja (kalau ilmu saya sudah tidak memadai). 
Tidak pernah sampai menyuruh mengacuhkan, apalagi sampai 
bilang "anjing menggonggong kafilah berlalu". Dalam nilai yang saya 
pegang dalam diskusi, kata-kata begitu adalah the ultimate insult.

Dari kemarin Anda sibuk menyimpulkan sendiri isi kepala saya: mulai 
dari "meragukan keberadaan perempuan", "kayaknya perempuan gak punya 
banyak pilihan", lalu mengelompokkan saya ke dalam "klub" bikinan 
Anda sendiri. Terserah Anda sajalah. Jujur saja, saya tidak berminat 
berdebat dengan Anda dan saya tidak peduli apa pandangan Anda 
tentang saya. Saya lebih senang diskusi dengan yang saling 
menghormati saja.

Andi


--- In [email protected], Yuliati Soebeno 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Manneke,
>    
>   Kalau gua mah akan bilang: 10 x 10 = cepek (alias CAPEK,deh) 
ngelayanin dan menjawab opini begituan. Don't waste your time, dong, 
pak Manneke.
>   Anggaplah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Hehehe....gitu 
loch, pak? 
>    
>   Mau tergila-gila Di Caprio, kek; mau nangisin Kate Winslet, kek. 
>   Setiap orang punya hak untuk menyukai atau membenci film 
Titanic, bukan?
>   Kalau menurut pak Andi ini, kayaknya perempuan gak boleh punya 
banyak pilihan, ya?Begitukah pak Andi? 
>   Padahal saya juga seneng nonton bola, apalagi kalau Arsenal 
sedang lawan MU! Karena saya dulu pernah tinggal di North London 
(jadi harus njago-in Arsenal).
>   Jadi tidak hanya hal-hal yang cengeng saja yang saya tonton. 
Malahan saya lebih memilih filem-filem yang lucu dengan humor yang 
cerdas, serta yang tidak menurunkan derajat perempuan, lebih 
menyenangkan ditonton.
>    
>   Salam,
>   Yuli
> 
> manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Ini dia masalahnya: konsep dari masa ribuan tahun lalu 
masih terus di bawa ke masa kini. Di banyak negara Barat kini, para 
laki-laki sudah belajar untuk tak hanya membukakan pintu buat 
perempuan, tapi juga buat siapa saja. mendahulukan orang lain masuk 
ke pintu juga sudah mulai dilakukan untuk siapa saja, tak hanya 
untuk perempuan. Jadi, sudah mulai ada perubahan wawasan rupanya. 
Hanya Hollywood saja yang masih demen bawa citraan purba ke masa 
kini.
> 
> Tapi, apa betul sangkaan Anda bahwa para ibu-ibu yang nyeret 
suaminya nonton Titanic itu disebabkan karena mereka mau liat 
Leonardo Di Caprio mengurbankan jiwa buat Kate Winslet? Jangan-
jangan ini asumsi yang mengandung bias? Bisa saja mereka mau nonton 
Titanic karena ini memang film tentang sebuah tragedi besar di masa 
lalu? Kisahnya juga sudah sangat terkenal. Apakah jika tak ada 
adegan Di Caprio menyelamatkan Winslet maka ibu-ibu tak mau nonton? 
Kita nggak tau. dan sebaiknya tak berandai-andai. 
> 
> Juga sebaliknya, apakah jika yang selamat Di Caprio sementara yang 
mati Winslet, maka tak ada ibu-ibu yang mau nonton? Saya tak berani 
menduga-duga. Jika Anda sudah berani menyimpulkan bahwa demikianlah 
adanya, saya curiga jangan-jangan ini penyakit bias gender Anda yang 
lagi-lagi muncul.
> 
> Seperti yang dibilang Pak Haniwar, laki-laki juga demen kok nonton 
dirinya tampil sebagai hero dalam film. Supaya bisa ngerasa hebat. 
Kok Bung Andi nggak ngomong apa-apa soal positioning penonton laki-
laki dalam kasus ini? Apa betul sih mereka itu nonton karena diseret-
seret istrinya atau pacarnya? Kedengarannya mirip keledai ya jika 
memang betul...
> 
> manneke
>


Kirim email ke