Setuju, kadang2 agak berlebihan tayangannya ... dan kadang2 terkesan
'sok'macho ...

On 4/26/07, anwar siswadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Badut di JP
>
> Seekor ular besar dan panjang, merayap di tanah dan rerumputan lereng
> sebuah perbukitan atau gunung di Sulawesi Utara. Warnanya coklat, motif
> sisiknya bagus seperti batik. Dari jarak dekat, makhluk menakjubkan itu
> adalah piton atau sanca adanya. Gerakan melatanya tenang, saat Trans 7
> menayangkannya di acara Jejak Petualang, Senin sore (23/04/07).
> Tapi keindahan tak berlangsung lama. Sesosok badut tiba-tiba datang
> mengganggu keelokan satwa itu. Berkaos Jejak Petualang, seorang laki-laki
> berlari dan berteriak-teriak ke arah sang ular yang berada dekat sisa
> sebatang pohon lapuk. Seperti orang kesetanan, bongkahan pohon tua
> disingkirkan hingga terguling bersama sisa akar dan tanah yang menempel.
> Ekor ular segera diraih sambil terus berteriak-teriak. Tak kuat menarik,
> lelaki itu beralih menangkap leher dan mulut sang piton berkali-kali.
> Tak cukup mengganggu dengan peran kesurupan, leher ular dicekiknya, hingga
> mulut sang piton membuka. Kemudian mereka bergumul seperti ada yang perlu
> menaklukkan dan ditaklukkan. Menarik? Lebih tepatnya menjijikkan.
> Patut disayangkan, tayangan semenarik Jejak Petualang pada awal-awal
> episodenya, kini harus tercemar oleh acting pembawa acara yang dangkal
> pengetahuan agama, konservasi dan satwa liar seperti itu. Ular yang sedang
> hidup tenang di alamnya dan tak mengganggu manusia, disiksa sedemikian rupa
> agar tayangannya terlihat menarik di mata penonton yang jauh lebih pintar
> daripada pembuat dan pembawa acaranya.
> Alangkah baiknya jika JP dihentikan sementara dan Trans 7 mencari kembali
> awak produksinya yang lebih berwawasan jika Heru Gundul dan rekan-rekan di
> Jejak Petualang masih gemar bertingkah bodoh dan menyiksa sesama makhluk
> hidup yang ditemuinya di alam raya. Tabik!

Kirim email ke