Nah, bang Tobing datang dengan salah satu pemikiran. Multitasking people. Bisakah kita mempersiapkan anak2 kita tanpa mengorbankan masa anak2nya?
Tapi memang spt yg bang Tobing katakan, saya pribadi punya beberapa kemampuan yg awalnya memang hobi, tapi lama2 kok ya bisa nduiti (menghasilkan uang). Secara formal saya bekerja di sebuah penerbitan di bag event, yg secara kebetulan pula bisa memberikan saya wadah utk berkreasi krn saya mantan desainer grafis dan hobi main musik dan nyanyi. Jujur saja, saya menikmati sekali pekerjaan ini. Termasuk ketika ada teman yg menikah, ultah, atau punya event, saya bisa nyalurin hobi musik dan nyanyi, sekalian dapat tambahan utk beli bensin motor saya. Juga bisa bantu2 di desain dan event-nya. Maaf, bukan mau unjuk gigi atau sombong, tapi sekedar memberi dukungan kepada pemikiran mengenai multitasking tadi. Anak saya sih krn msh TK, skr belum saya kursusin apa2. Tapi karena anak suka sekali menari dan menyanyi, ya pengennya nanti akan saya kursuskan di bidang kesenian saja. Semoga saya sanggup membiayainya. salam, totot ----- Original Message ----- From: "Tobing Rinsan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Monday, April 30, 2007 4:33 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim > Kawan-kawan semuanya, > > Ini mungkin sudah terjadi kepada kita karena katakanlah bahwa kita hidup di > jaman yang salah. Tetapi mudah2an tidak terjadi kepada anak-anak kita. > Melihat kepada semua kejadian yang ada di dunia ini, menyangkut ketersediaan > energi, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan di atasnya, ketersedian > lapangan kerja dan berbagai jenis penyakit yang banyak bermunculan, , maka > saya dan istri memutuskan hanya memiliki satu anak, yang menurut orang-orang > disekeliling keputusan kami aneh. Anak kami perempuan dan sekarang sudah > berumur 9 tahun kelas tiga SD dan bulan Juli ini sudah kelas 4 SD. > > Saat ini istri saya bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris di salah satu > kursus bahasa Inggris dan juga di bimbingan belajar. Sementara saya bekerja > di NGO di Aceh dengan sistem kontrak. Pada awalnya gentar juga, karena > seteleh habis kontrak kemana selanjutnya. Melihat persaingan yang > sangat-sangat keras, saya selalu berfikir apa yang hendak saya lakukan > setelah kontrak usai. > > Saat ini, kami mengikutkan anak kami kursus bahasa Inggris, renang, > kumon dan musik. Kami juga menyediakan seperangkat komputer di rumah untuk > perkenalannya dengan dunia IT, yang sayangnya sekarang masih digunakan untuk > main game. Tujuannya adalah disamping agar membuatnya lebih positif, harapan > kami, juga sebagai survival kit-nya di masa depan. Jika suatu saat ijazahnya > tidak bisa dipakai lagi mencari pekerjaa, dia masih bisa menjadi pelatih > renang, pengajar bahasa Inggris, pengajar matematika ato pun pemusik ato > pengajar musik. > > Saat ini memang saya masih bisa membiayai semua kegiatan anak saya dan > berusaha menabung dari gaji saya dan istri. Tapi, bulan Desember ini kontrak > saya habis dan belum tahu apakah diperpanjang atau tidak. Beruntung, saya > juga menguasai bahasa Inggris karena pernah mengajar di Yayasan LIA selama 9 > tahun. Saya berfikir bahwa saya bisa jadi translator paruh waktu, > interpreter paruh waktu dan mengajar bahasa Inggris secara privat. > Mudah-mudahan saya dan keluarga masih bisa *survive*. Karena untuk > berbisnis, saya sudah kapok. Saya telah pernah mencobanya dan tidak kuat > dengan persaingan tidak sehatnya belum lagi termasuk aksi-aksi yang > merugikan dari orang-orang yang merasa peluangnya dipersempit yang membuat > saya bangkrut. > > Saya berfikir bahwa setiap orang yang ingin *survive* di Indonesia ini > haruslah yang multitasking. Setidaknya harus memiliki beberapa kemampuan > untuk bisa bertahan. Jika kita hanya menguasai satu keahlian untuk > *survive*mungkin akan menjadi seperti bapak-bapak yang kehilangan > pekerjaan utamanya > yang dulu telah menciptakan zona nyamannya dan tidak siap dengan keadaan > sekarang yang tiba-tiba berubah. > > Sekali lagi, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi *multitasking > person*ketika masih mampu.
