Rekan-rekan FPK,
Terutama Pak Wal, yah .. agak dilematis ya, bila khalayak dilarang 
untuk "nanggap" topeng monyet, karena sekarang si "tukang" topeng 
monyet tersebut mungkin sudah tidak punya alternative lain untuk 
mencari sesuap nasi. Saya pemerhati dan mungkin juga (mudah-mudahan) 
termasuk "penyayang" Binatang, tapi bukan ahli. Sebagai jalan tengah 
saya punya pemikiran sbb (tolong dibetulkan Pak, kalo saya keliru): 
Pertama, pertunjukan topeng monyet tersebut biarkan tetap layak 
dinikmati oleh peminatnya, sebab sejauh saya ketahui, 
phase "siksaan" yang paling puncak adalah saat si monyet dilatih, 
terutama saat dia harus jalan "tegak" seperti manusia, dan ini 
bukan "habitat" nya monyet. Saat itulah "jiwa" nya harus di "patah" 
kan .. dan sekarang ya sudah keburu patah. Jadi hemat saya, pada 
phase "pertunjukan" dia tidak lagi harus dalam kondisi lapar, namun 
juga tidak harus terlalu "kekenyangan" (manusia aja kalo kenyang 
males kan?) Dalam hal ini mungkin akan positif pabila ada LSM 
penyayang binatang atau pihak berwenang dari Pemerintah yang 
memberikan pengertian atau bahkan "warning" terhadap si tukang. 
Kedua, untuk "recruitment" monyet baru (harusnya sih untuk semua 
binatang sirkus) pemerintah harus memberikan batasan terhadap proses 
pelatihan. Prinsip dasarnya adalah, jangan izinkan atraksi yang 
terlalu jauh dari habitatnya, yang masih dapat dicapai dengan cara 
Kesabaran dari si pelatih dan tanpa mematahkan karakter si binatang. 
Saya yakin, begitu banyak "perilaku" binatang yang sangat menarik 
bagi manusia untuk ditonton, dan untuk si binatang dilakukannya 
berdasarkan upah yang layak, yaitu penganan yang digemarinya.
Tentu, kedua hal diatas merupakan teori yang sangat absurd untuk 
kondisi dan ukuran yang berlaku di negara kita, namun bukannya tidak 
mungkin! Contoh: tanpa niatan khusus dan tanpa "upah", apalagi 
paksaan, hanya semata timbul dari "interaksi bermain", rottweiler 
saya sangat "gila" bola dan begitu mahirnya berlaga sebagai "goal 
keeper" ngga kalah dengan Oliver Hahn. Satu saat, saya tendang bola 
diluar jangkauannya (vertical), bola ngga kena, jatuhnya keseleo, 
meraung abis-abisan, pincang empat hari. Periksa ke dokter, aman 
nggak ada yang patah .. seminggu kemudian .. ngajak maen goal keeper 
lagi .. sampe sekarang, jadi saya yang dikerjain, harus meladeninya 
sampe ngos-ngosan.
Salam,
Bodo


--- In [email protected], Suparmo Wal 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
>   Terpetik berita dalam KOMPAS mengenai Partai Monyet.
>   Dikatakan manusia  berotak atau berpikiran lebih tinggi dari 
binatang tetapi dalam hal topeng  monyet, manusia DIHIDUPI oleh 
binatang yang kecil , bodoh dan lemah tersebut. Bukan manusia yang 
menghidupi binatang tetapi dalam hal ini manusia  hanya  dapat hidup 
dari mengeksploatasi binatang. Binatang pada umumnya dan dalam hal  
ini monyet harus dipaksa dan cara pemaksaannya adalah tidak memberi 
makan. Monyet yang kenyang tidak akan mau  main jadi harus 
dilaparkan dan disakiti dengan menarik rantai lehernya dengan 
keras.Ini adalah satu kekejaman . Stop kekejaman terhadap bintang 
dan pertunjukan semacam ini harus dilarang! Buktikanlah bahwa 
manusia lebih tinggi derajatnya dari bintang, jangan 
sebaliknya.Minimal orang2 tua harus mendidik dengan melarang anak2 
menonton pertunjukan  kejam seperti ini.
>   Wasalam,
>   Wal Suparmo
> 
>        
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>  Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke