Yth Rekan-rekan FPK,

Membaca tulisan rekan Muh.R. Noertika, saya jadi
merasa terpanggil untuk mengungkapkan sesuatu yang
sedang  kami (Yayasan Centra Klub Rumah Anak) bina.

Kami sedang menjalankan suatu bentuk pendidikan
alternatif, yang mana Sense of human nya kami
tempatkan menjadi yang paling utama. Oleh karena itu
kami namakan sekolah tersebut dengan nama "SENSO
SCHULE" yang berarti kita mengarahkan (Menyekolahkan)
sense dari murid2 kami sehingga mereka bisa memahami
apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pelajari
terutama memahami perasaan orang lain.

Karena bagi kami: 
Kepandaian manusia itu diperlukan untuk kelak bisa
meniti masa depannya dengan optimal; untuk itu
anak-anak harus mempunyai:

- Kemampuan untuk berkonsentrasi
- kemampuan untuk berkomunikasi dua arah
- kemampuan memahami apa yang dilihatnya dan apa yang
didengarnya
- kemampuan untuk bisa berpikir abstrak
- kemampuan untuk bisa menguasai dan membahas suatu
materi 
- kemampuan untuk punya percaya diri
- kemampuan untuk memahami orang lain
- kemampuan untuk bisa membina hubungan dengan sesama
- kemampuan untuk bisa mengatasi semua permasalahan
yang datang pada dirinya.

Tentunya untuk bisa mencapai target yang begitu banyak
dan rumit, kami membuat suatu tempat pendidikan agar
interaksi belajar mengajar terasa nyaman dan terpadu
satu sama lainnya.

Di tempat kami, guru mengarahkan dan mengembangkan
anak-anak agar dirinya menjadi mandiri dan mempunyai
rasa tanggung jawab.

Sedang metoda yang kami gunakan, adalah metoda SENSORI
MOTOR untuk mengatasi perilaku anak, mengembangan
bahasa dan cara berbicara pada anak, juga
mengembangkan akademisnya.

Disamping itu kita juga mengajak orang tua untuk
berpartisipasi pada program ini, memberikan konseling
bila anak bermasalah, kami juga memberikan
pelatihan-pelatihan pada guru -pendidik dan orang2
yang care terhadap anak.

Metoda ini juga sangat dianjurkan bagi anak-anak yang
berkebutuhan khusus.

Saya sangat membuka diri untuk berdiskusi mengenai
tema ini.Mudah2an bisa menjawab apa yang anda
inginkan.

Salam dari Ratih.


--- Muhammad Ruslailang Noertika
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
>  
> 
> Mumpung lagi mau memperingati Hari Pendidikan
> nasional 2 Mei 2007, nih
> ada sedikit curhat ttg pendidikan kita.... 
> 
> Semua sepakat bahwa 'education is the best
> investment that offers the
> best gain in future', pendidikan adalah investasi
> terbaik yang
> menawarkan masa depan terbaik. Strata sosial dan
> ekonomi sebuah keluarga
> bisa terangkat secara drastis manakala anggota
> keluarganya mampu
> menyelesaikan pendidikan universitas. Bahkan status
> kelas seseorang akan
> diakui sebagai kelas menengah ketika mulai duduk di
> bangku kuliah. 
> 
> Dalam substansi yang paling mendasar, sistem
> pendidikan terbaik adalah
> yang mampu memotivasi manusia untuk bertahan hidup
> dengan bersendikan
> pada moralitas/budi pekerti. Agama telah memberikan
> petunjuk praktis
> bagaimana melakukan aktifitas luhur itu; berbuat
> baik dan mencegah
> keburukan. Tujuannya, apabila manusia konsisten
> dengan aktifitas luhur
> itu; semua substansi rasa kebahagiaan yang menjadi
> energi positif dalam
> hidup; percaya diri, senang, tenggang rasa,
> konsisten, bersemangat,
> bahagia, jujur. Sistem Pendidikan yang gagal adalah
> yang tak mampu
> menanamkan motivasi bagi peserta didiknya. Ketika
> kekerasan, kecurangan,
> korupsi, dan semua jenis energi negatif menjadi
> ouput dari sebuah
> pendidikan, maka kita bisa menganggap bahwa proses
> pendidikan yang
> ditempuhnya mengalami ketidaksempurnaan, atau secara
> sarkasme dikatakan
> sebagai failure of education atau kegagalan. 
> 
> Sejatinya, pendidikan tak boleh menghasilkan manusia
> bermental benalu
> dalam masyarakat, yakni lulusan pendidikan formal
> yang hanya
> menggantungkan hidup pada pekerjaan formal semata.
> Pendidikan selayaknya
> menanamkan kemandirian, kerja keras dan kreatifitas
> yang dapat membekali
> manusianya agar bisa survive dan berguna dalam
> masyarakat. Justru dari
> kemandirianlah manusia mampu mencapai level self
> esteem dan aktualisasi
> dirinya sebagaimana diungkapkan dalam teori
> Kebutuhan Maslow. Betapa
> banyak produk benalu dalam masyarakat, deretan
> manusia yang menjadi
> pengangguran sejati, menjadi beban dalam
> keluarganya, dan buruknya,
> mengarah ke rawan kriminalitas. 
> 
> Pendidikan tak boleh menghasilkan masyarakat
> penghayal, hanya memimpikan
> kehidupan mewah bak sinetron, menghasilkan pseudo
> community, masyarakat
> pura-yang menjadikan kehidupan pribadi bak panggung
> sandiwara,
> memarginalkan peran lembaga pernikahan dengan gemar
> kawin cerai, atau
> hanya berharap datangnya superhero yang
> kemunculannya mampu mengatasi
> segala kesulitan hidup, tanpa perlu mengandalkan
> kekuatan diri pribadi. 
> 
> Kegagalan pendidikan yang paling fatal adalah ketika
> produk didik tak
> lagi memiliki kepekaan nurani yang berlandaskan
> moralitas, sense of
> humanity. Padahal substansi pendidikan adalah
> memanusiakan manusia,
> menempatkan kemanusiaan pada derajat tertinggi
> dengan memaksimalkan
> karya dan karsa. Ketika tak lagi peduli, bahkan
> secara tragis, berusaha
> menafikkan eksistensi kemanusiaan orang lain, maka
> produk pendidikan
> berada pada tingkatan terburuknya. Kasus pembunuhan
> 35 praja di IPDN
> sejak tahun 1995 memberi satu contoh baik mengenai
> kegagalan pendidikan.
> Sistem pendidikan yang diterapkan, bukannya
> mengeliminir kekerasan,
> bahkan membakukan secara sistematik praktek-praktek
> dehumanisasi di
> lembaga pendidikan yang dibiayai rakyat itu.
> Padahal, menurut Mohandes K
> Gandhi, kekerasan hanyalah senjata bagi yang jiwanya
> lemah. 
> 
> Sesungguhnya kita tak perlu berharap banyak bagi
> munculnya banyak ragam
> pendidikan hybrid yang lebih mengutamakan keunggulan
> kuantitatif
> daripada kualitatif secara short time/instant.
> Mungkin kita akan merasa
> kehilangan romantisme sistem pengajaran masa lalu
> yang lebih menekankan
> pada implementasi budi pekerti yang sudah tak
> tercantum lagi dalam slot
> kurikulum kita. Kita teramat berharap pada sistem
> pendidikan yang tak
> hanya optimal, tapi juga mampu menumbuhkan
> kearifan-kearifan lokal yang
> menyentuh nurani, membesarkan hati, mendewasakan
> sikap dan perilaku,
> namun juga mampu menghidupkan secara ekonomi. Satu
> hal yang mungkin
> teramat sulit bagi pemerintah kita saat ini. 
> 

> -- rusle' --
> http://noertika.wordpress.com
> <http://noertika.wordpress.com/> 
> ::: mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu
> sipakainge :::

Kirim email ke