MINAT BACA itu satu level diatas AKTIF BACA. Orang yang aktif baca belum tentu masuk dalam kategori minat baca sebab mungkin saja dia aktif membaca karena suatu desakan dari luar seperti karena mau menyelesaikan studi. Pelajar yang giat membaca belum bisa dikategorikan peminat buku karena mungkin saja dasarnya karena dia terpaksa harus membaca buku-buku demi ulangan yang bagus agar cepat lulus walau sebenarnya dia tidak begitu meminati bidang pelajaran tersebut. Jadi kalau melihat fakta seperti itu dari sekian orang yang giat membaca mungkin yang bisa masuk dalam kategori minat baca jauh lebih sedikit lagi.
Kalau aktivitas masyarakat dalam membaca itu meningkat maka kemungkinan jumlah peminat baca akan meningkat pula. Bagi kita dalam batasan tertentu tidak perlu dipersoalkan apakah seseorang membaca buku karena minat atau karena dorongan faktor luar. Sebab apapun sebabnya selagi dia mau membaca itu sangat positif dan berfaedah. Nah, yang diperlukan bangsa kita saat ini sebetulnya bagaimana meningkatkan aktivitas membaca masyarakat. Karena susah mengharap motvasi membaca itu muncul dari kesadaran para individu sendiri maka sistemnya sendiri harus bisa menjadi faktor pendorong (force) yang bisa mengkondisikan masyarakat kearah kegiatan membaca. Bagaimana cara mem-force itu dilakukan tentu tergantung tempat dan keadaan. Di Sekolah-sekolah misalnya mungkin tiap semester atau kuartal bisa diadakan pekan presentasi buku oleh para siswa (secara individu atau kelompok). Atau siswa diwajibkan membaca minimal sekian buku yang non-buku pelajaran setiap tahun dan siswa diminta memberi ringkasan tertulis tiap buku yang dibacanya. Perlu diatur pelaksanaanya supaya efektif. Selain itu good habit kalau para siswa dipaksa mencantumkan buku-buku yang pernah dibacanya dalam CV masing-masing. CV ini mesti dilampirkan dan diverifikasi wali kelas dari tahun ke tahun sebagai dokumen resmi disamping raport. Ketika masuk dari SD ke SMP dan SMP ke SMA, salah satu test tambahan adalah interview tentang wawasan anak terhadap buku yang dibacanya. Berapa bobotnya interview itu bisa diatur dan difikirkan kemudian oleh yang ahli. Untuk mahasiswa mungkin setiap subjek pelajaran ada baiknya diharuskan membuat studi buku kecil-kecilan yang dituangkan dalam bentuk paper sebagai salah satu bagian dari penilaian disamping ulangan/ujian rutin. Untuk Organisasi dan perusahaan (negeri dan swasta), mungkin harus ada komitment perusahaan atau organisasi bagaimana mewajibkan karyawannya secara aktif membuat suatu presentasi yang mau tidak mau harus melibatkan pengetahuan dari buku sebagai penunjang. Hendaklah kegiatan seperti ini diagendakan secara formal dan punya nilai tambah terutama terhadap promosi karyawan. Dalam setiap interview pekerjaan ada bagusnya kalau interviewer selalu menanyakan buku-buku apa yang pernah dibaca si pelamar kerja dan tanya sesuatu mengenai uraian buku-buku yang disebut. Menunggu rakyat sadar membaca sampai kapanpun tidak akan membuahkan hasil. Tapi dengan gebrakan program aktif baca yang dikaitkan dengan aktifitas harian maka dampaknya akan cepat terasa walau mungkin pada awalnya sangat membuat tidak nyaman dan menuai protes banyak orang dengan segala dalih. Terakhir ya tentu saja pemerintah sendiri harus banyak mensubsidi bagaimana supaya buku bisa murah atau tersedia di banyak perpustakaan. SH On 5/2/07, Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Yth Bpk John, > > Saya juga setuju dengan pendapat bapak....tapi apakah > Bpk yakin bahwa anak akan mencari berita atau bahan2 > pelajaran dengan sendirinya sementara anak tersebut > tidak berminat untuk membaca. > > Sayamempunyai beberapa karyawan yang waktu senggangnya > memang digunakan untuk masuk internet tapi lebih untuk > mencari game bukan mencarai bahan untuk mengembangkan > wawasannya. > > Pak John apa yang bapak sampaikan sama sekali tidak > salah. Dan saya berpikir memotivasikan anak untuk > belajar membaca tidak harus mahal, atau itumilik > semata-mata kaum the have. > > Saya sudah berhasil memotivasikan anak pembantu saya > untuk rajin membaca, tanpa harus mengeluarkan > uang....sebagai orang dewasa pasti kita dirumah banyak > sekali mengumpulkan bahan2 untuk menari minat anak > agar mau membaca. > > Jadi bagi saya tetap letaknya pada orang dewasanya > sendiri....apakah mereka cukup kreatif untuk bisa > manarik minat baca anak???? Janganlah kita selalu > berpikir bahwa itu hal yang mahal...mengajak anak > bermain sambil membaca tidak harus mahal...tidak > harusselalu membeli ditoko....begitu banyak orang > dewasa menganggap itu "Sampah" tetapi mungkin sangat > berharga untuk menarik minat anak untuk belajar > membaca.Misalnya bungkusan2 sabun, kacang, iklan2 > kecil itu semua bisa kita jadikan bahan untuk menarik > minat baca anak...hanya saja kita membutuhkan > kreativitas anda sebagai orang dewasa bagaimana > membuat itu semua menjadi suatu bacaan.....disitu > letak kuncinya, > > Salam dari Ratih >
