Pak Kartono, masalahnya tidak sesederhana apakah Tuhan di luar atau di dalam 
diri kita? Ini bukan sekedar masalah teritori dari Tuhan, melainkan masalah 
konsep mengenai Tuhan. Dalam setiap agama (bahkan dalam diri setiap orang 
beragama) ada konsep tentang Tuhan, dan ini adalah konsekuensi logis dari upaya 
manusia memahami Dia. Masalah muncul apabila terjadi klem bahwa konsep Tuhan 
dalam agama tertentu (bahkan dalam diri orang tertentu) adalah satu-satunya 
yang benar, mutlak, dan sempurna, serta paripurna! 
   
  Klem seperti berimplikasi pada tindakan-tindakan sosial dan sikap etis kita 
dalam hubungan dengan orang beragama lain bahkan dengan orang lain yang 
seagama. Kita akan menemukan maraknya perilaku yang saling merendahkan dan 
menindas demi dan atas nama Tuhan itu sendiri. Jadi problemnya bukan karena 
paham Tuhan di luar, maka terjadi tindakan manipulasi dan menindas, melainkan 
jauh lebih berbahaya adalah klem bahwa hanya dia yang punya Tuhan yang sejati, 
sehingga segala tindakan yang keluar dari dirinya adalah tindakan Tuhan yang 
diyakininya sbagai yang sejati itu.
   
  Masalahnya adakah agama yang benar-benar dapat memahami dan mengetahui 
keberadaan Tuhan secara mutlak. Bukankah Tuhan itu (dalam keyakinan agama) 
tidak dapat dijangkau oleh manusia? Jadi, harus direformulasikan lagi konsep 
kita mengenai Tuhan supaya jangan menggunakan Tuhan sebagai "alat pemukul" 
orang yang berbeda keyakinan dengan kita, sekaligus sebagai alasan pembenaran 
bagi tindakan kita yang manipulatif dan tidak manusiawi.
   
  Salam,
  Wielsma
   
  

Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Pak Tri, tulisan saya memang tidak untuk membandingkan teologi antar
agama tetapi lebih menekankan pada perilaku moral orang yang mengaku
bertuhan. Atau bahkan merasa menjadi wakil Tuhan, yang sekarang ini
banyak kita jumpai di masyarakat kita.
Saya memang tidak belajar konsep Tuhan menurut Hindu tetapi dalam
Purana, salah satu kitab ajaran Hindu, Tuhan dinyatakan ada di
mana-mana. Dalam kesimpulan Radhakrsihnan (1976) tentang inti ajaran
Bhagavadgita, mengenai Tuhan dikatakan "His form is not capable of
being seen; with the eye no one sees Him. They who know Him thus with
the heart, with the mind, as abiding in the heart, become immortal".
Jadi Hindu pun menekankan Tuhan yang ada di dalam hati dan pikiran
kita, kalau mau menuju ke keabadian.
Jadi menekankan Tuhan yang ada dalam diri kita menjadi penting untuk
membimbing perbuatan kita.
Salam
KM

Kirim email ke