ingatan dan kenangan: pada tahun 1960-an, babah gemuk atau sebagian orang memanggilnya bah salim, yang dikenal sebagai pedagang di pasar serang, banten, bertanya kepada anaknya ketika sang anak mengambil aer disebuah gentong yang biasa digunakan untuk membasuh tangan dan wajah sebelum babah gemu atau anaknya atau anggota keluarga lainnya bersembahyang secara buddhis. anak yang baru menginjak umur belasan tahun itu merasa heran, dan menjawab pertanyaan bapaknya: mau sembahyang. bapaknya menimpali: nggak usah sembahyang. kamu kan baru saja berkelahi dengan temanmu, tetangga. kalau kamu baik dengan tetangga, itulah sembahyang yang paling baik. pada tahun 1980-an, dalam suatu kunjungan ke rumah romo mangunwijaya di pinggir code, kami kongko bersama beberapa teman dari beberapa kota, dan romo mangun menyampaikan, betapa religiositasnya para pemulung itu. pada tahun 1970-an, takdir alisjahbana dalam sebuah tulisannya menyatakan tentang "tuhan yang berkeringat". tiga peristiwa itu sampai sekarang membuat saya selalu bertanya-tanya, kemanapun saya pergi. tapi ada satu hal yang rasanya mungkin membuat saya makin jadi yakin bahwa seorang anak pemulung plastik pada setiap tengah malam di kota makassar adalah wujud dari religiositas, wujud dari "tuhan yang berkeringat", sama halnya betapa reliogiosnya seseorang yang dengan ramah mau menerima perbedaan. saya kurang tahu pasti, adakah penafsiran saya benar atau salah. namun selalu saya bertanya-tanya, kenapa pula begitu banyak rumah ibadah sementara perpustakaan sangat kurang, dan kenapa pula begitu banyak uang untuk hal-hal yang seremonial, sementara puskesmas atau poliklinik di pedesaan sangat kekurangan dalam berbagai hal. terima kasih dan salam hangat: halim hd.
--- Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mohon jangan disimak tulisan saya itu dari soal > ideal atau tidak. Saya > hanya mengajak para pembaca untuk merenung. Kant > juga membahasnya dari > segi filosofi. Ia beranggapan Tuhan bukan di luar > kita tetapi dalam > diri kita. Ia yang menentukan hukum moralitas > teryinggi yang > seharusnya diikuti. Artinga manusia diharap akan > berbuat baik karena > menyadari bahwa hukum moral tertinggi ditentukan > oleh Tuhan yang ada > dalam diri kita. Tidak semua orang setuju dengan > pandangan Kant, > seperti yang saya sajikan dalam tulisan itu. Hitler > adalah salah satu > orang yang tidak setuju dengan pandangan Kant pada > umumnya (termasuk > Categorical Imperative-nya). > Pol Pot? Mungkin ia beranggapan bahwa ialah tuhan > sehingga boleh > membunuh siapa saja yang dianggapnya tidak sejalan > dengan pendapatnya. > Baginya "darah orang yang berbeda pendapat dengannya > adalah halal". > KM >
