Salam Ikut nimbrung ah...
Logikanya orang yang berbuat kerusakan/keburukan secara kontinue adalah orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Karena ketidakpercayaanya tersebut maka otomatis tidak pula percaya adanya hukum Tuhan kelak. Suatu hal yang logis juga, karena semakin pandai manusia, hal2 yang tidak riil akan semakin tereliminasi dari pemikirannya. Seperti juga telah banyak ditulis, perdebatan tentang keberadaanNya tidak akan pernah mencapai satu kemufakatan karena ketidak nampakanNya tersebut. Oleh karena itu marilah kita gunakan pendekatan lain agar sedikit banyak membuka ranah pemikiran kita. Asumsinya tetap saja, ada dua kubu, yaitu yang percaya dan yang tidak percaya keberadaanNya. Asumsi kedua adalah keduanya menyepakati tinjauan tentang adanya kehidupan/hukum Tuhan kelak / setelah mati. Oleh karena itu jika kelak terbukti bahwa Tuhan dan hukumNya ternyata ada, maka orang2 yang saat ini percaya dan melakukan kebaikan akan menuai hasil dari kebaikannya tersebut, sedangkan yang tidak percaya dan saat ini melakukan berbagai keburukan akan mendapat balasan pula. Kemungkinan kedua adalah kelak ternyata Tuhan tidak ada, kedua pihak tentu tidak akan mendapatkan apapun. Namun apakah pihak yang percaya Tuhan ada, dan saat ini melakukan kebaikan akan menyesal dan memaki-maki, tahu gini gua nyesel deh, kagak korupsi, maen perempuan etc ?. Tentulah tidak. Nah , klo hal ini diresapi pastilah kita, siapapun Tuhannya, akan berlomba berbuat kebaikan di dunia ini karena kita punya probabilitas lebih baik kelak. He...he...ngelantur ya..? iya juga juga karena saat ini saya lagi bikin aplikasi C++ sambil baca tulisanya pak KM. Wasallam -------Original Message------- From: Kartono Mohamad Date: 05/08/2007 10:04:56 AM To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam Terima kasih mas Bo (rasanya tidak enak memanggil anda bodo karena anda terbukti mampu berdiskusi secara cerdas). Saya sungguh merindukan Indonesia yang damai dan enak dihuni karena masyarakatnya benar-benar ber Tuhan, bukan hanya secara lisan tetapi juga dalam perbuatan. Mereka yang menghendaki kemajemukan ini dihilangkan adalah juga mengingkari sunnatullah. Sunnah Tuhan. Bukankah Tuhan sudah secara eksplisit menyatakan bahwa Ia menciptakan manusia dalam berbagai-bagai golongan? KM
