Benar bung Halim, religiositas yang diukur dari rajin tidaknya seseorang
bersembahyang dan menghafal kitab suci sering mengecoh. Sudah terlalu
banyak contoh mengenai hal itu, terutama di Indonesia. Bukan hanya di tahun
60-an (khusunya tahun 1965-1966 seperti yang anda tulis di posting lain),
tetapi juga sampai sekarang banyak orang bertindak sebagaimana Pol Pot dan
Hitler yang merasa menjadi wakil Tuhan yang sah atau bahkan merasa dialah
tuhan. Mungkin tidak sampai melakukan pembunuhan massal seperti Hitler dan
Pol Pot tetapi sudah cukup menakutkan dan mencemaskan.
KM
-------Original Message-------
From: halim hd
Date: 08-05-2007 1:53:13
To: [email protected]
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam
ingatan dan kenangan:
pada tahun 1960-an, babah gemuk atau sebagian orang
memanggilnya bah salim, yang dikenal sebagai pedagang
di pasar serang, banten, bertanya kepada anaknya
ketika sang anak mengambil aer disebuah gentong yang
biasa digunakan untuk membasuh tangan dan wajah
sebelum babah gemu atau anaknya atau anggota keluarga
lainnya bersembahyang secara buddhis. anak yang baru
menginjak umur belasan tahun itu merasa heran, dan
menjawab pertanyaan bapaknya: mau sembahyang. bapaknya
menimpali: nggak usah sembahyang. kamu kan baru saja
berkelahi dengan temanmu, tetangga. kalau kamu baik
dengan tetangga, itulah sembahyang yang paling baik.
pada tahun 1980-an, dalam suatu kunjungan ke rumah
romo mangunwijaya di pinggir code, kami kongko bersama
beberapa teman dari beberapa kota, dan romo mangun
menyampaikan, betapa religiositasnya para pemulung
itu.
pada tahun 1970-an, takdir alisjahbana dalam sebuah
tulisannya menyatakan tentang "tuhan yang
berkeringat".
tiga peristiwa itu sampai sekarang membuat saya selalu
bertanya-tanya, kemanapun saya pergi. tapi ada satu
hal yang rasanya mungkin membuat saya makin jadi yakin
bahwa seorang anak pemulung plastik pada setiap tengah
malam di kota makassar adalah wujud dari religiositas,
wujud dari "tuhan yang berkeringat", sama halnya
betapa reliogiosnya seseorang yang dengan ramah mau
menerima perbedaan. saya kurang tahu pasti, adakah
penafsiran saya benar atau salah.
namun selalu saya bertanya-tanya, kenapa pula begitu
banyak rumah ibadah sementara perpustakaan sangat
kurang, dan kenapa pula begitu banyak uang untuk
hal-hal yang seremonial, sementara puskesmas atau
poliklinik di pedesaan sangat kekurangan dalam
berbagai hal. terima kasih dan salam hangat:
halim hd.