Kalau boleh saya berpendapat Pak John, seberapa besar dan banyak pembelajaran 
yang diberikan kepada anak, pastilah harus disesuaikan dengan kemampuan 
masing-masing anak, jangan dipaksakan.
   
  Tapi memang kemampuan anak itu khan berbeda-beda. Jadi harus orangtuanya yang 
peka untuk dapat mengetahui batas kemampuan anak.
   
  Jika anak mampu namun orangtua khawatir terlalu banyak memberikan 
pembelajaran, maka akan sayang sekali karena menjadi kurang optimal.
   
  Namun jika orangtua menjejali pembelajaran karena ingin anaknya sesuai 
harapan dia (orangtua), di sisi lain anaknya tidak terlalu mampu, maka hal ini 
bisa menjadikan si anak stres.
   
  Jam belajar sampai sore pun, yang sekarang ini banyak diterapkan di beberapa 
sekolah, hal ini akan baik bagi anak yang keuda orangtuanya bekerja. Daripada 
si anak pulang cepat dan selebihnya hanya bergaul dengan pembantu, atau main 
keluar ruma tanpa pengawasan orangtua, maka akan lebih baik jika ia berada di 
sekolah untuk bersosialisasi dengan guru dan rekan-rekannya.
   
  Namun tetap saja namanya manusia, ada saja lembaga pendidikan yang menawarkan 
jam pelajaran sampai sore tapi tidak memanfaatkan waktu itu dengan optimal. 
Yang ada hanya sekolah itu seperti lembaga penitipan anak yang menunggu sampai 
orangtuanya pulang kerja.
   
  Semua kembali kepada kualitas dan kemampuan pribadi dan lembaga masing-masing.
   
  Jadi jangan salahkan lembaga pendidikan itu buruk, karena memang kemampuan 
lembaga itu ada pada tahap itu. Tinggal konsumen nya saja yang menentukan mau 
bergabung dengan lembaga itu atau tidak.
   
  Begitu juga soal financial, semua sudah menempatkan pada ukuran mereka 
masing-masing, jika memang mampu, mengapa tidak bergabung dengan lembaga 
pendidikan yang mahal (tetapi harus bagus tentunya). Kalau memang tidak mampu, 
ya carilah lembaga lain yang sesuai kemampuan.
   
  Jika di-ibaratkan potong rambut, bila dilakukan oleh tukang di bawah pohon 
dengan di Johny Andrean, pastilah harga nya berbeda.
   
  Namun adakalanya yang dibawah pohon itu hasilnya lebih bagus daripada seorang 
pemotong rambut di salon Johny Andrean.
   
  Jadi bila kita tidak merasa gengsi untuk pilih yang dibawah pohon tapi 
hasilnya bagus, ya lakukanlah. Tapi kalau gengsi dan ingin potong rambut di 
Johny Andrean, ya lakukan juga, tapi harus konsekuen, jangan mengeluh karena 
harganya mahal, karena memang itulah standard untuk JOhny Andrean.
   
  Yang bikin repot juga kalau ada lembaga penipu, gembar gembor kualitas bagus 
maka pakai harga Johny Andrean, ternyata hasilnya tukang potong rambut di bawah 
pohon (pun bukan yang hasilnya bagus - karena beberapa yang di bawah pohon pun 
ada yang hasilnya bagus). Sudah itu dia mencari keuntungan yang 
sebesar-besarnya tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas.
   
  Jadi, sudah yuk kita berhenti mengeluh. Semoga semakin banyak pribadi yang 
peduli sehingga dapat mendirikan lembaga pendidikan yang berbiaya tukang potong 
rambut di bawah pohon, namun berkualitas Johny Andrean (yang bagusnya).
   
  Salam.
  

john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bu Ratih, membaca tulisan Ibu, saya jadi ikut prihatin melihat 
anak-anak sekarang, yang sejak usia 4 tahunan sudah diikutkan play group, usia 
5 atau 6 tahun sudah dijejali berbagai macam les (les renang, bahasa Inggris, 
piano, kumon dll), suatu hal yang tak pernah terbayangkan pada masa kecil saya.

Tapi di sisi lain saya juga melihat banyak sekali orang yang sukses (dalam 
karir), karena sejak usia dini sudah mendapat pendidikan secara intensif. Dalam 
dunia hiburan misalnya Michael Jackson (artis, USA), Sherina (artis, Indonesia).
Dalam dunia olahraga misalnya Ian Thorpe (renang, Australia) atau Juergen 
Klinsmann (sepakbola, Jerman).
Dalam dunia politik misalnya keluarga Gandhi (India) atau Kennedy (USA).

Jadi bagaimana sebaiknya Bu Ratih, solusi yang pas buat pendidikan anak usia 
dini?

Salam.

Kirim email ke