Oleh Suryopratomo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/08/utama/3586325.htm
======================

Kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Beijing Municipality Planning
Exhibition, Kamis (7/6) pagi, tampak biasa-biasa saja. Wapres
diperkenalkan mengenai ibu kota Beijing baik masa lalunya maupun masa
kini.

Kesan itu menjadi berubah ketika Wakil Presiden (Wapres) beserta
rombongan terbatas diminta masuk ke dalam satu ruangan untuk menonton
sebuah film pendek. Dalam bioskop kecil yang dilengkapi tempat duduk
bergerak, Wapres diajak untuk melihat Beijing masa depan.

Beijing 1 Oktober 2069 atau 120 tahun setelah Republik Rakyat China
berdiri mampu divisualkan secara jelas. Penonton diberi gambaran yang
lebih nyata mengenai pembangunan yang akan dilakukan Beijing dan
seperti apa keadaan ibu kota China itu 62 tahun yang akan datang,
ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mereka kuasai.

Sebuah mimpi memang. Namun, mimpi mereka itu tidak hanya diucapkan
sehingga menjadi abstrak dan sulit ditangkap dengan jelas oleh nalar,
tetapi mimpi yang mampu membawa setiap orang masuk dalam kenyataan
yang harus diraih.

Kalau China dalam masa 18 tahun sejak Deng Xiaoping melancarkan
pembaruan bisa berkembang maju seperti sekarang, memang menjadi tidak
mengherankan. Sebab, baik yang namanya pemimpin maupun para pemikir di
negeri ini mampu menerjemahkan mimpi-mimpi mereka dalam bentuk visual
sehingga mampu dicerna rakyatnya.

Sungguh sangat mereka sadari bahwa manusia pada hakikatnya selalu
berpikir secara visual. Jutaan bahkan miliran pikiran yang bergerak
dalam otak manusia direfleksikan secara visual.

Disiplin profesi

Arah masa depan yang lebih jelas ingin dicapai itu membuat semua orang
di China menjadi hidup dalam kepastian. Itulah yang kemudian membuat
setiap orang menjadi berani dengan pilihan hidupnya.

Kedisiplinan terhadap profesi menjadi sangat terasa. Apa pun pekerjaan
yang dilakukan, entah itu menjadi polisi, dosen, pengusaha, atau
menjadi birokrat dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan penuh
kebanggaan. Penghargaan terhadap orang bukan diukur oleh materi yang
dimiliki, tetapi oleh karya yang dihasilkan.

Kebanggaan terhadap profesi itulah yang membuat setiap orang lalu
berusaha untuk melakukan yang terbaik di bidangnya. Ketika setiap
orang secara bersama-sama melakukan hal itu, tidak usah heran apabila
hasilnya menjadi signifikan dan membawa kemajuan. Perbuatan baik yang
dilakukan 1,3 miliar orang niscaya akan memberi kemajuan bagi seluruh
negeri.

Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof
Komaruddin Hidayat merasakan kedisiplinan masyarakat China dalam
menjalankan profesinya.

Kalau kita coba bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia,
Komaruddin menangkap keadaan yang sebaliknya. Di Indonesia orang
cenderung untuk "lompat profesi".

"Coba saja lihat ada penyanyi yang baik lalu mencoba pindah menjadi
pemain sinetron. Ada dosen yang bukan menekuni bidang ilmunya, tetapi
malah ingin menjadi birokrat. Ada pengusaha yang mau menjadi
politisi," kata Komaruddin.

Dengan kondisi seperti itu, memang tidak keliru apabila kita menjadi
bangsa yang tidak pernah memiliki keahlian khusus. Bahkan, ada semacam
joke yang mengatakan, "Bangsa Indonesia mampu melakukan apa saja,
kecuali apa yang menjadi tanggung jawabnya." Sebuah satire yang terasa
ironis.

Belajar ke China

Tidak salah apabila memang kita diajarkan untuk tidak perlu ragu
kalaupun harus belajar ke China. Negeri dengan sejarah panjang 3.000
tahun itu telah melewati pasang surut yang luar biasa. Dari pengalaman
sejarahnya itulah kemudian bangsa China berupaya untuk maju.

Salah satu kekuatan yang lain dari mereka adalah kemampuan untuk
memahami sesuatu dengan sangat detail. Dengan sense of details, bangsa
itu mampu memahami apa pun dengan rinci.

Kunjungan Wapres ke Beijing Municipality Planning Exhibition lagi-lagi
menunjukkan kondisi itu. Bagaimana detail kota Beijing seluas 300
kilometer persegi bisa diterjemahkan dalam maket kota yang
sesungguhnya di sebuah lantai bagian dari gedung tempat ekshibisi itu.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto kagum terhadap maket kota yang
dibuat. Menurut dia, semua ini bisa dilakukan karena adanya kebijakan
kota yang sangat jelas.

"Pembangunan kota tidak akan pernah bisa berjalan baik apabila
keputusan dari kepala daerah selalu berubah," kata Djoko Kirmanto.

Pembangunan akan berjalan baik apabila ada arah kebijakan yang
bersifat jangka panjang. Dan, arah itu bukan hanya sekadar diucapkan,
tetapi juga divisualkan sehingga setiap orang bisa mengerti akan arah
yang dituju pembangunan jangka panjang itu.



Kirim email ke