Mas Andi itu lupa membandingkan, bhw kondisi alam Indonesia jauh lebih kaya 
dr yg di Sahara itu, sehingga beda keadaan kita jadi  amat tipis dgn 
membandingkan potensi kita dgn mereka .

Begitupun pembangunan oleh Harto yg di banggakan  nya itu, jauh lebih 
rendah dgn hasil negara tetangga Asean kita yang mengeluarkan ongkos sama ( 
kata Sumitro . nggak efisien sampai 30 persen).

Dan yang juga penting.. kalau kita menilai asset kita di tahun 66  (saat 
Harto naik)  dgn tahun 98 ( sata  Harto turun ), akan kita lihat.. asset 
kita berupa hutan, hsl tambag, kesuburan tanah dll  berkurnag banyak, 
sedang tambahan asset berupa prasarana  walau ada  sudah jebol semua. 
Dinilai dari hutang,  hutang kita dalam nilai nominal yang tadinya kecil 
jadi gede. Kalau nilai manusia nya.. ya mapun bobroknya peninggalan jaman 
Harto itu, maunya untung sendiri dgn mengorbankan rakyat banyak.

Makanya dgn nilai pencapaian spt banyaknya angka kematian Ibu, trtendahnya 
kkonsumsi susu, daging, tingginya TBC, tingginya kematian bayi.. dibanding 
potensi sesungguhnya dati Indonesia yg sebenarnya tadinya kaya, nggak ada 
gurun pasir .., ya wajarlah. kalau kota sati ini mirip negara termiskin di 
dunia.


Bukan utk diratapi.. tapi utk diperbaiki..



At 04:32 PM 08-06-07, you wrote:

>Pakkk Si-Andi Yg Terkasih..
>
>Hehe..trimakasih atas penuturannya yahh..
>Bila kita mau berbesar hati utk menilik lebih jauh predikat pencapaian
>HDI Indonesia sbg "medium-level of HDI", kita harus bisa mengakui
>ternyata, "Indonesia the Beautiful" ini tidak berbeda jauh dgn
>negara-negara di kawasan Sub-Sahara Afrika yg berpredikat "low-level
>of HDI"...Kalau kita PUAS dgn predikat "medium-level of HDI", berarti
>kita dalam MASALAH BESAR!! Kalau memang Indonesia sekarang MASIH
>berpredikat "medium-level", berarti kita masih tidak jauh-jauh amat
>dgn negara-negara Sub-Sahara Afrika! Wong bedanya cmn satu level kok!
>Berarti tidak jauh-jauh amat khn???
>
>Kalau memang "Indonesia the Beautiful" telah berpredikat "HIGH-LEVEL
>OF HDI", BARUUUUUU kita menyatakan, Indonesia berbeda jauh dgn
>negara-negara Sub-Sahara Afrika, karena bedanya 2 level! Iya toh??
>
>Mari kita bandingkan pencapaian HDI kita dgn VIETNAM!!
>Beberapa tahun terakhir ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Vietnam
>melampaui Indonesia (dalam Kompas, 30/5/2007, "Berbagai Tantangan,
>Berbagai Upaya", Maria Hartiningsih)...
>
>Kita tilik lebih jauh lagi, apa sih artinya pencapaian Indonesia yg
>berpredikat "middle-level of HDI" itu? Indonesia memegang urutan 110
>dari 171 negara yg disurvei UNDP dalam HDR tahun 2005. Apa artinya
>urutan 110 itu? Artinya, angka kematian ibu di Indonesia masih
>tertinggi di Asia Tenggara, yaitu: 307 per 100.000 kelahiran hidup.
>Angka partisipasi sekolah menengah pertama dalam kelompok masyarakat
>berpendapatan terendah hanya mencapai 70% dari angka nasional yang
>mencapai 81%. Akses masyarakat miskin kepada air bersih masih sangat
>rendah, yaitu 52 persen, dan 44% lainnya tanpa sanitasi yang layak.
>Semua ini membuat HDI Indonesia berada di urutan 110 dari 171 negara
>(Kompas, 30/5/2007).....Bayangkan Pak Andi, di negeri "Indonesia the
>Beautiful" yg kita tinggali ini, angka-angka rendahnya taraf hidup
>masyarakat menjadi suatu keniscayaan, setidaknya menurut UNDP!!
>
>Salam,
>
>Patrick Hutapea

Kirim email ke