Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand saja sudah secara lisan serius
mengindikasikan hasratnya untuk membangun tenaga nuklir.dimasa datang, cepat
atau lambat. Setelah ketinggalan dalam banyak segi, apa kita mau jadi bangsa
ketinggalan lagi dalam teknologi penting ini? India yang secara geografis
sangat dekat dengan wilayah Indonesia (terutama dengan wilayah Aceh dan
Sumut) malah sudah mempunyai senjata nuklir (bukan hanya nuklir untuk
listrik!!!!!) tapi anehnya sangat minim orang kita melancarkan protes
jalanan terhadap proyek nuklir India. Padahal ada apa-apa yang diluar
perkiraan itu rudal India bisa melenceng ke wilayah kita terutama jika
mereka bisa berhasil memperluas lagi radius jelajah rudalnya dimasa depan.

Anggapan bahwa negara kita sudah punya cukup sumber energy alam adalah
keliru besar. Sebagai negara luas dengan populasi penduduknya terpadat
keempat didunia Indonesia harus bisa memastikan bahwa dia punya sumber
energi yang cukup untuk sekarang, besok dan masa depan (dengan anggapan
Indonesia masih berdiri puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun kedepan).
Setiap krisis energy yang melanda negeri ini akan menyebabkan kekisruhan
besar yang memakan waktu lama untuk pulih. Energi yang ada dialam kita ini
masih ada dalam hitungan prediksi diatas kertas yang belum tentu sesuai
dengan kenyataanya dan belum tentu bisa diefisiensikan dan diefektifkan
pemanfaatannya. Jangan jauh-jauh, semua reserve minyak bumi Indonesia yang
ada sekarang ini pun masih dalam bentuk perkiraan kasar, kenyataannya bisa
jauh berbeda.

Pada dasarnya kita harus mengoptimalkan sejak dini segala kemampuan kita
dalam mengkaji segala alternatif energy yang bisa dicapai, tinggal
pemanfaatannya tergantung yang mana yang sesuai situasi kondisi. Kalau
segalanya sudah punya maka enak tinggal pilih karena semua pilihan telah
tersedia dan kepakaran dibidang yang kita pilih sudah cukup. Jangan sampai
terjadidi masa depan bahwa  kita baru mulai belajar mengembangkan teknologi
setelah keadaan mendesak. Itu akan menyebabkan biaya mahal dan rugi waktu.

Negara-negara besar berpenduduk banyak pun sudah semua punya proyek PLTN.
Lihatlah Cina, India, Pakistan, USA, Rusia dlsb.Masalahnya kan apakah
instalasi listrik nuklir itu mau dikembangkan lebih lanjut atau dibatasi
sampai berapa buah, bukan menutupnya semua.Tapi paling tidak mereka sudah
punya cukup pengalaman dalam mengolahnya dan menguasi teknologinya.

Saya percaya seedan-edannya manusia Indonesia mereka tidak akan main-main
dengan teknologi yang bernama nuklir. Oleh sebab itu selagi proyek nuklir
ini serius dengan perancangan yang benar dan melibatkan pengawasan badan
tenaga nuklir internasional serta atas persetujuan wakil-wakil rakyat dan
pemerintah maka go ahead and good luck.
SH

6/18/07, Samsidar Situmorang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Ikut urun rembug Mas,
>
> Ngomong-ngomong soal PLTN, saya jadi ingat soal demo PLTN di Kudus
> yang dimuat fotonya di halaman 1 minggu lalu (13 Juni 2007) dan beritanya
> juga.
> saya jadi ingat karena saat itu koran nasional rame-rame memuat aksi demo
> tersebut.
> Nah, inside story dibalik peristiwa tersebut yang tidak diketahui oleh
> teman-teman lain
> diluar kudus, bahwa aksi tersebut dikemas seakan-akan dilakukan oleh
> masyarakat murni.
> padahal fakta dilapangan berkata lain, mengapa? aroma keterlibatan
> perusahaan
> besar Kudus sangat kental terasa dalam penolakan ini.
> bahkan seorang teman di kudus mengatakan jika semua kegiatan ini didanai
> oleh pihak ketiga
> Pertanyaannya ada apa dibalik itu? tentu tidak mungkin bila dilakukan
> tanpa embel-embel lain
> (kepentingan lain).
> menurut saya semua wartawan di Kudus dan Muria pasti tahu soal ini, namun
> yang luput
> mengapa motifnya tidak digali? ini tentu akan menarik bila disajikan
> sebagai liputan.
> wassalam,

Kirim email ke