Anomali terhadap Terorisme

Oleh Tjipta Lesmana

Masyarakat kita tampaknya mempunyai sikap yang beragam terhadap
keberhasilan polisi, khususnya Detasemen Khusus 88 atau Densus 88
dalam menggulung kelompok teroris selama 10 hari terakhir. Sebagian
besar menutup mulut. Pers pun menyiarkan apa adanya berdasar sumber
resmi dari Polri, no comments at all. Mungkin takut jika memberi
komentar yang ternyata keliru.

Hal ini berbeda, misalnya, dengan tanggapan masyarakat, khususnya
lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), terhadap insiden berdarah di
Pasuruan yang menewaskan empat penduduk. Dengan "lincah" kelompok
tertentu mengembangkan teori dan asumsinya untuk menghantam TNI,
terutama Marinir.

Reformasi kebablasan

Hingga hari ini, terorisme masih digolongkan isu sensitif di negeri
kita, isu yang kerap dapat membangkitkan amarah kelompok-kelompok
tertentu. Meski pemerintah dan aparat keamanan-termasuk
intelijen-berulang kali menegaskan, terorisme sama sekali tidak
terkait dengan agama atau pemeluk agama tertentu, toh masih ada saja
pihak-pihak yang tersinggung karena merasa disudutkan.

Bahkan, beberapa tahun lalu seorang pemimpin negara kita dengan
lantang berucap, di Indonesia tidak ada teroris. "Kalau ada teroris,
saya orang pertama yang akan menangkapnya!" Pemimpin lainnya mengecam
tudingan beberapa negara bahwa Indonesia sarang teroris. Namun,
setelah Bali diguncang serangan teroris hingga dua kali dan menewaskan
banyak orang tidak berdosa dan menghancurkan perekonomian Bali, semua
tercengang. Kedua pemimpin bangsa kita pun bungkam. Fakta telanjang
membuktikan, ada teroris di negeri ini bahkan mereka sudah mampu
melancarkan serangan mematikan (deadly assault) di mana-mana.

Inilah salah satu dampak negatif reformasi yang kebablasan, yaitu
orang seolah boleh berbicara apa saja dengan nada sekeras apa pun,
tanpa memikirkan lagi komplikasi dari ucapannya terhadap kehidupan
masyarakat.

Reformasi kebablasan juga berakibat orang Indonesia kerap hidup bak
katak dalam tempurung. Mereka, umumnya, bersikap No sabe que no sabe
que no sabe (Tidak tahu terhadap suatu permasalahan tetapi tidak sadar
bahwa dia sebetulnya tidak tahu). Orang-orang seperti ini, menurut si
bijak yang menciptakan untaian kata mutiara ini, harus dienyahkan dari
masyarakat (huje de el!). Misalnya, ada warga negara Indonesia yang
ditangkap di Filipina, lalu dijebloskan ke penjara karena dituduh
terlibat aksi-aksi terorisme.

Reaksi miring

Begitu mendengar tuduhan negara jiran, sementara pihak di Indonesia
serta-merta marah dan menuding aparat intelijen Filipina memfitnah dan
menghina pemeluk agama tertentu di negeri kita. Faktanya, yang
ditangkap itu memang teroris dan berkolaborasi dengan teroris-teroris
lokal dalam upaya menumbangkan pemerintahan sah di Manila.

Contoh lain, sudah sejak 5-6 tahun lalu pihak luar mengingatkan
Indonesia tentang jaringan terorisme yang dilancarkan organisasi
Jemaah Islamiyah (JI). Namun, kita marah dan berkilah. Di Indonesia
tidak ada JI. Tetapi, setelah satu per satu aktivis terorisme
ditangkap dan diperiksa polisi, tirai mengenai kegiatan JI di dalam
negeri kian jelas.

Keberhasilan Densus 88 beberapa hari lalu menangkap Abu Dujana dan
Zarkasih alias Abu Irsad, dua tokoh penting JI, juga mengundang reaksi
miring dari pihak tertentu. Tidak kurang dari Ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengkritik dan mengecam Polri agar jangan
menciptakan teror baru. Seolah-olah apa yang dilakukan operasi Densus
88 hanya menciptakan ketakutan dahsyat di masyarakat (teror baru).

Pernyataan Ketua MPR seperti ini benar-benar memprihatinkan; bahkan
bisa mengundang kesan dia proteroris. Yang lucu, saat polisi melakukan
penangkapan terhadap seorang penduduk yang dicurigai terkait
terorisme, muncul aksi demo yang keras. Mereka mengecam polisi yang
dituduh bertindak sewenang-wenang. Seorang warga negara asing bertanya
setelah menyaksikan tayangan di layar televisi: "What are they
shouting for?" Polisi mengejar dan mengobrak-abrik terorisme, mengapa
ada sebagian penduduk yang marah dan mencaci-maki polisi?

Anomali

Rupanya, bangsa Indonesia bersikap anomali terhadap terorisme. Sejauh
ini tidak ada satu pihak pun-apalagi politisi dan LSM-yang memberi
apresiasi kepada Polri atas keberhasilannya menggulung beberapa
kelompok teroris. Sebaliknya, polisi malah dicurigai macam-macam,
seperti hanya untuk cari muka atau gebrakannya tidak lebih untuk
menutupi kelemahan pemerintah di bidang lain.

Masyarakat kita memang sedang sakit. Jika ada bom meledak, menewaskan
puluhan manusia tidak berdosa, aparat keamanan-termasuk aparat
intelijen-dikecam habis-habisan. Mereka dituduh "tidur", kecolongan,
atau tidak profesional. Namun, jika pihak keamanan berhasil menangkap
gembong teroris, tidak ada yang memberi komentar, apalagi apresiasi.

Rupanya, sebagian masyarakat masih percaya, terorisme hanya
akal-akalan atau rekayasa negara tertentu untuk menekan kita. Padahal,
hasil pemeriksaan terhadap sejumlah teroris yang ditangkap
menunjukkan, gerakan mereka sama sekali tidak terkait negara tertentu.
Mereka murni berjuang karena keyakinan ideologinya.

Dalam alam demokrasi, siapa pun, kelompok mana pun, dibenarkan untuk
memperjuangkan aspirasinya. Namun, jika perjuangan itu bertabrakan
dengan ketentuan perundang-undangan, apalagi disertai aksi teror dan
ancaman serangan bom, negara mana pun tidak bisa memberi toleransi.
Sebenarnya, terorisme dapat menenggelamkan kapal raksasa yang bernama
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, harus dilawan
habis-habisan oleh seluruh bangsa, khususnya aparat keamanan.

Tjipta Lesmana Widyaiswara Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)

Kirim email ke