Intinya, pemerintah atau anggota DPR atau ketua MPR atau tokoh2 partai, cuma cari sensasi dan cari muka biar bisa dapat manfaat sesuatu dari publik.... Keliatan banget kok!
Asal cuap, asal ngomong, asal komentar, eh.. masih pake mengatasnamakan lagi... parah banget kan tuh! Saya msh saja bertanya2, apa sih sebenernya tujuan teroris itu ngacak2 RI ya? Soalnya saya lihat kok ada semacam kesamaan dgn beberapa golongan di Indonesia, yg ingin menegakkan lagi Piagam Jakarta atau membuat negara ini berdasarkan pada SI.... sebenarnya ada apa ini? ada apa? salam bingung, totot ----- Original Message ----- From: "Tri Handoko Seto" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, June 20, 2007 9:01 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Anomali terhadap Terorisme gemana neh.... pas marinir nembak rakyat kita serang rame2, giliran polisi berhasil menangkap teroris kok tidak kita puji rame? apakah karena keberhasilan aparat adalah sebuah kewajaran? tapi kok malah ketua mpr ikut2an ngurusi penembakan kaki seorang gembong teroris? temen bilang: kalau gak mau ditembak kakinya ya jangan jadi teroris, mending jual pecel lele heheeee.... http://kompas.com/kompas-cetak/0706/19/opini/3618811.htm Selasa, 19 Juni 2007 Anomali terhadap Terorisme Reformasi kebablasan Hingga hari ini, terorisme masih digolongkan isu sensitif di negeri kita, isu yang kerap dapat membangkitkan amarah kelompok-kelompok tertentu. Meski pemerintah dan aparat keamanan—termasuk intelijen—berulang kali menegaskan, terorisme sama sekali tidak terkait dengan agama atau pemeluk agama tertentu, toh masih ada saja pihak-pihak yang tersinggung karena merasa disudutkan. Bahkan, beberapa tahun lalu seorang pemimpin negara kita dengan lantang berucap, di Indonesia tidak ada teroris. "Kalau ada teroris, saya orang pertama yang akan menangkapnya!" Pemimpin lainnya mengecam tudingan beberapa negara bahwa Indonesia sarang teroris. Namun, setelah Bali diguncang serangan teroris hingga dua kali dan menewaskan banyak orang tidak berdosa dan menghancurkan perekonomian Bali, semua tercengang. Kedua pemimpin bangsa kita pun bungkam. Fakta telanjang membuktikan, ada teroris di negeri ini bahkan mereka sudah mampu melancarkan serangan mematikan (deadly assault) di mana-mana. Inilah salah satu dampak negatif reformasi yang kebablasan, yaitu orang seolah boleh berbicara apa saja dengan nada sekeras apa pun, tanpa memikirkan lagi komplikasi dari ucapannya terhadap kehidupan masyarakat. Reaksi miring Begitu mendengar tuduhan negara jiran, sementara pihak di Indonesia serta-merta marah dan menuding aparat intelijen Filipina memfitnah dan menghina pemeluk agama tertentu di negeri kita. Faktanya, yang ditangkap itu memang teroris dan berkolaborasi dengan teroris-teroris lokal dalam upaya menumbangkan pemerintahan sah di Manila. Contoh lain, sudah sejak 5-6 tahun lalu pihak luar mengingatkan Indonesia tentang jaringan terorisme yang dilancarkan organisasi Jemaah Islamiyah (JI). Namun, kita marah dan berkilah. Di Indonesia tidak ada JI. Tetapi, setelah satu per satu aktivis terorisme ditangkap dan diperiksa polisi, tirai mengenai kegiatan JI di dalam negeri kian jelas. Keberhasilan Densus 88 beberapa hari lalu menangkap Abu Dujana dan Zarkasih alias Abu Irsad, dua tokoh penting JI, juga mengundang reaksi miring dari pihak tertentu. Tidak kurang dari Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengkritik dan mengecam Polri agar jangan menciptakan teror baru. Seolah-olah apa yang dilakukan operasi Densus 88 hanya menciptakan ketakutan dahsyat di masyarakat (teror baru). Pernyataan Ketua MPR seperti ini benar-benar memprihatinkan; bahkan bisa mengundang kesan dia proteroris. Yang lucu, saat polisi melakukan penangkapan terhadap seorang penduduk yang dicurigai terkait terorisme, muncul aksi demo yang keras. Mereka mengecam polisi yang dituduh bertindak sewenang-wenang. Seorang warga negara asing bertanya setelah menyaksikan tayangan di layar televisi: "What are they shouting for?" Polisi mengejar dan mengobrak-abrik terorisme, mengapa ada sebagian penduduk yang marah dan mencaci-maki polisi? ===================================================== Pojok Milis Komunitas FPK: 1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
