Dear Ibu Mariana,

Saya sependapat dengan ibu. Saya juga ingin tambahkan sedikit saja, boleh
ya bu..? definisi 'kelas' pada konteks ini tidak semata-mata dari aspek
ekonomi saja, tetapi juga aspek sosial yang lain, misalnya pendidikan.
Banyak perempuan Indonesia yang kini 'berpendidikan' tetapi tetap saja
realitasnya ketika harus terjun ke dunia kerja harus terperangkap pada
pilihan-pilihan pragmatis yang sulit dihindari, alasan yang paling
sederhana adalah bagaimana melanjutkan hidup, apalagi bagi mereka yang
punya keluarga. Perempuan berpendidikan yang lain, juga banyak lho yang
dengan rendah hati menyembunyikan sifat maskulinitas mereka, dan
mentransformasikan jiwa struggle itu ke dalam bentuk-bentuk feminin. Kalau
di kelas bawah (perempuan miskin)bukan berarti mereka gak punya kecerdasan
sosial lho ya..mereka berbagi solidaritas juga dengan berbagi risorsis
ekonomi,bahkan di daerah2 konflik agensi kaum perempuanlah yang paling
berperanan untuk meredam konflik, misalnya ketika belanja di pasar, mereka
saling berinteraksi. Perempuan lain yang mentransformasi jiwa maskulin ke
dalam bentuk feminin, seringkali juga difasilitasi lewat teknologi,
misalnya bagaimana banyak database di internet justru banyak dirawat oleh
kaum perempuan lhooo.... Mereka jauh lebih rendah hati dan tidak
terpancing sekedar berkompetisi. Jadi, yah..spektrumnya meman luas. Itu
dulu Bu Mariana, sekedar support untuk anda dan Pak Bambang ya..

salam takzim dari yogya

tia


> Pak Bambang,
>
> Kalau saya memang sengaja tidak menghitung ibu rumah tangga kelas
> atas, karena jumlah mereka sedikit sekali. Saya membayangkan ibu-ibu
> yang di kampung dan pelosok yang jumlahnya lebih banyak, (bayangkan
> dalam kepulauan indonesia ini, tersebar perempuan, dari sabang sampai
> merauke, dan potret yang kita dapat lebih pada kemiskinan).
>
> Mungkin selama ini kita terjebak pada iklan, industri yang
> mengkonstruksi 'perempuan indonesia=perempuan mapan'. Ditambah
> infotainment, hiburan dll, sehingga kita lupa dengan keadaan
> sebenarnya.
>
> Ibu-ibu kelas atas juga tidak hanya shopping, itu sangat stereotip,
> tapi banyak juga yang terjun ke aktivitas sosial,
> menjadi volenteer, menjadi donatur untuk kegiatan sosial, membantu
> masyarakat dll.
>
> Catatan, untuk perempuan pekerja, kebanyakan mereka sekaligus menjadi
> ibu rumah tangga, mengasuh anak dan mengurus suami, jadi beban ganda,
> artinya jam kerjanya bisa 21 jam.
>
> Mariana

Kirim email ke